Laba Tumbuh 12 Persen, TRIS Siapkan Dividen Interim Rp7 Miliar

Investasi EBT Masih Landai, Kapasitas Terpasang RI Baru 16,32 GWBunga Murah tak Cukup, METI Minta Kepastian Regulasi untuk Biayai Proyek EBT

Namun, TRIS punya catatan yang lebih menarik. Ketika industri tekstil tumbuh 6,36 persen pada triwulan II, penjualan ekspor TRIS justru melaju 20,3 persen.

Artinya, pertumbuhan ekspor perusahaan lebih dari tiga kali lipat laju pertumbuhan sektor secara tahunan pada periode tersebut.

Besarnya peran ekspor juga terlihat dari struktur penjualan TRIS. Pada semester I-2026, pasar domestik menyumbang sekitar Rp359,1 miliar, sementara pasar internasional mencapai Rp530,5 miliar.

Perusahaan menyebut diversifikasi pasar menjadi salah satu cara untuk menjaga permintaan di tengah ketidakpastian geopolitik.

Di level industri, pasar luar negeri memang masih menjadi salah satu sumber napas utama.

Kementerian Perindustrian mencatat industri tekstil dan pakaian jadi mencatat ekspor sekitar USD4,85 miliar pada semester I-2026 dan menyerap lebih dari 3,8 juta tenaga kerja.

Pemerintah juga melihat masih adanya investasi baru dan ekspansi usaha di tengah tekanan yang dihadapi sejumlah perusahaan tekstil.

Tetapi ada satu alarm yang tidak boleh dilewatkan. Pada periode Januari-Mei 2026, ekspor tekstil dan pakaian jadi Indonesia memang mencapai USD4,85 miliar, naik 1,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, impor tumbuh lebih cepat, dari USD3,41 miliar menjadi USD3,58 miliar. Akibatnya, surplus perdagangan sektor tersebut menyempit dari sekitar USD1,37 miliar menjadi USD1,27 miliar.

Jadi, cerita pemulihan industri tekstil Indonesia belum sepenuhnya bisa diberi label happy ending. Ekspor masih tumbuh, tetapi tekanan impor juga meningkat.

Di tengah kondisi tersebut, kemampuan perusahaan untuk mencari pasar, mempertahankan pelanggan, dan mengendalikan biaya menjadi pembeda antara perusahaan yang sekadar ikut pulih dan perusahaan yang mampu mencuri pertumbuhan.

TRIS kini juga berpotensi memperoleh katalis baru dari perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa. Pemerintah menargetkan penandatanganan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IEU-CEPA pada kuartal IV-2026.

Setelah melalui proses ratifikasi, perjanjian tersebut akan membuka akses tarif nol persen bagi sejumlah produk ekspor Indonesia, termasuk tekstil dan produk tekstil.

IEU-CEPA akan meliberalisasi sekitar 98 persen pos tarif kedua pihak yang mencakup sekitar 99,5 persen nilai impor.

Pemerintah melihat kesepakatan tersebut sebagai peluang untuk memperluas pasar produk Indonesia di Uni Eropa, kawasan dengan sekitar 450 juta konsumen dan total PDB gabungan sekitar USD22 triliun.

Bagi TRIS yang sudah menempatkan ekspor sebagai penyumbang sekitar 60 persen penjualan, terbukanya akses pasar Eropa bisa menjadi tambahan ruang ekspansi.

Namun, peluang tersebut belum bisa dihitung sebagai pendapatan baru sebelum perjanjian berlaku dan perusahaan benar-benar mampu memanfaatkan akses pasar yang tersedia.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.