Kenaikan tersebut muncul di tengah membaiknya sentimen pasar setelah beredar laporan mengenai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang memunculkan harapan akan meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Emas spot tercatat menguat 1 persen ke level USD4.476,85 per ons pada pukul 24.41 WIB. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus ditutup naik 0,9 persen menjadi USD4.505 per ons.
Data tersebut mengacu pada laporan Reuters dari Bengaluru, Kamisatau Jumatdini hari WIB.
Pelaku pasar menafsirkan perkembangan geopolitik terbaru sebagai faktor yang mengurangi daya tarik aset berbasis dolar AS dan surat utang pemerintah.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi logam mulia untuk kembali menguat setelah sebelumnya berada dalam tekanan.
Trader logam independen Tai Wong menyebut kabar mengenai implementasi gencatan senjata antara Israel dan Lebanon telah memberikan tekanan terhadap nilai tukar dolar serta imbal hasil obligasi.
Situasi itu menjadi katalis yang membantu emas bertahan di atas level rata-rata pergerakan 200 hari, sebuah indikator teknikal yang kerap menjadi perhatian investor institusional.
Pada Rabu malam, Israel dan Lebanon mengumumkan kesepakatan untuk menjalankan gencatan senjata. Peristiwa tersebut memantik optimisme pasar bahwa jalur diplomasi yang lebih luas antara Washington dan Teheran dapat kembali terbuka.
Sentimen serupa turut mendorong harga minyak dunia merosot lebih dari 3 persen karena muncul ekspektasi bahwa Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia, berpotensi kembali beroperasi secara normal.
Indeks Dolar AStercatat melemah 0,2 persen. Pelemahan ini membuat emas menjadi lebih terjangkau bagi investor yang memegang mata uang lain.
Pada saat yang sama, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, termasuk Treasury tenor 10 tahun, meningkatkan daya tarik emas yang selama ini dikenal tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.
Menurut Wong, peluang emas untuk kembali mencetak rekor harga tertinggi dalam waktu dekat masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global.
Ia menilai pencapaian level tertinggi baru akan sulit terwujud kecuali terdapat gencatan senjata permanen yang melibatkan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang mampu menekan harga energi dan mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Sebagai aset safe-haven, emas pernah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa di level USD5.594,82 per ons pada 29 Januari.
Namun sejak eskalasi konflik yang melibatkan Iran meningkat pada akhir Februari, harga logam mulia tersebut telah terkoreksi sekitar 16 persen.
Selain faktor geopolitik, tingginya suku bunga juga menjadi hambatan karena meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk menyimpan aset yang tidak menghasilkan pendapatan tetap.
Di luar dinamika Timur Tengah, perhatian pasar kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk periode Mei yang dijadwalkan rilis pada Jumat.
Data tersebut dipandang krusial karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja sekaligus menjadi petunjuk penting terkait arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang.
Pergerakan positif juga terlihat pada logam mulia lainnya. Harga perak spot melonjak 1,7 persen menjadi USD73,95 per ons.
Platinum mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 2,1 persen ke level USD1.897,61 per ons.
Sementara itu, paladium turut menguat 1,4 persen dan ditutup pada posisi USD1.320,23 per ons, menandakan meningkatnya minat investor terhadap aset logam di tengah perubahan lanskap pasar global.