Prediksi Wall Street Pekan ini: Saham Dihantui Yield dan AI

CPO Lebih Menguntungkan untuk B50, Minyak Goreng bisa Kalah Berebut PasokanDanantara Masih Labil Soal Porsi Saham BEI, Gosipnya Angka 40,12 Beredar

PepsiCo dan Delta Air Lines menjadi beberapa perusahaan besar yang dijadwalkan merilis kinerja kuartal III pada pekan depan.

Setelah itu, musim laporan keuangan akan memasuki fase yang lebih ramai ketika bank-bank besar AS mulai menyampaikan kinerjanya pada pekan berikutnya.

Kinerja laba perusahaan sepanjang tahun ini sebelumnya berhasil melampaui proyeksi yang sudah tinggi. Kondisi tersebut ikut mendorong reli saham AS.

Namun, keberhasilan itu sekaligus membuat ekspektasi investor semakin tinggi.

Data LSEG IBES memperkirakan laba perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam S&P 500 secara keseluruhan akan meningkat lebih dari 30 persen pada kuartal III dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspektasi setinggi itu membuat laporan keuangan berikutnya menjadi ujian tersendiri.

Pasar bukan lagi sekadar menunggu perusahaan mencatat pertumbuhan laba, tetapi juga mencari bukti apakah pertumbuhan tersebut mampu memenuhi standar yang sudah telanjur tinggi.

Salah satu bagian yang paling diperhatikan adalah belanja besar perusahaan raksasa teknologi atau hyperscaler untuk membangun infrastruktur AI.

Pesta belanja tersebut selama ini ikut mengerek keuntungan banyak perusahaan yang berada di sepanjang rantai pasok teknologi.

Menurut Nelson Yu, kepala ekuitas di AllianceBernstein, kinerja pasar saham AS sangat berkorelasi dengan tema AI.

Karena itu, ketika musim laporan keuangan dimulai, ada satu angka yang menurut Yu layak menjadi perhatian utama, yakni perubahan proyeksi belanja modal para hyperscaler.

“Hal nomor satu yang harus diperhatikan terkait AI pada musim laporan keuangan mendatang adalah revisi belanja modal dari para hyperscaler,” kata Yu.

“Karena hal itu pada dasarnya dapat memulai seluruh rangkaian tersebut,” ujarnya.

Dengan kata lain, Wall Street kini tidak hanya menunggu berapa besar laba perusahaan. Investor juga ingin tahu apakah perusahaan-perusahaan raksasa teknologi masih bersedia menggelontorkan belanja modal dalam jumlah besar untuk AI.

Sebab, jika keran belanja tersebut mulai dipelankan, efeknya bisa merambat ke perusahaan-perusahaan lain yang selama ini menikmati derasnya arus investasi AI.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.