Kendati demikian, skema baru ini langsung diuji oleh kenaikan yield global dan peningkatan harga modal internasional.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengungkapkan, kerangka yang makin jelas justru mendorong pelaku pasar untuk melihat implementasi nyatanya di tengah dinamika eksternal yang semakin menantang.
“Kerangka koordinasinya sekarang jauh lebih jelas dengan lima pilar tersebut.
Namun, justru karena kerangkanya sudah mantap, pasar akan segera menguji bagaimana koordinasi itu bekerja dalam kondisi yang sulit,” kata Fakhrul dalam keterangannya, dikutip Minggu, 4 Oktober 2026.
Menurut Fakhrul, ujian mendasar tersebut bakal tecermin pada pergerakan pasar Surat Berharga NegaraDalam lanskap perekonomian global saat ini, fokus utamanya bukan lagi menekan tingkat yield SBN serendah mungkin, melainkan mencari market-clearing yield Indonesia.
“Pertanyaannya adalah pada level berapa investor bersedia menyerap obligasi pemerintah secara natural, tanpa harus terlalu bergantung pada dukungan kebijakan atau likuiditas tambahan,” jelasnya.
Kenaikan Yield Global vs Risiko Spesifik
Fakhrul kemudian menekankan bahwa lonjakan yield obligasi domestik tidak serta-merta mencerminkan penurunan kredibilitas ekonomi nasional.
Sebagian dari penyesuaian tersebut merupakan dampak wajar dari kenaikan global risk-free rate dan term premium.
Pasar, kata Fakhrul, perlu membedakan antara kenaikan yield akibat repricing global dengan kenaikan risk premium khusus Indonesia. Jika risiko spesifik Indonesia bisa dicegah, tekanan dari tren global justru tidak bisa ditahan sepenuhnya.
Apabila yield domestik dipaksakan tetap rendah di bawah ekspektasi investor marjinal, potensi tekanan adjustment tidak akan lenyap, melainkan bergeser ke instrumen keuangan lain.
“Jika harga obligasi tidak cukup menyesuaikan, adjustment bisa berpindah ke foreign demand, ke auction absorption, ke rupiah, bahkan ke aset berisiko lain seperti pasar saham.
Jadi, menahan yield terlalu rendah bukan berarti menghilangkan risiko, melainkan hanya memindahkan risikonya,” tegas Fakhrul.
Oleh karena itu, proses pembentukan hargadi pasar obligasi memegang peranan krusial dalam menjaga stabilitas eksternal. Jika yield gagal mencerminkan harga modal global, investor asing tidak memperoleh kompensasi yang memadai.
“Pada akhirnya, tekanan bisa berpindah ke rupiah dan pasar saham yang berujung pada penurunan sentimen serta optimisme perekonomian.
Dalam konteks itu, membiarkan pasar obligasi menemukan market-clearing yield justru dapat menjadi bagian dari strategi stabilisasi rupiah,” tuturnya.
Bukan Menentukan Harga Pasar
Fakhrul menambahkan, lima pilar koordinasi pada dasarnya telah menyediakan instrumen yang lengkap.
Pilar ketahanan eksternal mampu memperkuat foreign inflow dan menekan biaya hedging, pilar likuiditas menjaga kelancaran aliran dana, sedangkan pilar pendalaman pasar keuangan mencegah timbulnya distorsi antar-instrumen seperti SBN, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, perbankan, dan investor.
Namun, koordinasi interlembaga ini ditegaskan bukan untuk mendikte harga pasar.
“Koordinasi tidak boleh menggantikan price discovery. Koordinasi justru harus memastikan price discovery bisa berjalan tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan,” tutur Fakhrul.
Ia berpendapat, target kebijakan yang ideal bukanlah mengejar yield terendah (the lowest possible yield), melainkan tingkat yield pasar yang paling sustainable (the lowest sustainable market-clearing yield).
