Penguatan tersebut melanjutkan tren pemulihan IHSG setelah sebelumnya terkoreksi hingga level 5.317 pada Juni 2026.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, mengatakan penguatan selama dua bulan berturut-turut menunjukkan kembali terbentuknya buying bias dan semakin solidnya momentum pemulihan indeks.
“Dari sisi domestik, kepastian proses suksesi Gubernur Bank Indonesia turut mengurangi salah satu sumber ketidakpastian pasar,” ujar Hari dalam keterangan tertulisnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Kepastian tersebut menyusul persetujuan Komisi XI DPR terhadap Destry Damayanti untuk menduduki posisi Gubernur Bank Indonesia. Penetapan melalui rapat paripurna dijadwalkan pada 1 September 2026.
Di sisi moneter, Bank Indonesia kembali mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen untuk ketiga kalinya berturut-turut.
Kebijakan tersebut dilakukan dengan fokus menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas global dan ketidakpastian geopolitik.
Dari sisi global, arah kebijakan The Federal Reserve menjadi salah satu faktor yang masih diperhatikan pasar.
Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole menunjukkan nada yang cenderung hawkish, sementara inflasi personal consumption expendituresmasih berada di 3,7 persen secara tahunan atau year-on-year, jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebijakan suku bunga bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer. Dampaknya, aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi tertekan.
“Di sisi lain, aksi unjuk rasa domestik yang sempat memicu koreksi IHSG sebesar 1,48 persen pada 26 Agustus berhasil diredam oleh rebound 1,81 persen pada 27 Agustus.
Ini mengindikasikan bahwa political risk mulai lebih banyak diantisipasi pasar,” kata Hari.
Faktor Apa Saja yang Memengaruhi Pergerakan Pasar?
Memasuki September 2026, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan The Fed.
Data yang menjadi perhatian meliputi S&P Global Manufacturing PMI, ADP Nonfarm Employment Change, ISM Manufacturing PMI, JOLTS Job Openings, Initial Jobless Claims, S&P Global Services PMI, ISM Non-Manufacturing PMI, Average Hourly Earnings, Nonfarm Payrolls, dan Unemployment Rate.
“Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk menilai kekuatan ekonomi AS sekaligus menentukan ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed pada September,” jelasnya.
Dari sisi inflasi, nada hawkish Kevin Warsh di Jackson Hole menjadi perhatian karena tekanan harga masih relatif tinggi. PCE tercatat 3,7 persen YoY, sedangkan annualized 6-month mencapai 4,1 persen.
Keduanya masih berada di atas target The Fed sebesar 2 persen.
“Kondisi tersebut berpotensi menopang dolar AS dan yield obligasi, sekaligus menekan aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujar Hari.
Pasar komoditas juga menjadi salah satu faktor yang akan memengaruhi sentimen global.
Harga emas berada di level US$4.454 per ounce dan masih mencatat penguatan sekitar 9,54 persen secara bulanan, meskipun terkoreksi akibat sentimen hawkish The Fed.
Sementara itu, harga batu bara berada di level USD139,75 per ton yang didukung permintaan energi global dan kekhawatiran pasokan.
Sebaliknya, harga minyak West Texas Intermediateturun 1,21 persen secara bulanan menjadi USD83,44 per barel seiring membaiknya arus distribusi melalui Selat Hormuz.
Harga nikel juga masih menghadapi tekanan akibat surplus refined nickel dan permintaan dari China yang belum kuat.
Dari dalam negeri, perkembangan kebijakan Bank Indonesia, stabilitas rupiah, arus dana asing, serta data ekonomi makro akan menjadi perhatian pasar.
Investor akan mencermati data inflasi, core inflation, ekspor-impor, dan neraca perdagangan Indonesia yang dijadwalkan dirilis pada 4 September 2026.
“Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi konsumsi, tekanan harga, serta stabilitas sektor eksternal dan berpotensi mempengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia,” jelas Hari.
Selain itu, proses suksesi Gubernur BI yang memasuki tahap akhir dinilai berpotensi mengurangi ketidakpastian terkait kesinambungan kebijakan moneter.
BI juga mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen untuk ketiga kalinya berturut-turut, dengan stabilitas rupiah tetap menjadi salah satu prioritas.
Dari sisi korporasi, kinerja laporan keuangan semester I-2026 masih memberikan dukungan fundamental bagi pasar, terutama pada sektor perkebunan, minyak dan gas, serta ritel dan konsumsi.
Kondisi tersebut membuat peluang pemilihan saham secara selektif tetap terbuka, terutama pada emiten dengan pertumbuhan laba dan prospek bisnis yang dinilai mampu bertahan.
Dari sisi aliran modal, investor juga perlu mencermati implementasi rebalancing MSCI yang efektif pada 1 September 2026 serta semi-annual review FTSE Russell pada 21 September 2026.
Meskipun sebagian ekspektasi perubahan konstituen dan aliran dana asing telah tercermin dalam pergerakan pasar sepanjang Agustus, arus dana pada saat implementasi tetap berpotensi meningkatkan volatilitas di sekitar tanggal efektif rebalancing.
Analisis Teknikal dan Prospek IHSG Sepanjang September
Hari menilai prospek IHSG memasuki September 2026 masih relatif konstruktif.
Kondisi tersebut ditopang pemulihan ekonomi domestik, kepastian proses suksesi Gubernur BI, stabilitas kebijakan moneter, serta fundamental emiten yang masih resilien.
“IHSG juga telah mencatat back-to-back rally dengan penguatan 4,52 persen MoM sepanjang Agustus, memperkuat struktur uptrend jangka panjang,” katanya.
Namun, investor tetap perlu mewaspadai risiko yang berasal dari kebijakan The Fed yang lebih hawkish, potensi tekanan foreign flow, rebalancing indeks global, serta seasonality September yang secara historis cenderung lebih rentan terhadap koreksi.
Secara teknikal, IHSG saat ini berada dalam fase recovery dan telah menembus resistance 6.454. Level tersebut kini berpotensi menjadi support jangka pendek.
Resistance berikutnya berada di level 6.537, yang bertepatan dengan Fibonacci retracement 0,5.
Apabila IHSG mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan menuju 6.822 sebagai Fibonacci retracement 0,618 semakin terbuka.
Sebaliknya, apabila indeks gagal mempertahankan support 6.454, IHSG berpotensi kembali menguji level 6.243 yang merupakan area EMA50 sekaligus support kunci berikutnya.
Secara keseluruhan, outlook IHSG untuk September berada pada posisi Neutral to Bullish. Struktur teknikal masih konstruktif selama support 6.454 mampu dipertahankan.
Namun, kombinasi seasonality September, ketidakpastian arah kebijakan The Fed, serta potensi volatilitas akibat rebalancing MSCI dan FTSE Russell membuat investor tetap perlu mengantisipasi potensi aksi ambil untung dalam jangka pendek.
“Strategi yang dapat dipertimbangkan adalah akumulasi bertahap pada saham-saham dengan fundamental dan earnings growth yang solid, sembari menunggu konfirmasi breakout IHSG di atas area 6.537–6.551.
Jika breakout tersebut terkonfirmasi, peluang melanjutkan recovery menuju 6.822 akan semakin terbuka,” kata Hari.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.