The Fed Terjepit Desakan Trump dan Data Tenaga Kerja AS, Akankah Suku Bunga Naik?Data Impor Asia Ungkap Arus Minyak Timur Tengah belum Normal
Di sinilah persoalan proyek menjadi lebih sensitif.
Penelitian UGM yang dilakukan sepanjang Maret-November 2025 memetakan karakteristik air tanah di lereng timur Gunung Ungaran dengan mengambil sampel dari sumur gali dan mata air di Ungaran Barat, Ungaran Timur, dan Bergas.
Hasil analisis menunjukkan sebagian besar sampel air tanah termasuk tipe Ca-HCO₃ dan Ca-Mg-HCO₃, yang menunjukkan air tersebut berasal dari proses imbuhan air hujan atau meteoritik yang kemudian berinteraksi dengan mineral vulkanik.
Temuan tersebut penting karena memperlihatkan bahwa sistem air di lereng Gunung Ungaran sangat berkaitan dengan proses hidrologi kawasan vulkanik.
Air hujan yang masuk ke dalam tanah tidak berhenti di permukaan. Air tersebut meresap, berinteraksi dengan batuan, kemudian bergerak melalui sistem akuifer sebelum muncul kembali melalui sumur maupun mata air.
Karena itu, pengeboran menuju reservoir panas bumi harus memperhitungkan sistem air yang sudah lebih dulu ada di kawasan tersebut.
Persoalannya bukan berarti pengeboran panas bumi otomatis akan merusak sumber air. Belum ada data yang membuktikan hal tersebut.
Tetapi justru karena terdapat sistem akuifer yang aktif dan dimanfaatkan masyarakat, hubungan antara reservoir panas bumi dan air tanah perlu dipastikan melalui kajian hidrogeologi yang memadai.
Panas Bumi dan Air Tanah Memang Saling Bersinggungan?
Sejumlah penelitian sebelumnya memberikan petunjuk bahwa sistem hidrogeologi dan panas bumi di Gunung Ungaran memiliki hubungan yang kompleks.
Kajian hidrogeokimia terhadap kawasan Gedongsongo menempatkan wilayah tersebut sebagai bagian penting dari sistem panas bumi Gunung Ungaran.
Penelitian tersebut menemukan berbagai manifestasi panas bumi seperti mata air panas, mata air hangat, kolam panas, batuan alterasi dan fumarol.
Penelitian lain juga menunjukkan adanya indikasi pencampuran fluida geothermal dengan air tanah dangkal di kawasan Gedongsongo.
Namun temuan tersebut tidak dapat diterjemahkan secara sederhana sebagai bukti bahwa kegiatan pengeboran akan mencemari atau menghilangkan sumber air masyarakat.
Yang bisa dikatakan adalah sistem bawah permukaan Gunung Ungaran cukup kompleks sehingga hubungan antara air tanah, batuan, dan fluida panas bumi perlu dipetakan secara hati-hati sebelum pengeboran dilakukan.
Hal ini sejalan dengan posisi pemerintah. Kementerian ESDM menegaskan pengembangan PLTP Gunung Ungaran masih berada pada tahap eksplorasi dan studi kelayakan.
Setiap tahapan harus didasarkan pada kajian teknis, aspek lingkungan, perizinan, serta pertimbangan sosial masyarakat.
Bahkan penentuan lokasi sumur nantinya tidak harus tepat berada di atas sumber panas. ESDM menyebut teknologi directional drilling memungkinkan pengeboran diarahkan dari titik tertentu menuju target reservoir di bawah permukaan.
Dengan demikian, proyek Gunung Ungaran menghadapi dua pembuktian sekaligus. Pertama adalah pembuktian energi.
Pemerintah dan PLN harus memastikan reservoir yang secara geokimia diperkirakan memiliki temperatur hingga sekitar 260 derajat Celsius benar-benar mampu menyediakan sumber daya yang layak untuk pembangkitan.
Kedua adalah pembuktian lingkungan. Pengembang harus menunjukkan bahwa kegiatan eksplorasi dan pengembangan tidak mengganggu sistem air tanah, mata air, kawasan pertanian, maupun lingkungan sosial di sekitarnya.
Nilai investasinya membuat pembuktian tersebut menjadi semakin penting. Sebab USD300 juta atau sekitar Rp5,37 triliun bukan angka kecil untuk proyek yang keberhasilan reservoirnya sendiri masih harus dibuktikan melalui pengeboran.
Pemerintah Jawa Tengah sendiri menyebut rangkaian perizinan berlangsung hingga 2029, sementara pengeboran prospek direncanakan sekitar akhir 2028 atau awal 2029.
Jika hasil eksplorasi menunjukkan panas bumi yang memadai dan seluruh tahapan dapat dilalui, proyek ditargetkan mencapai commercial operation date pada 2031.
Pada akhirnya, keberhasilan PLTP Gunung Ungaran tidak cukup diukur dari berapa megawatt listrik yang nanti masuk ke jaringan.
Proyek ini juga akan menjadi ujian apakah Indonesia mampu mengambil panas dari kedalaman bumi untuk kebutuhan energi tanpa mengorbankan sistem air dan lingkungan yang berada tepat di atasnya.
Sebab yang hendak dibuktikan di Gunung Ungaran bukan cuma apakah bumi menyimpan panas, tetapi apakah panas tersebut bisa diambil dengan aman, layak secara ekonomi, dan tetap berdampingan dengan kehidupan masyarakat di permukaannya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.