Yield yang terlampau rendah namun sepi peminat bukanlah yield yang murah karena biaya penyesuaiannya tetap akan membebani rupiah maupun arus modal asing.
“Ujian kredibilitas pertama dari arsitektur koordinasi ini sangat sederhana: apakah pemerintah dan BI siap membiarkan pasar menemukan harga yang benar?
Jika koordinasi hanya kuat di atas kertas namun harga pasar tidak diberi ruang menyesuaikan, pasar akan mempertanyakan fungsi koordinasi tersebut,” katanya.
Rupiah Berpeluang Menguat, Surplus Dagang RI Tembus USD3,55 Miliar
Namun, di balik itu semua, kondisi eksternal dan domestik memberikan sejumlah sinyal yang relatif mendukung stabilitas rupiah, meski tekanan inflasi domestik masih perlu diperhatikan.
Salah satu penopang utama berasal dari surplus perdagangan Indonesia yang melebar tajam menjadi USD3,55 miliar, dibandingkan USD0,13 miliar pada periode sebelumnya dan jauh di atas ekspektasi USD0,6 miliar.
Kinerja perdagangan tersebut ditopang ekspor minyak sawit, bahan bakar mineral, serta besi dan baja yang mampu mengimbangi defisit perdagangan migas sebesar USD2,54 miliar.
Pada saat yang sama, impor tumbuh 19 persen secara tahunan, terutama berasal dari kelompok bahan baku.
Kenaikan impor bahan baku menunjukkan aktivitas produksi domestik tetap berjalan, khususnya di sektor manufaktur.
Bagi nilai tukar, kombinasi ekspor yang kuat dan surplus perdagangan yang lebih besar menciptakan pasokan valuta asing yang lebih baik dari aktivitas perdagangan.
Ashmore menilai kondisi tersebut memberikan dukungan positif terhadap rupiah. Namun, ruang penguatan tetap bergantung pada dinamika pasar keuangan global, terutama arah dolar AS dan kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Di dalam negeri, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,28 persen, dari 3,19 persen sebelumnya. Kenaikan terutama berasal dari harga pangan, sementara inflasi inti justru melandai menjadi 2,84 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan tekanan harga yang lebih kuat terutama berasal dari komponen pangan, bukan peningkatan tekanan harga inti secara luas.
Dari Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 dikonfirmasi sebesar 2,2 persen, lebih tinggi dari perkiraan 1,5 persen, meski turun dari estimasi sebelumnya 2,5 persen.
Data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi AS masih relatif solid.
Namun, indikator inflasi memberikan sinyal berbeda. Core PCE pada Agustus hanya meningkat 0,2 persen, lebih rendah dari ekspektasi 0,3 persen.
Karena Core PCE menjadi salah satu indikator inflasi utama yang diperhatikan The Fed, angka tersebut dapat mengurangi tekanan untuk menaikkan suku bunga pada Oktober.
Pergerakan kebijakan moneter AS tetap menjadi faktor penting bagi rupiah. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menurun, tekanan penguatan dolar AS dapat berkurang.
Kondisi tersebut berpotensi memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara itu, aktivitas manufaktur AS masih berada dalam zona ekspansi. Indeks ISM manufaktur tercatat 54,5, hanya sedikit turun dari 54,6 sebelumnya dan berada di bawah ekspektasi 55.
Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur masih mengalami ekspansi.
Di Kanada, ekonomi tumbuh 0,2 persen pada Agustus setelah stagnan pada Juli, sesuai ekspektasi. Namun, aktivitas manufakturnya melambat menjadi 51,5 dari 53,0 dan berada di bawah perkiraan 52,9.
Secara keseluruhan, kombinasi surplus perdagangan Indonesia yang meningkat, inflasi inti yang melandai, serta ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang berkurang memberikan sejumlah faktor pendukung bagi rupiah.
Namun, ketahanan rupiah tetap akan dipengaruhi oleh arah dolar AS, yield obligasi AS, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.