Konflik AS-Iran tak Tahan Laju Bursa Asia, Kospi Melonjak 3,17 Persen

Para investor mencermati dinamika ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda seiring aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks Kospi Korea Selatan memimpin lonjakan bursa regional dengan melesat 3,17 persen atau bertambah 211,82 poin ke level 6.899,03 saat pembukaan perdagangan, disikuti indeks saham skala kecil Kosdaq yang menguat 1,33 persen.

Penguatan juga terjadi di bursa saham Jepang. Indeks Nikkei 225 melonjak 1,95 persen atau menguat 1.267,53 poin ke posisi 66.288,47, sementara indeks Topix terangkat 0,55 persen.

Adapun indeks S&P/ASX 200 Australia bergerak relatif stabil dengan kenaikan tipis 0,27 persen di level 9.030,30.

Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 25.650,87 dan indeks Shanghai Tiongkok tercatat di posisi 3.930,11. Seluruh pasar saham di Amerika Serikat dipastikan tutup pada perdagangan hari ini karena libur nasional.

Lonjakan bursa saham regional tidak lepas dari manuver agresif investor yang memburu saham-saham berkapitalisasi raksasa

Di bursa Seoul, duo raksasa semikonduktor menjadi motor utama yang menerbangkan indeks Kospi hingga melampaui 3 persen.

Saham Samsung Electronics melonjak 4,2 persen, beriringan dengan SK Hynix yang melesat lebih tajam hingga 5,8 persen pada satu jam pertama perdagangan.

Sentimen perburuan cip ini turut menjalar ke Tokyo, di mana produsen peralatan penguji semikonduktor, Advantest, memimpin reli indeks Nikkei dengan lompatan impresif sebesar 3,7 persen.

Di waktu yang sama, saham raksasa pengecoran cip TSMC yang melantai di bursa Taiwan tercatat merangkak naik 2,9 persen.

Eskalasi Memanas, AS Serang Tiga Kapal Tanker Iran

Di sisi lain, memanasnya titik didih militer di Selat Hormuz memicu aksi borong masif pada sektor energi dan komoditas.

Di papan perdagangan Tokyo, saham perusahaan eksplorasi migas Inpex Corp meroket 6,5 persen, merespons langsung lonjakan harga minyak mentah global akibat terganggunya rantai pasok dan hancurnya armada tanker Iran.

Pemandangan serupa menghijaukan bursa Hong Kong saat raksasa migas Tiongkok, CNOOC dan PetroChina, kompak mencetak reli tajam masing-masing sebesar 4,8 persen dan 5,1 persen.

Sementara itu, di bursa Sydney yang secara umum bergerak stagnan, saham Woodside Energy justru tampil menonjol dengan penguatan 3,4 persen, menjadikannya penopang utama yang berhasil menahan indeks S&P/ASX 200 agar tidak terperosok ke zona merah.

Gejolak di Timur Tengah berlanjut setelah militer AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran di kawasan perairan vital sebagai balasan atas penembakan rudal balistik yang menargetkan kapal perang Amerika.

Pengetatan blokade dan risiko hambatan distribusi di Selat Hormuz ini mendorong harga minyak mentah jenis Brent melonjak tajam menembus kisaran USD96,28 per barel, yang turut memicu kekhawatiran baru terkait inflasi energi global.

Di tengah situasi yang semakin rumit tersebut, Menteri Energi AS Chris Wright mengisyaratkan bahwa perjanjian nuklir dengan Iran kemungkinan besar tidak akan terwujud dalam waktu dekat seiring fokus militer yang berubah.

“Mungkin tidak akan ada kesepakatan nuklir. Langkah ini bisa jadi sederhana, yaitu menghancurkan kemampuan mereka untuk membuatnya,” ujar Wright dalam wawancara di acara This Week produksi ABC News.

Wright menambahkan bahwa kepastian mengenai kesepakatan formal masih sangat spekulatif dan berpotensi tertunda hingga pergantian kepemimpinan politik di Teheran.

“Sebuah kesepakatan mungkin harus menunggu pemerintahan berikutnya di Iran. Kita tidak tahu pasti soal itu,” kata Wright menegaskan.

Mencegah Iran memperoleh senjata nuklir terus ditegaskan oleh Presiden Donald Trump sebagai tujuan utama kampanye militer AS di kawasan tersebut.

Namun di saat yang sama, Trump dikabarkan tetap berupaya mengejar peluang kesepakatan diplomatik terbatas dengan Teheran selama perang berlangsung guna meredam laju kenaikan harga energi dunia.

Pernyataan tegas dari Wright mengindikasikan bahwa pemerintah AS siap mengambil tindakan sepihak untuk melumpuhkan fasilitas dan kemampuan teknis Iran dalam mengembangkan senjata nuklir, meskipun langkah ekstrem tersebut harus ditempuh tanpa melalui ratifikasi kesepakatan formal dengan pihak Teheran.

Ketiadaan kepastian diplomatik ini diprediksi akan membuat pergerakan harga komoditas dan volatilitas bursa saham global tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.