Lonjakan margin kotor dari 8,1 persen menjadi 16,3 persen secara tahunantersebut didorong oleh efisiensi beban pokok pendapatan yang menyusut USD13,5 juta.
Transformasi portofolio perseroan menuju infrastruktur berkelanjutan kini tercermin pada bauran pendapatan.
Segmen non-batu bara, yang ditopang oleh unit pengolahan limbah dan ekosistem kendaraan listrik, menyumbang 66,5 persen dari total pendapatan konsolidasi semester I 2026.
Kontribusi ini jauh melampaui porsi bisnis batu bara yang tercatat sebesar 31,4 persen.
Di tengah penurunan perdagangan batu bara hingga dua pertiga dan divestasi penuh dari bisnis pembangkit listrik tenaga batu bara, total pendapatan konsolidasi TOBA tetap stabil di level USD173,0 juta pada semester I 2026.
Sementara itu, EBITDA konsolidasi perseroan tumbuh 23,7 persen yoy, kendati total aset mengalami penyusutan 3,6 persen yiy.
“Tahun lalu batu bara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis non-batu bara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis inilah yang menghasilkan kas.
Inilah transisi yang kami janjikan, dan kuartal kedua menunjukkan kami berada di jalur yang benar untuk bertransformasi menjadi bisnis infrastruktur berkelanjutan,” papar Direktur dan Chief Financial Officer TBS, Juli Oktarina, dalam siaran pers dikutip, Minggu, 30 Agustus 2026.
Kinerja arus kas operasional perseroan mencatatkan pemulihan dengan berbalik positif menjadi USD14,6 juta pada semester I 2026, dibandingkan posisi negatif USD31,6 juta pada semester I 2025.
Dari sisi bottom line, rugi bersih perseroan menyusut hingga lebih dari 83 persen yoy seiring tidak berulangnya beban kerugian akibat divestasi anak usaha pada tahun sebelumnya.
Kerugian tersisa di periode berjalan utamanya dipicu beban non-kas depresiasi dan amortisasi dari akuisisi Cora Environment, serta beban pendanaan atas aksi akuisisi dan ekspansi ekosistem EV.
Mana Segmen Bisnis Pencetak Laba Terbesar TOBA?
Pengelolaan limbah menjadi penopang utama profitabilitas perseroan. Segmen ini menyumbangkan pendapatan sebesar USD105,9 juta atau melesat 77,8 persen yoy dari sebelumnya USD59,6 juta.
Unit bisnis limbah ini berkontribusi hingga 61,2 persen terhadap total pendapatan konsolidasi serta menyumbang 92 persen dari total EBITDA konsolidasi TOBA.
Laba kotor segmen ini tumbuh 91,9 persen yoy menjadi USD17,6 juta, dengan EBITDA segmen yang naik lebih dari dua kali lipat menjadi USD23,6 juta.
Secara operasional, segmen pengolahan limbah disokong oleh kinerja unit usaha di Singapura dan Indonesia. Cora Environment di Singapura mengelola 752.000 ton limbah dengan plant availability mencapai 86 persen.
Asia Medical Enviro Servicesmemproses 2.100 ton limbah medis dengan plant availability 90 persen, serta ARAH Environmental di Indonesia yang mengolah 5.800 ton limbah dengan ketersediaan pabrik 84 persen.
Di segmen kendaraan listrik, ekosistem Electrum membukukan kenaikan pendapatan sebesar 184 persen yoy mencapai USD9,1 juta.
Kinerja operasional EV ini berbalik mencetak profitabilitas dengan laba kotor USD0,4 juta (dibandingkan rugi USD0,5 juta pada semester I 2025) dan EBITDA segmen tercatat positif USD0,5 juta.
Hingga akhir Juni 2026, Electrum mengoperasikan hampir 14.000 unit motor listrik, 550 unit Battery Swapping Stationdengan pencapaian lebih dari 1,7 juta penukaran baterai per bulan, 2.500 unit rent-to-own, serta total akumulasi jarak tempuh melebihi 135 juta kilometer.
Untuk segmen energi terbarukan, pendapatan dicatatkan melalui bagian atas laba entitas asosiasi. Pembangkit Listrik Tenaga Minihidroberkapasitas 6MW telah beroperasi penuh dan menyumbang USD110.300 pada laporan laba rugi perseroan.
Sementara itu, proyek Pembangkit Listrik Tenaga SuryaTerapung 46MWp masih berjalan sesuai jadwal untuk mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Pada segmen pertambangan batu bara, kendati pendapatan segmen terkoreksi 4,1 persen yoy menjadi USD34,9 juta, pembenahan biaya produksi setelah beroleh persetujuan RKAB berhasil melipatgandakan laba kotor segmen menjadi USD9,3 juta (margin kotor naik dari 3,5 persen menjadi 26,6 persen).
EBITDA segmen batu bara berbalik positif menjadi USD1,3 juta dari sebelumnya rugi USD11,1 juta pada semester I 2025.
Utang Bank Jangka Pendek TOBA Pangkas 30 Persen
Per 30 Juni 2026, TOBA mengantongi posisi kas konsolidasi sebesar USD94,7 juta. Manajemen perseroan berhasil menekan nilai utang bank jangka pendek sebesar 30,9 persen yoy dan memangkas total liabilitas jangka pendek hingga 13,5 persen yoy.
Melalui aksi refinancing obligasi Rupiah 2026 lewat skema Penawaran Umum BerkelanjutanII dan PUB III, perseroan memindahkan kewajiban senilai USD27,5 juta dari jatuh tempo jangka pendek untuk memperpanjang profil utang.
Tingkat leverage perseroan membaik, tercermin dari penurunan rasio utang bersih terhadap EBITDA menjadi 5,4 kali dibandingkan 5,6 kali pada akhir tahun 2025.
Pada Agustus 2026, TOBA mencatatkan pencapaian sebagai perusahaan pertama yang memperoleh predikat Green Equity Transition dari Bursa Efek Indonesiaberdasarkan hasil evaluasi S&P Global Ratings.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.