Nasdaq Tembus Rekor, Investor Kembali Bidik Saham AI?

Nasdaq Composite mencetak rekor penutupan baru berkat optimisme investor terhadap saham berbasis kecerdasan buatanSementara penurunan harga minyak ke bawah USD100 per barel turut menopang sentimen pasar.

Mengacu pada laporan Reuters, pada 22 September 2026, Nasdaq Composite naik 0,40 persen menjadi 27.231,59. Indeks teknologi tersebut sekaligus mencatat rekor intraday dan penutupan tertinggi baru.

Penguatan Nasdaq berlangsung ketika investor kembali meningkatkan eksposur terhadap perusahaan yang berkaitan dengan AI. Optimisme tersebut didukung ekspektasi terhadap pertumbuhan penggunaan AI serta belanja modal perusahaan teknologi.

Micron Technology dan sejumlah saham terkait AI menjadi penggerak utama indeks.

Investor juga mencermati perkembangan kinerja perusahaan dan prospek monetisasi teknologi AI yang dinilai masih menjadi salah satu tema utama pasar saham Amerika Serikat.

Sementara itu, S&P 500 bergerak relatif datar, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,40 persen.

Bergerak Berkat Saham AI

Kenaikan saham teknologi menunjukkan bahwa minat investor terhadap tema AI belum mereda meskipun pasar sebelumnya sempat dibayangi kekhawatiran mengenai valuasi dan besarnya investasi yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur AI.

Reuters melaporkan, optimisme tersebut juga mendapat dukungan dari ekspektasi meningkatnya monetisasi AI dan belanja modal perusahaan.

Kondisi itu membuat investor kembali menempatkan saham teknologi dan semikonduktor sebagai salah satu motor utama penguatan pasar.

Pergerakan tersebut melanjutkan reli saham AI pada perdagangan sebelumnya. Pada Senin, 21 September 2026, Nasdaq juga mencatat rekor penutupan setelah saham Advanced Micro Devicesdan sejumlah perusahaan teknologi besar menguat.

Kinerja AMD menjadi perhatian setelah kapitalisasi pasar perusahaan tersebut menembus US$1 triliun. Perkembangan itu memperlihatkan besarnya perhatian investor terhadap perusahaan yang berada dalam rantai pasok teknologi AI.

Harga Minyak Turun di Bawah USD100

Di pasar komoditas, harga minyak bergerak berlawanan dengan saham teknologi. Reuters mencatat minyak mentah Amerika Serikat atau West Texas Intermediateturun 0,47 persen menjadi USD95,33 per barel.

Sementara itu, harga Brent turun 0,43 persen menjadi USD99,92 per barel. Dengan demikian, Brent kembali berada di bawah level psikologis USD100 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi setelah munculnya prospek peningkatan pasokan dari Timur Tengah. Perkembangan diplomatik terkait konflik AS dan Iran juga menjadi perhatian investor.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran dapat membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.

Perkembangan tersebut membantu meredakan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak global.

Namun, pasar masih menghadapi ketidakpastian karena Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan kesepakatan damai dengan Iran kemungkinan baru tercapai setelah pemilu sela AS pada November.

Di sisi lain, Arab Saudi mulai mengoperasikan kembali jaringan pipa East-West setelah sebelumnya mengalami serangan drone.

Jalur tersebut memiliki kapasitas sekitar 5 juta barel per hari dan menjadi alternatif pengiriman minyak yang tidak bergantung sepenuhnya pada Selat Hormuz.

Yield Treasury Ikut Turun

Penurunan harga minyak juga memberikan ruang bagi penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Investor melihat harga energi sebagai salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi inflasi dan arah kebijakan moneter.

Namun, pasar masih mencermati risiko inflasi serta kemungkinan bank sentral utama mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

The Federal Reserve sebelumnya memangkas suku bunga, tetapi tetap memberikan sinyal bahwa perkembangan inflasi akan menjadi faktor penting dalam menentukan langkah berikutnya.

Kondisi tersebut membuat pergerakan minyak tetap relevan bagi pasar saham.

Harga energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan biaya dan inflasi, tetapi perubahan tajam harga minyak juga mencerminkan dinamika geopolitik dan prospek pertumbuhan ekonomi global.

Selain AI dan minyak, investor juga mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan China. Reuters melaporkan pasar menantikan kemungkinan pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.

Pertemuan tersebut berpotensi menjadi perhatian investor karena hubungan kedua negara berkaitan langsung dengan perdagangan, teknologi, semikonduktor, serta pengembangan AI.

Optimisme mengenai kemungkinan perpanjangan gencatan perdagangan dan peluang kerja sama di bidang AI turut menjadi sentimen yang diperhitungkan pasar.

Bagi investor Indonesia, kombinasi penguatan saham teknologi Amerika Serikat dan turunnya harga minyak menjadi dua perkembangan yang perlu dicermati.

Reli saham AI dapat memengaruhi sentimen terhadap saham teknologi dan perusahaan yang terkait dengan ekosistem digital, sementara harga minyak berpotensi memengaruhi saham energi, inflasi, nilai tukar, dan ekspektasi suku bunga.

Dengan Nasdaq kembali mencetak rekor, perhatian pasar berikutnya akan tertuju pada kemampuan saham AI mempertahankan momentum ketika valuasi sektor teknologi semakin tinggi.

Di sisi lain, pergerakan Brent di sekitar USD100 per barel masih menjadi faktor penting bagi pasar global, terutama karena risiko geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.