Harga Minyak Anjlok 3 Persen Efek Gencatan Senjata Israel-Lebanon

Harapan tersebut turut memunculkan spekulasi bahwa Selat Hormuz, urat nadi perdagangan energi global, dapat kembali beroperasi secara normal dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Gelombang optimisme muncul setelah Israel dan Lebanon mengumumkan kesepakatan untuk menjalankan gencatan senjata.

Perkembangan itu dianggap sebagai sinyal konstruktif yang membuka ruang bagi kebangkitan jalur diplomasi antara Washington dan Teheran menuju kesepakatan yang lebih menyeluruh.

Minyak mentah Brent, yang menjadi tolok ukur internasional, ditutup merosot USD2,78 atau 2,84 persen ke level USD95,03 per barel.

Berdasarkan laporan Reuters dari Houston pada Kamisatau Jumatpagi WIB, pelemahan tersebut mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga energi.

Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediatesebagai acuan pasar Amerika Serikat juga mengalami koreksi tajam. Kontrak berjangka WTI turun USD2,98 atau 3,1 persen dan menetap di posisi USD93,04 per barel.

Pada Rabu malam, Israel dan Lebanon secara resmi mengumumkan kesepakatan implementasi gencatan senjata. Langkah itu dipandang sebagai fondasi awal bagi upaya deeskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, Iran menyatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat sebagian besar bergantung pada berakhirnya konflik antara Israel dan Hizbullah, kelompok yang mendapat dukungan Teheran dan beroperasi dari Lebanon.

Mitra Again Capital, John Kilduff, menilai fokus pelaku pasar kini mulai bergeser.

Jika sebelumnya perhatian tertuju pada ancaman terganggunya pasokan energi global, kini investor lebih banyak mencermati prospek penyelesaian konflik yang berpotensi mengurangi ketegangan kawasan.

Menurut Kilduff, perkembangan terbaru antara Israel dan Lebanon telah mengikis sentimen bullish yang sebelumnya menjadi bahan bakar reli harga minyak.

Euforia pasokan yang sempat mengangkat pasar perlahan memudar seiring munculnya peluang diplomasi.

Padahal sehari sebelumnya, harga minyak sempat menguat sekitar 2 persen.

Lonjakan itu dipicu meningkatnya eskalasi di Timur Tengah, termasuk serangan Iran terhadap Kuwait serta operasi militer Amerika Serikat di sekitar kawasan Selat Hormuz yang memperbesar kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi energi.

Senior Vice President Trading BOK Financial, Dennis Kissler, berpandangan bahwa tekanan harga saat ini lahir dari ekspektasi pasar terhadap berlanjutnya pembicaraan damai antara Washington dan Teheran.

Kesepakatan yang dicapai Israel dan Lebanon dianggap sebagai katalis yang membuka peluang dialog lebih lanjut.

Ia juga mengungkapkan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih berada pada level yang sangat terbatas. Kendati demikian, sejumlah kapal mulai bergerak menuju kawasan Teluk Persia.

Fenomena tersebut dipandang sebagai indikasi bahwa pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan jalur strategis itu kembali dibuka dalam waktu dekat.

Di ranah politik domestik Amerika Serikat, Dewan Perwakilan Rakyat yang dikuasai Partai Republik menyetujui resolusi yang bertujuan membatasi Presiden Donald Trump untuk melanjutkan perang terhadap Iran.

Namun, agar memiliki kekuatan hukum, langkah tersebut masih harus memperoleh persetujuan Senat serta dukungan dua pertiga suara di kedua kamar Kongres guna meniadakan veto presiden yang hampir pasti akan diajukan.

Meski harga minyak mengalami tekanan signifikan, sejumlah analis belum sepenuhnya meninggalkan prospek kenaikan. Mereka menilai pasar masih rentan terhadap gejolak apabila hambatan pasokan terus berlanjut.

“Dalam pandangan kami, jalur yang paling mudah bagi harga masih mengarah ke atas selama arus pasokan tetap terbatas,” ujar analis UBS, Giovanni Staunovo.

Dari sisi suplai global, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengakui produksi minyak negaranya mengalami penyusutan sejak awal tahun. Penurunan tersebut dipicu oleh pekerjaan pemeliharaan kilang yang berlangsung di luar jadwal.

Pernyataan itu menjadi pengakuan resmi pertama dari pejabat tinggi Rusia terkait melemahnya produksi minyak nasional sepanjang tahun ini.

Sementara itu, data terbaru dari Badan Informasi Energi Amerika Serikatmenunjukkan persediaan minyak mentah AS menyusut 8 juta barel menjadi 433,7 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei.

Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi analis dalam survei Reuters yang sebelumnya memperkirakan penurunan hanya sekitar 4 juta barel.

Pada pasar fisik, minyak Iran mulai diperdagangkan dengan diskon untuk pertama kalinya sejak April.

Pada saat yang sama, premi minyak mentah Rusia ikut melemah karena para pedagang memangkas harga guna menarik minat pembeli dari China yang tengah menghadapi perlambatan permintaan.

Terlepas dari ketidakpastian yang masih membayangi Timur Tengah serta belum normalnya operasional Selat Hormuz, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyaktetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan konsumsi energi global.

Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, dalam Forum Ekonomi Internasional St.

Petersburg menegaskan bahwa organisasi tersebut masih melihat permintaan minyak dunia berada pada lintasan yang kuat dan belum menemukan alasan untuk merevisi estimasi pertumbuhan konsumsi global.