Aturan Baru Ubah Risiko Usaha Pertashop, Investor Daerah Kena ImbasSaat Erupsi Anak Krakatau Mengusik Aktivitas Ekonomi, Sosial, dan Pendidikan
Dengan demikian, kapasitas yang sudah terpasang baru sekitar 11,6 persen dari total potensi yang tercatat pemerintah.
Angka tersebut menunjukkan masih terdapat ruang pengembangan yang sangat besar. Namun potensi bukan berarti seluruhnya bisa langsung berubah menjadi pembangkit.
Proyek panas bumi membutuhkan eksplorasi, investasi, pembangunan pembangkit, jaringan transmisi, kepastian tarif, hingga kontrak jual beli listrik.
Karena itu, tantangan PGEO bukan hanya menemukan sumber panas bumi. Tantangan lainnya adalah mengubah sumber daya tersebut menjadi listrik yang bisa diproduksi secara ekonomis dan diserap pasar.
Masalah Berikutnya Ada di Harga
Di sinilah cerita panas bumi menjadi lebih rumit.
Data International Renewable Energy Agencymenunjukkan biaya listrik rata-rata tertimbang global atau levelized cost of electricitypembangkit panas bumi yang mulai beroperasi pada 2024 berada di sekitar USD0,060 per kilowatt-jam atau sekitar Rp1.074 per kilowatt-jam dengan asumsi kurs Rp17.900 per USD.
Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan LCOE pembangkit listrik tenaga surya yang berada di sekitar USD0,043 per kilowatt-jam atau sekitar Rp770 per kilowatt-jam, serta tenaga angin darat sekitar USD0,034 per kilowatt-jam atau sekitar Rp609 per kilowatt-jam.
Untuk Indonesia, tantangannya bahkan bisa lebih besar. IRENA mencatat LCOE proyek panas bumi Indonesia pada 2024 dapat mencapai sekitar USD0,090 per kilowatt-jam atau sekitar Rp1.611 per kilowatt-jam.
Jadi, kalau hanya bicara harga listrik per kilowatt-jam, panas bumi bukan juaranya.
Namun persoalannya memang tidak sesederhana mencari sumber listrik dengan harga paling rendah. Pusat data membutuhkan pasokan yang andal.
Karena itu, sumber listrik yang lebih murah tetapi bersifat intermiten tetap membutuhkan jaringan, penyimpanan energi, atau sumber pembangkit lain untuk memastikan listrik tersedia ketika dibutuhkan.
Nilai ekonomi panas bumi justru muncul dari kemampuan tersebut. Pembangkit panas bumi dapat beroperasi secara kontinu sehingga berpotensi menjadi bagian dari kombinasi pasokan listrik bersih yang dibutuhkan pusat data.
Bahwa perusahaan teknologi membutuhkan listrik bersih bukan sekadar asumsi. Microsoft, misalnya, pada 2026 mengungkapkan kemitraan dengan PLN yang mendukung penyaluran 200 MW energi terbarukan untuk operasinya di Indonesia.
Perusahaan tersebut juga mengembangkan Indonesia Central, kawasan cloud region yang dirancang untuk kebutuhan komputasi awan dan AI.
Di tingkat global, pergerakan perusahaan teknologi menuju listrik bersih yang tersedia sepanjang waktu juga semakin terlihat.
Pada September 2026, Fervo Energy menandatangani perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement dengan Google untuk memasok 396 MW energi panas bumi.
Kesepakatan tersebut dirancang untuk menyediakan listrik bebas karbon sepanjang waktu bagi kebutuhan pusat data Google di Amerika Serikat.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa perusahaan teknologi mulai mencari sesuatu yang lebih spesifik daripada sekadar listrik hijau.
Mereka membutuhkan apa yang dalam industri energi disebut clean firm power, yakni listrik rendah karbon yang tetap tersedia ketika dibutuhkan.
Model seperti ini menjadi relevan bagi PGEO ketika perusahaan mulai mengkaji pengembangan green data center berbasis panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat.
Jadi, apakah panas bumi bisa menjadi andalan data center Indonesia?
Peluangnya jelas ada, tetapi pertarungannya bukan hanya soal siapa yang punya sumber energi paling hijau.
Indonesia memiliki kebutuhan daya data center yang diproyeksikan meningkat dari sekitar 1.098 MW pada 2025 menjadi hampir 4.700 MW pada 2030.
Pada saat yang sama, Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23,2 GW dengan kapasitas terpasang yang baru mencapai sekitar 2,8 GW.
Di atas kertas, kombinasi keduanya terlihat seperti pasangan yang cocok. Namun ada pekerjaan rumah yang tidak kecil.
Biaya pembangkitan panas bumi di Indonesia masih relatif tinggi, sementara proyek data center membutuhkan jaringan listrik yang kuat, kepastian pasokan, tarif kompetitif, serta kontrak jangka panjang yang memberikan kepastian bagi kedua pihak.
Karena itu, strategi PGEO masuk ke pasar data center pada akhirnya bukan hanya pertarungan mencari pelanggan baru.
Ini juga merupakan ujian apakah panas bumi Indonesia mampu mengubah keunggulan teknisnya sebagai listrik baseload menjadi keunggulan ekonomi di tengah perlombaan membangun infrastruktur AI.
Jika berhasil, pusat data bisa menjadi salah satu pasar baru yang membantu menyerap potensi panas bumi Indonesia yang selama ini belum sepenuhnya termanfaatkan.
Tetapi jika persoalan biaya, jaringan, tarif, dan regulasi tidak ikut dibereskan, listrik hijau 24 jam tersebut berisiko tetap lebih menarik sebagai konsep daripada sebagai kontrak bisnis.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.