Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Brent Melonjak 2,7 Persen

Kenaikan tajam ini disebabkan oleh memanasnya konflik antara Amerika Serikatdan Iran yang memicu kekhawatiran tentang pasokan global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup naik 2,71 persen menjadi USD90,49 per barel. Sementara Minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup di level USD91,52 atau meningkat 2,83 persen.

Sebagai informasi, harga minyak Brent sempat mencapai level USD91,52 selama sesi perdagangan kemarin. Angka ini merupakan level tertinggi sejak 25 Agustus 2026.

Presiden AS, Donald Trump berjanji akan melancarkan balasan setelah Iran meluncurkan rudal ke pangkalan udara AS di Yordania sebagai tanggapan atas serangan terhadap Pulau Larak di Iran .

“Kita akan menyerang mereka dengan keras, akan ada balasannya,” kata Trump seperti dikutip oleh seorang reporter Fox News kepada saluran tersebut.

Mengutip Reuters, pada Minggu, 30 Agustus 2026 dalam unggahan di media sosial, Trump mengatakan bahwa pusat energi Iran di Pulau Kharg telah hancur berkeping-keping. Akan tetapi tidak ada bukti bahwa pulau itu sedang diserang.

Unggahan tersebut, yang menyertakan video yang dihasilkan oleh AI, tidak memberikan detail lebih lanjut. Iran membantah bahwa pulau itu sedang diserang dan mengatakan operasi minyak terus berlanjut di sana.

Sehari setelahnya, Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan bahwa Trump mengirim pesan kepada Iran melalui unggahan tersebut.

Adapun para mediator berupaya mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang dilalui seperlima pasokan minyak global sebelum perang dimulai pada akhir Februari. Namun, kemajuan telah terhenti.

Data perkapalan menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi selat selama akhir pekan turun menjadi lima kapal per hari.

“Sebagian minyak mentah dari Teluk terus mengalir melalui selat tersebut, meredam kenaikan harga, tetapi pertukaran militer langsung pertama dalam sebulan telah memaksa para pedagang untuk membangun kembali premi pasokan jangka pendek yang signifikan,” tulis analis Gelber & Associates dalam sebuah catatan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC dalam sebuah wawancara pada hari Senin bahwa tujuan sanksi AS terhadap Iran adalah agar kedua belah pihak bisa melakukan pembicaraan.

“Untuk menciptakan kondisi agar mereka mau duduk di meja perundingan,” ujar dia.

Perlu diketahui, pada pekan lalu, stok minyak mentah di Cadangan Minyak Strategis AS mengalami penurunan  sekitar 3,1 juta barel menjadi 286,6 juta barel.

Data Impor Asia Ungkap Arus Minyak Timur Tengah belum Normal

Sebelumnya diberitakan, klaim bahwa arus minyak dari Timur Tengah mulai kembali normal setelah konflik Iran belum sepenuhnya mendapat dukungan dari data kedatangan minyak di Asia.

Impor minyak mentah kawasan tersebut pada Agustus masih jauh di bawah level sebelum konflik, membuka pertanyaan tentang seberapa banyak minyak yang sebenarnya berhasil keluar dari Timur Tengah.

Pengamat energi dari Reuters, Clyde Russell, mengutip data perusahaan analisis komoditas Kpler yang memperkirakan kedatangan minyak mentah ke Asia mencapai 23,12 juta barel per hari pada Agustus 2026.

Angka itu sedikit lebih rendah dibandingkan 23,36 juta barel per hari pada Juli.

Jika dibandingkan dengan rata-rata tiga bulan hingga akhir Februari, sebelum konflik pecah, volume tersebut masih terpaut hampir 4 juta barel per hari atau sekitar 14 persen.

Pada periode tersebut, rata-rata impor minyak mentah Asia mencapai 26,91 juta barel per hari.

“Impor Asia pada Agustus masih jauh di bawah level sebelum konflik Iran, sehingga menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai seberapa banyak minyak mentah yang sebenarnya keluar dari Timur Tengah,” tulis Russell dalam kolom Reuters Open Interest yang dilihat Ahad, 30 Agustus 2026.

Persoalan ini menjadi penting karena Asia merupakan kawasan pengimpor minyak terbesar dunia.

Jika ekspor minyak dari Timur Tengah memang sudah mendekati kondisi sebelum konflik, peningkatan pasokan semestinya mulai terlihat pada data kedatangan di negara-negara Asia.

Namun, data tersebut belum menunjukkan pemulihan sebesar yang diklaim pemerintah Amerika Serikat.

Menteri Energi AS Chris Wright sebelumnya mengatakan arus minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat.

Pada awal Agustus, Wright menyebut aliran minyak yang keluar melalui selat tersebut mencapai 9 juta barel per hari dalam periode tujuh hari yang tidak dirinci.

Jika pengiriman melalui Laut Merah dan Teluk Oman turut dihitung, total ekspor minyak dari Timur Tengah menurutnya mencapai sekitar 15 juta barel per hari.

Russell menilai masih terdapat jeda antara saat minyak dimuat di Timur Tengah dan ketika kargo tersebut tiba di pelabuhan Asia.

Namun, jika klaim mengenai pemulihan arus minyak itu benar, data impor seharusnya mulai memperlihatkan dampaknya.

“Ada jeda antara saat minyak mentah dimuat dan saat tiba di pelabuhan-pelabuhan di seluruh Asia, tetapi jika Wright benar bahwa hampir 15 juta barel per hari meninggalkan Timur Tengah, masuk akal untuk mengasumsikan bahwa pengiriman akan menunjukkan peningkatan,” tulis Russell.

Masalahnya, angka pelacakan kapal menunjukkan volume yang jauh lebih rendah. Kpler menggunakan data satelit dan sistem identifikasi otomatis kapal atau AIS untuk memantau pergerakan tanker minyak.

Pada pekan yang dimulai 3 Agustus, Kpler hanya mendeteksi sekitar 4,26 juta barel per hari minyak mentah keluar melalui Selat Hormuz.

Untuk keseluruhan Agustus, ekspor minyak mentah melalui selat tersebut tercatat rata-rata hanya 2,3 juta barel per hari.

Angka itu turun dari 4,49 juta barel per hari pada Juli dan terpaut sangat jauh dari rata-rata 15,82 juta barel per hari dalam tiga bulan sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

“Jumlah terbesar yang dapat dilihat Kpler keluar dari Selat Hormuz dalam satu pekan pada Agustus adalah 4,26 juta barel per hari dalam tujuh hari yang dimulai pada 3 Agustus,” tulis Russell.

Meski begitu, data tersebut belum bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa klaim Wright keliru. Jarak tempuh tanker dari Timur Tengah menuju sejumlah negara Asia memang membuat data kedatangan tertinggal dari data keberangkatan.

Jika benar sekitar 15 juta barel per hari minyak keluar dari Timur Tengah sejak awal Agustus, sebagian volumenya baru akan tercermin dalam data kedatangan Asia pada September.

Efek tersebut terutama berlaku untuk negara dengan waktu pelayaran lebih panjang seperti Jepang, Korea Selatan, dan China.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.