Laba BRI Tumbuh 17,5 Persen, CASA dan Kredit Jadi Penopang

IHSG Sesi I Mantap di 6.564, Perhatikan Level Penting BBRIPerkuat Ekonomi Rakyat, Kredit UMKM BRI Tumbuh 8,6 Persen di Kuartal II 2026

Namun, pertumbuhan kredit BRI pada semester I 2026 tidak sepenuhnya datang dari segmen mikro. Justru kredit korporasi dan komersial menjadi salah satu motor pertumbuhan paling cepat.

Kredit mikro tumbuh 6,4 persen menjadi Rp714,1 triliun. Kredit konsumer meningkat 8,9 persen menjadi Rp236,9 triliun, sedangkan kredit segmen small and medium enterprisetumbuh 4,1 persen menjadi Rp212,2 triliun.

Sebaliknya, kredit korporasi melonjak 47,1 persen menjadi Rp410,1 triliun. Kredit komersial bahkan tumbuh 58,1 persen menjadi Rp72,2 triliun.

Data tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kredit BRI kini memiliki sumber pertumbuhan yang lebih beragam, meski segmen mikro tetap menjadi bagian penting dalam portofolio perseroan.

Pertumbuhan kredit yang cepat biasanya membawa pertanyaan mengenai kualitas aset. Dalam kasus BRI, sejumlah indikator justru menunjukkan perbaikan sepanjang semester I 2026.

Rasio non-performing loankonsolidasi turun menjadi sekitar 2,9 persen, dari sekitar 3,04 persen setahun sebelumnya.

Loan at riskjuga turun menjadi 9,2 persen dari 10,8 persen, sedangkan kredit dalam kategori special mention loanmenyusut menjadi 3,7 persen dari 5,2 persen.

Data tersebut menjadi penting karena BRI memiliki eksposur besar terhadap segmen UMKM yang secara historis lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Perbaikan NPL, LAR, dan SML menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit belum diikuti peningkatan tekanan kualitas aset secara agregat.

Riset BRI Danareksa Sekuritas juga mencatat adanya perbaikan pada portofolio mikro. Rata-rata net downgrade kredit mikro menjadi NPL turun menjadi sekitar Rp1,7 triliun pada kuartal II 2026, dari Rp2 triliun pada kuartal I 2026.

Angka tersebut juga jauh di bawah puncaknya yang mencapai sekitar Rp3,5 triliun pada Januari 2025.

Pada saat yang sama, pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest incomeBRI mencapai 9,9 persen menjadi Rp80,53 triliun. Angka tersebut masih lebih rendah daripada pertumbuhan kredit yang mencapai 16,2 persen.

Namun, laba bersih justru tumbuh lebih cepat daripada NII. Laba BRI meningkat 17,5 persen menjadi Rp31,18 triliun, sementara pre-provision operating profittumbuh 12,8 persen menjadi sekitar Rp65,7 triliun.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan laba BRI tidak hanya bergantung pada pelebaran pendapatan bunga.

Efisiensi, penurunan biaya dana, pendapatan berbasis komisi, serta pengendalian biaya pencadangan ikut menentukan seberapa besar pertumbuhan kredit dapat diterjemahkan menjadi laba.

BRI juga mencatat peningkatan aktivitas digital. Jumlah pengguna BRImo mencapai sekitar 49,7 juta pada semester I 2026, tumbuh 16,5 persen secara tahunan.

Pendapatan berbasis biaya dari BRImo mencapai sekitar Rp2 triliun atau meningkat 17,8 persen.

Dengan demikian, mesin laba BRI pada semester I 2026 mulai menunjukkan bentuk yang lebih lengkap. Kredit tumbuh agresif, dana murah meningkat, biaya dana turun, sementara sejumlah indikator kualitas aset membaik.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.