Penurunan terjadi di tengah kenaikan imbal hasil US Treasury, lonjakan harga minyak, kekhawatiran terhadap beban utang, serta sikap investor yang lebih berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve.
Tiga indeks utama mencatat penurunan. Dow Jones Industrial Average turun 328,09 poin atau 0,63 persen menjadi 52.093,11.
S&P 500 terkoreksi 34,25 poin atau 0,45 persen ke 7.585,73, sementara Nasdaq Composite melemah 204,84 poin atau 0,78 persen menjadi 25.981,57.
Tekanan terlihat hampir di seluruh sektor S&P 500. Dari 11 sektor utama, consumer discretionary menjadi sektor dengan penurunan terbesar.
Sebaliknya, sektor energi bergerak berlawanan arah dengan kenaikan 2,3 persen, ditopang penguatan harga minyak mentah di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Harga minyak menjadi salah satu perhatian utama pasar. Kontrak WTI untuk pengiriman terdekat ditutup melonjak 4,4 persen, sedangkan Brent naik 2,9 persen.
Kontrak berjangka diesel bahkan mencatat rekor tertinggi. Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan perhatian investor terhadap kemungkinan munculnya tekanan inflasi yang lebih luas.
Presiden Chase Investment Counsel Peter Tuz, mengatakan kenaikan harga bahan bakar, khususnya diesel, menjadi salah satu alasan investor cenderung tidak agresif memasuki pasar sebelum sejumlah ketidakpastian mereda.
Selain harga energi, pasar juga menghadapi ekspektasi kenaikan suku bunga dan kekhawatiran mengenai perlambatan ekosistem teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Menanti Keputusan Suku Bunga
Perhatian pasar terutama tertuju pada Federal Reserve yang tengah menggelar rapat kebijakan moneter selama dua hari. Pertemuan tersebut dijadwalkan berakhir pada Rabu dengan pengumuman keputusan suku bunga.
Data ekonomi terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih berada dalam kondisi relatif solid. Pada saat yang sama, kenaikan harga energi akibat konflik mulai menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi.
Kedua faktor tersebut membuat arah kebijakan moneter The Fed menjadi semakin penting bagi pergerakan aset keuangan.
Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga pada Rabu mencapai 94,5 persen, naik tajam dari 33,1 persen sebulan sebelumnya.
Ekspektasi tersebut menguat setelah data inflasi Amerika Serikat pekan lalu menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dari perkiraan dan harga minyak mentah AS meningkat hampir 25 persen dalam dua pekan.
Jika kenaikan 25 basis poin terealisasi, kebijakan tersebut akan menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam lebih dari tiga tahun, berdasarkan data yang dikutip dalam laporan tersebut.
Namun, perhatian pasar tidak berhenti pada keputusan satu kali tersebut. Paul Nolte, analis Murphy & Sylvest, mengatakan arah kebijakan berikutnya dapat bergantung pada perkembangan harga minyak.
Menurut dia, minyak merupakan salah satu sumber utama tekanan inflasi dan dampaknya mulai terlihat pada bagian lain perekonomian.
Kenaikan Yield Jadi Beban Pendanaan
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Imbal hasil US Treasury acuan menembus 5 persen dan mencapai level tertinggi sejak 2007.
Kenaikan yield tersebut menjadi faktor penting bagi valuasi saham karena meningkatkan biaya pendanaan sekaligus membuat aset berpendapatan tetap menjadi semakin kompetitif dibandingkan aset berisiko.
Tekanan tersebut terutama relevan bagi perusahaan dengan kebutuhan pembiayaan besar.
Perusahaan teknologi yang mengeluarkan investasi dalam jumlah besar untuk membangun infrastruktur AI dan pusat data menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian pasar.
Kekhawatiran terhadap tingginya kebutuhan modal, biaya utang, serta potensi perlambatan investasi AI ikut membebani saham sektor teknologi.
Indeks Philadelphia SE Semiconductor, yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong kenaikan pasar saham sepanjang tahun berjalan, hanya mampu menguat 0,4 persen pada Selasa setelah sebelumnya tertekan dalam perdagangan Senin.
Pergerakan tersebut menunjukkan pemulihan saham semikonduktor belum sepenuhnya menghapus tekanan dari sesi sebelumnya.
Di pasar individual, Dave & Buster’s menjadi salah satu saham yang mengalami penurunan terbesar setelah pendapatan kuartal kedua perusahaan berada di bawah ekspektasi.
Sebaliknya, saham Waystar melonjak 7,1 persen setelah Reuters melaporkan perusahaan perangkat lunak layanan kesehatan tersebut sedang mengeksplorasi sejumlah opsi strategis, termasuk kemungkinan penjualan.
Pasar Kripto Tak Kuat Hadapi Tekanan
Tekanan juga terlihat pada aset kripto. Bitcoin melemah setelah Senat Amerika Serikat tidak melanjutkan pembahasan undang-undang komprehensif mengenai cryptocurrency.
Perkembangan tersebut turut menekan saham perusahaan yang berkaitan dengan aset digital. Coinbase terkoreksi 10,1 persen, sedangkan Strategy turun 5,4 persen.
Data breadth pasar memperlihatkan tekanan jual berlangsung cukup luas. Di NYSE, jumlah saham yang turun dibandingkan saham yang naik mencapai rasio 2,56 banding 1.
Sebanyak 113 saham mencatat level tertinggi baru, sementara 673 saham mencapai level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 1.439 saham menguat dan 3.356 saham melemah, sehingga rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 2,33 banding 1.
S&P 500 mencatat 14 saham berada pada level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 18 saham pada level terendah baru.
Di Nasdaq Composite, 52 saham mencetak level tertinggi baru, sedangkan 264 saham mencapai level terendah baru.
Aktivitas perdagangan juga meningkat. Volume transaksi di Wall Street mencapai 15,85 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 15,14 miliar saham per sesi selama 20 hari terakhir.
Dengan demikian, perdagangan Selasa menunjukkan pasar berada dalam fase menunggu keputusan The Fed dengan perhatian tertuju pada tiga faktor utama: arah suku bunga, perkembangan harga minyak, dan dampaknya terhadap inflasi serta biaya pendanaan.
Pergerakan saham energi yang menguat di tengah pelemahan hampir seluruh sektor menunjukkan bahwa kenaikan harga komoditas menjadi salah satu faktor yang membedakan kinerja antar-sektor pada sesi tersebut.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.