Lonjakan Harga Ayam dan Menguatnya Transaksi Asing Bayangi Kinerja Sektor Perunggasan

Kemiskinan RI Versi BPS 8,07 Persen, Bank Dunia 64,2 Persen, ini Penjelasan Ekonom UGM

Harga Ayam Melonjak, Apakah Margin Emiten Ikut Pulih?

Danantara Ikut Biayai Perpanjangan LRT Jakarta, MTI Singgung Ketimpangan Transportasi Daerah

KPPU mengaitkan pemantauan tersebut dengan meningkatnya kembali aktivitas MBG dan menilai peningkatan permintaan perlu diikuti dengan kecukupan pasokan agar tidak menimbulkan persoalan pada rantai pasok.

Kenaikan harga operasional tersebut sebenarnya datang ketika sejumlah emiten poultry telah membukukan perbaikan kinerja pada semester pertama 2026.

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, misalnya, mencatat pendapatan Rp39,4 triliun pada semester I 2026, naik 19,2 persen secara tahunan.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau PATMI mencapai Rp3,7 triliun, melonjak 95,1 persen. EBITDA juga meningkat 58,9 persen menjadi Rp5,3 triliun.

Margin laba kotor CPIN pada semester I mencapai 17,6 persen, EBITDA margin 13,4 persen, dan net margin 9,4 persen. Ketiganya meningkat lebih dari 3 poin persentase secara tahunan.

Namun, laporan tersebut juga memperlihatkan bahwa pemulihan margin belum berjalan lurus. Pada kuartal II 2026, gross margin CPIN turun menjadi 12,8 persen dari kuartal sebelumnya.

EBITDA margin turun menjadi 7,8 persen dan net margin menjadi 5,8 persen.

Mirae Asset mencatat tekanan tersebut antara lain berkaitan dengan penurunan harga DOC dan broiler setelah periode Idulfitri dan bulan Suro, serta penghentian sementara program MBG.

Pada periode yang sama, harga jagung mencapai Rp6.605 per kilogram, naik 40,1 persen secara tahunan.

Artinya, kenaikan harga ayam memang membantu sisi pendapatan, tetapi biaya bahan baku pakan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa besar perbaikan margin yang akhirnya masuk ke laba.

Pola serupa terlihat pada PT Japfa Comfeed Indonesia TbkPada semester I 2026, JPFA membukukan pendapatan Rp35,4 triliun, naik 28,7 persen secara tahunan.

PATMI mencapai Rp2,5 triliun, tumbuh 100,2 persen, sedangkan EBITDA meningkat 60,3 persen menjadi Rp4,4 triliun.

Gross margin JPFA mencapai 21,6 persen, naik 2,4 poin persentase. EBITDA margin berada di 12,5 persen dan net margin 7 persen, masing-masing meningkat 2,5 poin persentase secara tahunan.

Mirae Asset mengaitkan kuatnya kinerja semester I antara lain dengan peningkatan belanja MBG.

Belanja program tersebut mencapai sekitar Rp101 triliun pada semester I 2026, dibandingkan sekitar Rp5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, JPFA juga mengalami normalisasi margin pada kuartal II. Gross margin turun menjadi 17,6 persen dari level kuartal sebelumnya, seiring koreksi harga DOC dan broiler serta tekanan biaya.

Dengan harga ayam yang kemudian kembali melonjak pada Agustus, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat kinerja semester II layak diperhatikan.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.