Prabowo Luncurkan PLTS 100 GW, Target Rampung 3 Tahun

Tak tanggung-tanggung, Presiden menyentil jajaran menteri ekonomi hingga pimpinan BUMN untuk merampungkan proyek raksasa bernilai investasi Rp1.140 triliun ini dalam tenggat waktu dua hingga tiga tahun.

Hal ini dilakukan untuk memutus rantai ketergantungan impor BBM dan LPG.

Peluncuran dipusatkan di Bali dengan tiga lokasi strategis lainnya, yaitu PLTS Terapung Gajah Mungkur di Wonogiri, PLTS Desa Sembur di Batam, serta PLTS Pulau Rengit.

Skema ini digadang-gadang mampu mendukung kesiapan ekosistem energi surya nasional, mulai dari skala masif penopang sistem kelistrikan hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat di pulau terpencil.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kapasitas terpasang listrik Indonesia saat ini baru mencapai 88 GW yang bersumber dari batu bara, minyak, gas, dan panas bumi.

Kehadiran PLTS 100 GWp ini akan melonjakkan kapasitas energi nasional secara signifikan sekaligus menjadi tulang punggung kemandirian energi nasional.

“Dan hari ini adalah hari yang penting, kita launching listrik dari tenaga surya 100 GW untuk bangsa Indonesia.

Untuk sebagai bayangan bahwa seluruh listrik Indonesia sekarang 88 GW dari batubara, dari minyak, dari gas, dari geothermal, semua itu 88 GW. Kita akan membangun 100 GW dan kita tidak main-main, target kita adalah 3 tahun,” tegas Prabowo.

Presiden secara terbuka langsung mengabsen kesiapan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Kepala Danantara, jajaran Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, hingga Direktur Utama PT PLNdan PT PertaminaSeluruh pejabat terkait menyahut ‘siap’ atas tantangan tenggat waktu super ketat tersebut.

“Tiga tahun lagi kita kumpul lagi, kita sekarang selalu bicara dengan bukti ya.

Karena itu tadi sudah dilaporkan, saya tidak mau banyak bicara, tadi intinya dengan 100 GW kita akan benar-benar menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki kita sendiri.

Kita tidak akan takut perkembangan apapun di bagian manapun dunia,” ujar Prabowo.

Bahkan, Presiden menjanjikan ‘bintang’ atau penghargaan khusus jika tim energi mampu merampungkan proyek ini lebih cepat dari target awal, sebagaimana pencapaian di sektor pangan.

“Dulu swasembada pangan saya beri target 4 tahun, tim ekonomi tim pertanian berhasil 1 tahun. Berarti kalau saya kasih target 3 tahun untuk tim energi, ya 2 tahun lah.

Kalau bisa dapat bintang lagi, ya aku kasih,” seloroh Presiden yang disambut tepuk tangan hadirin.

Langkah masif penambahan 100 GWp energi surya, dikombinasikan dengan optimalisasi potensi panas bumiserta peningkatan lifting minyak bumi nasional, diyakini bakal menghentikan ketergantungan impor energi Indonesia secara total.

“Dengan geothermal yang kita punya, dengan ladang-ladang gas yang kita sudah ketemukan, dengan lifting minyak yang harus naik terus ya, kita tidak boleh impor lagi satu barrel pun minyak! Kita tidak boleh impor lagi.

InsyaAllah dalam waktu sesingkat-singkatnya satu tabung LPG pun kita tidak boleh impor lagi. Percaya kurang dari 3 tahun kita akan sampai,” kata Prabowo.

Secara makro, Program PLTS 100 GWp ini bakal memberikan dampak multiplier yang sangat masif bagi perekonomian nasional.

Pemerintah mencatat penghematan devisa dan belanja energi mencapai Rp73,9 triliun per tahun, penciptaan 5,5 juta lapangan kerja baru, serta penurunan emisi karbon sebesar 140,16 juta ton CO2 per tahun.

Sebagai jangkar utama peluncuran offline, proyek PLTS+BESS Monumen Operasi Gilimanuk di Jembrana, Bali, mengusung kapasitas PLTS sebesar 198 MWp dan sistem baterai Battery Energy Storage Systemraksasa berkapasitas 666 MWh di atas lahan seluas ±211 hektare dengan target Commercial Operation Datepada 2028.

Proyek ini menjadi bagian inti dari Program “Fat Burning Bali”, yakni langkah strategis mengeliminasi total pembangkit berbahan bakar fosildi Pulau Dewata dan menggantikannya dengan kombinasi energi surya dan sistem penyimpanan BESS.

Sementara itu, tiga titik yang terhubung secara daring memperlihatkan diversifikasi teknologi aplikasi PLTS:

  1. PLTS Terapung Gajah Mungkur: Berkapasitas 134,2 MWp dengan memanfaatkan permukaan air waduk.
  2. PLTS Desa Sembur: Berkapasitas 0,92 MWp sebagai pilot project Productive Use of Energy (mendukung cold storage, pembuat es, dan kapal listrik nelayan).
  3. PLTS Pulau Rengit: Berkapasitas 0,078 MWp yang melistriki 44 Kepala Keluargadi pulau terpencil.

Tahap awal gelombang investasi energi surya ini ditandai dengan 14 proyek pertama berkapasitas total 5.216 MWp dengan nilai investasi mencapai USD 7,7 miliar (sekitar Rp135 triliun).

Gelombang awal ini diperkirakan langsung menghemat APBN hingga Rp4,6 triliun per tahun.

Rincian Proyek Siap Tender:

PLTS Terapung Jatiluhur— 1.688 MWp

PLTS Terapung Cirata— 1.250 MWp

PLTS Terapung Jatigede— 636 MWp

PLTS+BESS Klaster Madura— 605 MWp (Dukung Fat Burning Madura)

PLTS Bali Eliminasi BBM (Gilimanuk, Jembrana, Bali) — 300 MWp

PLTS Lahan Bank Tanah Purwakarta— 69 MWp

Proyek Konstruksi & Groundbreaking:

PLTS Banyuwangi — 130,2 MWp

PLTS Pasuruan — 132 MWp

PLTS Terapung Gajah Mungkur — 134,2 MWp

PLTS Terapung Karangkates — 133 MWp (Konstruksi 56,54 persen)

PLTS Terapung Saguling — 92 MWp (Konstruksi 44,4 persen)

PLTS Tembesi — 46 MWp

PLTS Desa Sembur & PLTS Pulau Rengit — Pemberdayaan Pesisir.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.