Momentum Berkurang, Harga Emas Turun 0,1 Persen

Emas spot bahkan menyentuh USD4.696,18 per ons sebelum akhirnya terkoreksi tipis 0,1 persen menjadi USD4.647,03 per ons.

Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak Desember ditutup turun 0,1 persen menjadi USD4.694,50 per ons.

Harga emas masih berada di area tinggi, tetapi kenaikannya mulai kehilangan momentum ketika mendekati level psikologis sekaligus resistance USD4.700 per ons.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek, menyebut pelemahan itu lebih mencerminkan berkurangnya momentum kenaikan setelah harga mendekati resistance kuat.

Momentum emas yang dimaksud bukan berarti seluruh faktor pendukung emas menghilang.

Beberapa faktor masih memberikan dukungan terhadap harga, tetapi kekuatannya berhadapan dengan resistance teknikal dan investor yang menunggu sejumlah indikator penting sebelum mengambil posisi berikutnya.

Ekspektasi Kebijakan The Fed Berkurang?

Salah satu momentum utama berasal dari ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Investor menunggu data Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat untuk Juli yang akan dirilis Rabu.

PCE menjadi salah satu indikator penting bagi Federal Reserve dalam mengukur perkembangan inflasi dan pencapaian target inflasi sebesar 2 persen.

Data inflasi produsen dan konsumen Amerika yang lebih rendah dari perkiraan pada bulan ini telah mengurangi peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September hanya sebesar 38 persen. Artinya, probabilitas pasar untuk tidak menaikkan suku bunga berada di sekitar 62 persen.

Ekspektasi tersebut menjadi faktor yang dapat mendukung emas. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti aset berbasis bunga.

Sebaliknya, apabila ekspektasi kenaikan suku bunga menurun, tekanan terhadap emas dari sisi biaya peluang kepemilikan dapat berkurang.

Namun, investor belum mendapatkan kepastian mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

Karena itu, data PCE dan pernyataan Chairman Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat menjadi agenda penting yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar.

Nilai Tukar Dolar AS Kembali Menguat

Momentum berikutnya berasal dari pergerakan dolar Amerika Serikat dan kebijakan pemerintah terkait pasar surat utang.

Departemen Keuangan AS memutuskan menggandakan nilai operasi pembelian kembali atau buyback surat utang dengan tenor panjang sebagai bagian dari dukungan likuiditas.

Kebijakan tersebut sebelumnya ikut menekan dolar AS hingga mencapai level terendah dalam lebih dari tiga bulan.

Pelemahan dolar dapat mendukung harga emas karena emas diperdagangkan dalam mata uang AS. Ketika dolar melemah, emas menjadi relatif lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik emas di pasar internasional.

Permintaan Emas Menguat

Selain faktor moneter, permintaan fisik juga menjadi salah satu momentum pendukung.

Di Asia, permintaan emas menunjukkan tanda penguatan. Data perdagangan menunjukkan impor bersih emas China melalui Hong Kong pada Juli meningkat sekitar 11 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut didukung oleh peningkatan permintaan investasi.

China merupakan salah satu pasar penting bagi emas. Karena itu, peningkatan permintaan dari investor di kawasan tersebut dapat menjadi faktor yang membantu menjaga harga ketika kenaikan mulai tertahan di level resistance.

Faktor geopolitik juga masih memberikan dukungan terhadap emas sebagai aset yang kerap menjadi perhatian investor ketika ketidakpastian meningkat.

Iran berjanji memberikan perlawanan terhadap perluasan sanksi Amerika Serikat yang ditujukan untuk mengisolasi perekonomiannya. Teheran juga menyatakan yakin mitra dagang utamanya akan menolak tekanan Washington.

Perkembangan tersebut menjaga risiko geopolitik tetap menjadi perhatian pasar. Namun, dalam perdagangan Selasa, faktor tersebut belum cukup untuk mendorong emas menembus level USD4.700 secara berkelanjutan.

Justru resistance USD4.700 menjadi faktor yang membatasi penguatan. Harga emas telah mencapai USD4.696,18 per ons, tetapi kemudian kehilangan tenaga dan bergerak turun.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan ketika harga mendekati level psikologis tersebut.

Artinya, momentum kenaikan emas saat ini dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, ekspektasi kenaikan suku bunga Fed yang menurun.

Kedua, potensi tekanan terhadap dolar AS setelah kebijakan buyback surat utang.

Ketiga, meningkatnya permintaan investasi di China. Keempat, ketidakpastian geopolitik terkait Iran.

Kelima, perhatian investor terhadap data inflasi AS yang dapat menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.

Di sisi lain, momentum tersebut belum mampu membawa emas melewati USD4.700. Investor masih menunggu data PCE dan pernyataan Fed sebelum menentukan arah perdagangan selanjutnya.

Karena itu, pergerakan emas masih sangat dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap suku bunga dan inflasi Amerika.

Harga Perak hingga Platinum Ikut Terkoreksi

Pergerakan logam mulia lainnya juga menunjukkan tekanan. Harga perak spot turun 0,1 persen menjadi USD68,86 per ons.

Platinum melemah 1,2 persen menjadi USD1.854,47 per ons, sedangkan paladium anjlok 1,8 persen menjadi USD1.332,43 per ons.

Secara keseluruhan, emas belum kehilangan seluruh faktor pendukungnya.

Harga masih bertahan di dekat level tertinggi lebih dari tiga bulan, sementara ekspektasi suku bunga, pelemahan dolar, permintaan China, dan risiko geopolitik tetap menjadi faktor yang diperhatikan pasar.

Namun, kenaikan mulai kehilangan momentum karena harga mendekati resistance USD4.700 dan investor memilih menunggu data PCE serta sinyal kebijakan Federal Reserve.

Dengan kondisi tersebut, USD4.700 menjadi level penting yang diperhatikan pasar.

Data inflasi PCE dan pernyataan Fed selanjutnya akan menjadi informasi utama untuk melihat apakah momentum yang ada mampu mendorong emas melewati resistance tersebut atau justru membuat harga kembali terkoreksi.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.