Penurunan anggaran BNPB pada 2026 tercatat hanya Rp491 miliar menurut data Laporan Keuangan Pemerintah Pusatserta Nota Keuangan Anggaran dan Pendapatan Belanja NegaraAngkanya jauh dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp2,01 triliun.
Purbaya menyatakan, BNPB setiap tahun diberikan anggaran penanggulangan bencana yang dirasa mencukupi.
“Enggak, setiap tahun BNPB dikasih cadangan Rp5 triliun. Yang kemarin kan sudah kebagian untuk Aceh, tapi kan masih cukup,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.
Menkeu menegaskan, anggaran penanggulangan bencana akan selalu diutamakan dan besarannya bisa disesuaikan tergantung kebutuhan. Purbaya juga menyebut, sementara ini dirinya belum menerima laporan kebutuhan kenaikan anggaran dari BNPB.
“Kalau bencana itu treatment-nya beda, akan kita utamakan karena menyangkut kemampuan hidup masyarakat dalam bertahan menghadapi bencana itu. Jadi, kalau mau dinaikkan, kita naikkan.
Cuma, saya belum terima permintaan dari BNPB sampai sekarang,” jelasnya.
Diketahui, jumlah anggaran BNPB 2026 jauh menurun dibanding tahun 2020 sebesar Rp11,78 triliun, 2021 sebesar Rp7,14 triliun, 2022 mencapai Rp5,05 triliun. Anggaran sempat meningkat Rp5,43 triliun pada 2023.
Sedangkan pada 2024 anggaran BNPB dikurangi menjadi Rp4,92 triliun.
Lebih lanjut, Purbaya mengumumkan bahwa dana penanggulangan bencana yang masih bisa digunakan menurut perhitungan Kemenkeu saat ini sebesar Rp900 miliar.
Dana tersebut, menurut dia, masih bisa ditambahkan apabila nilainya kurang mencukupi.
“Kata Dirjen saya, dia masih punya Rp900 miliar siap pakai. Itu pun belum habis.
Nanti kalau itu kurang, ya bisa diajukan lagi ke saya. Saya tambah,” sebutnya.
Ketika ditanya mengenai detail dan mekanisme penggunaan dana sebesar Rp5 triliun tersebut, sementara ini Purbaya belum bisa menjelaskan rinciannya.
“Sebagian dipakai, yang ready Rp900 miliaran. Tapi detail pemakaiannya yang sebelumnya saya nggak tahu. Tapi, kalau dia minta kita akan tambah lagi,” ucapnya.
“Sebagian sudah siap, sebagian mungkin masih dianggarkan. Saya nggak tahu, nanti akan cek lagi,” sambung Purbaya.
Bendahara negara tersebut menambahkan, masyarakat tidak perlu khawatir. Sebab Kemenkeu akan menyesuaikan dana yang dibutuhkan dalam penanggulangan bencana.
“Untuk anggaran bencana nggak usah khawatir, kita akan siapkan anggaran sebanyak yang dibutuhkan,” pungkasnya.
Purbaya Sebut Ruang Fiskal RI Tetap Kuat, Apa Alasannya?
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa ruang fiskal Indonesia tetap terjaga kuat. Hal ini ditopang oleh kinerja penerimaan negara yang meningkat serta pengelolaan belanja yang terkendali dan semakin produktif.
Begitu disampaikannya saat menjadi narasumber pada acara “Sarasehan 100 Ekonom Indonesia: Berlayar di Tengah Gelombang Global, Menjaga Daya Tahan Ekonomi Nasional” yang diselenggarakan pada Kamis, 3 September 2026, di Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya menerangkan bahwa hingga akhir Juli 2026, penerimaan perpajakan menunjukkan kinerja positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negarahingga akhir Juli 2026 tercatat sekitar 0,9 persen. Hal ini menunjukkan ruang fiskal yang masih cukup kuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika perekonomian ke depan.
“Tax collection sampai dengan akhir Juli tahun ini tumbuhnya hampir 30 persen dibanding tahun lalu. Jadi penerimaan kita kuat.
Ruang fiskal juga masih terbuka lebar, cukup kuat. Kalau kita lihat defisit sampai akhir Juli baru 0,9 persen defisitnya,” ungkap Menkeu dalam keterangannya dikutip, Jumat, 4 September 2026.
Lebih lanjut Purbaya menjelaskan, penguatan penerimaan tersebut berhasil dilakukan tanpa menaikkan tarif maupun mengenakan jenis pajak baru.
Alih-alih, pemerintah memilih untuk mengoptimalkan penerimaan melalui perbaikan sistem dan peningkatan kinerja.
“Memang penerimaan kita di atas perkiraan semula, dan itu terjadi tanpa kenaikan tax rate. Tarif pajaknya tidak naik, tidak ada pajak baru.
Saya cukup perbaiki saja kinerja pegawaiPajak. Sekarang pajak sudah lebih baik kinerjanya, Bea Cukai juga sama.
Makanya, saya bisa dapat angka penerimaan yang tinggi,” jelasnya.
Selain itu, Purbaya membeberkan implementasi Coretax juga telah memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan penerimaan.
Meskipun sempat menghadapi berbagai kendala pada tahap awal implementasi, penyempurnaan yang terus dilakukan memungkinkan sistem dapat berjalan semakin baik.
Dari sisi belanja, kata Purbaya, pemerintah terus memastikan agar APBN digunakan secara efektif untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Dia bilang, pemerintah akan mengendalikan belanja yang tidak diperlukan dan mengalihkannya untuk belanja yang lebih produktif.
Pada saat yang sama, APBN juga tetap menjalankan fungsi sebagai shock absorber, termasuk melalui subsidi untuk meredam dampak kenaikan harga minyak dunia.
“Kita kendalikan belanja-belanja yang tidak perlu dan kita arahkan untuk belanja yang produktif.
Sementara itu, daya beli masyarakat tetap kita jaga, termasuk dengan menyerap dampak kenaikan harga minyak dunia melalui subsidi,” tutur Purbaya.
Selain itu, efisiensi juga akan diterapkan pada pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah.
Pada program Makan Bergizi Gratis, misalnya, pemerintah terus mendorong peningkatan efisiensi melalui perbaikan tata kelola dan pemanfaatan teknologi.
Pihaknya pun turut dilibatkan dalam mendukung pengawasan pelaksanaan program tersebut melalui pemantauan Satuan Pelayanan Pemenuhan GiziSementara itu, untuk mendukung Koperasi Desa Merah Putih, pemerintah telah menyediakan anggaran sebesar Rp40 triliun untuk pembayaran cicilan dan bunga.
“Untuk KDMP kita sudah sediakan uang Rp40 triliun, sudah siap dari awal tahun itu, untuk membayar cicilan dan bunganya.
Jadi September ini akan jatuh tempo, saya pastikan uangnya siap untuk dibayar sehingga perbankan tidak goncang,” ungkapnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.