Langkah strategis penambahan modal ini diluncurkan di tengah kinerja fundamental perseroan yang sedang meroket sepanjang tahun berjalan.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan Corporate Secretary HRTA, Ong Deny, perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 460.526.240 saham biasa baru dengan nilai nominal Rp100 per saham.
“Jumlah tersebut setara dengan setinggi-tingginya 10 persen dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan,” tulisnya dalam dokumen tersebut dikutip, Kamis, 24 September 2026.
Seluruh saham baru hasil private placement akan dikeluarkan dari portepel dan disetor penuh dalam bentuk uang secara tunai.
Untuk merealisasikan agenda penambahan modal tersebut, HRTA menjadwalkan penyelenggaraan RUPSLB pada Jumat, 16 Oktober 2026, pukul 10.00 WIB bertempat di Kantor Pusat Perseroan, Jalan Kopo Sayati Nomor 165, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Rapat akan dilaksanakan secara hibrida melalui kehadiran fisik dan sistem pemungutan suara elektronik eASY.KSEI.
Sesuai dengan ketentuan POJK Nomor 32/POJK.04/2015 sebagaimana diubah melalui POJK Nomor 14/POJK.04/2019, pelaksanaan PMTHMETD HRTA memerlukan persetujuan dari Pemegang Saham Independen.
Pemegang saham yang berhak hadir dan mengeluarkan suara dalam RUPSLB adalah mereka yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Sahamperseroan pada tanggal 23 September 2026 pukul 16.00 WIB.
Perseroan menegaskan bahwa perhitungan kuorum kehadiran dan keputusan rapat hanya memperhitungkan suara dari Pemegang Saham Independen.
Hak suara milik pemegang saham utama, pengendali, anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, serta pihak yang terafiliasi dengan perseroan tidak diperhitungkan dalam kuorum maupun pengambilan keputusan atas mata acara private placement.
Para Pemegang Saham Independen yang akan memberikan suara wajib mengisi Formulir Surat Pernyataan Pemegang Saham Independen yang disampaikan kepada Biro Administrasi EfekPT Sinartama Gunita paling lambat Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 16.00 WIB.
Private Placement buat Penuhi Capex?
Manajemen HRTA menjelaskan bahwa seluruh dana yang diperoleh dari hasil private placement akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja atau capital expenditureperseroan.
Langkah penguatan permodalan ini dipandang krusial guna menunjang ekspansi kegiatan usaha, meningkatkan kapasitas pendanaan, serta menjaga stabilitas posisi keuangan di tengah pertumbuhan bisnis yang masif.
Hingga diterbitkannya keterbukaan informasi, perseroan menyatakan belum menentukan calon pemodal definitif yang akan mengambil bagian atas saham baru tersebut.
Penentuan harga pelaksanaan saham PMTHMETD akan mengacu pada Peraturan BEI Nomor I-A, yakni sekurang-kurangnya 90 persen dari rata-rata harga penutupan saham perseroan selama 25 hari bursa berturut-turut di pasar reguler sebelum tanggal permohonan pencatatan saham tambahan.
Berdasarkan analisis manajemen atas laporan keuangan per 30 Juni 2026, eksekusi private placement diproyeksikan memberikan dampak positif bagi neraca perseroan:
- Total aset perseroan diperkirakan meningkat 9,21 persen dari posisi sebelum transaksi sebesar Rp11,35 triliun menjadi Rp12,40 triliun.
- Total ekuitas perseroan diproyeksikan melonjak 27,90 persen dari Rp3,75 triliun menjadi Rp4,79 triliun.
- Rasio liabilitas terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) diproyeksikan membaik dan membaik dari 2,03 kali menjadi 1,59 kali.
- Rasio lancarperseroan menguat dari 1,69 kali menjadi 1,86 kali.
- Kepemilikan saham dari pemegang saham saat ini akan mengalami dampak dilusi secara proporsional sebesar 9,09 persen.
Laba Bersih HRTA Melonjak di Semester I 2026, Ada Katalis Pasar Emas
Aksi penguatan modal kerja ini dilakukan saat HRTA menorehkan lompatan kinerja operasional dan keuangan yang luar biasa.
Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp700,01 miliar pada semester I 2026, atau melesat 100,86 persen year-on-yeardibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp348,51 miliar.
Lonjakan laba bersih tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan perseroan yang mencapai Rp33,80 triliun pada semester I 2026, meningkat 124,61 persen yoy jika dibandingkan omzet semester I 2025 sebesar Rp15,05 triliun.
Direktur Utama Hartadinata Abadi, Sandra Sunanto, menegaskan bahwa capaian positif paruh pertama tahun ini merupakan buah dari keberhasilan strategi perseroan dalam memperkuat ekosistem bisnis emas terintegrasi.
“Dengan fundamental bisnis yang semakin solid, dukungan dari pertumbuhan permintaan institusi keuangan dan Bullion Bank, serta prospek industri emas yang tetap menjanjikan, kami akan terus berfokus pada penciptaan pertumbuhan yang berkelanjutan, memperkuat daya saing Perseroan, dan memberikan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemegang saham,” ujar Sandra dalam keterangan resminya dikutip Kamis, 24 September 2026.
Kinerja cemerlang HRTA didorong oleh kenaikan volume penjualan emas murni yang tumbuh 46,74 persen yoy menjadi 13 ton, beriringan dengan kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 53,21 persen yoy menjadi Rp2.591.673 per gram.
Dari sisi segmen usaha, kontribusi terbesar pendapatan masih didominasi segmen grosir mencapai 89,33 persen, termasuk kontribusi institusi keuangan dan Bullion Bank sebesar 80,34 persen.
Sementara segmen ritel menyumbang 10,31 persen dan bisnis layanan gadai berkontribusi 0,33 persen.
Lompatan volume dan harga jual turut mendongkrak indikator profitabilitas perseroan, di mana Return on Assetstercatat sebesar 12,33 persen dan Return on Equitymenguat hingga 37,37 persen.
Di sisi permodalan, rasio utang berbunga terhadap ekuitasterjaga sehat di posisi 1,11 kali.
Torehan kinerja HRTA juga terakselerasi oleh pergerakan harga emas global dan domestik yang bertahan di zona tinggi. Sepanjang Juli 2026, harga emas dunia bergerak stabil dengan rata-rata USD4.072,54 per troy ounce (naik 21,99 persen yoy).
Sementara di pasar domestik, harga emas rata-rata menembus Rp2.356.050 per gram (naik 34,66 persen yoy).
Tren tersebut dipicu pelemahan nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga acuan The Fed dan Bank Indonesia, serta tingginya minat masyarakat terhadap investasi emas sebagai aset safe haven.
Konsensus analisis global seperti UBS, Goldman Sachs, dan JP Morgan bahkan memproyeksikan target harga emas dunia berpotensi menembus USD4.800 hingga melebihi USD5.400 per troy ounce pada akhir 2026.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.