Harga Emas Global Bergejolak, Cek Logam Antam Hari ini

Penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta lonjakan harga minyak menjadi sejumlah faktor yang membuat pasar logam mulia bergerak lebih hati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve.

Emas spot turun 0,1 persem menjadi USD4.293,29 per troy ons. Pada awal pekan, harga emas bahkan sempat menyentuh level terendah sejak 7 Agustus.

Sementara itu, emas berjangka AS untuk kontrak Desember turun 0,4 persen menjadi USD4.332,80 per ons.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap emas tidak hanya berasal dari aksi ambil untung, tetapi juga dari perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS.

Pelaku pasar kini menunggu hasil rapat Federal Open Market Committeeyang berlangsung selama dua hari dan keputusan suku bunga yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu waktu Amerika Serikat atau Kamispukul 01.00 WIB.

Arah Kebijakan The Fed Jadi Penentu

Pasar keuangan secara luas memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen.

Perhatian investor tidak hanya tertuju pada keputusan tersebut, tetapi juga pada pernyataan bank sentral setelahnya.

Komunikasi The Fed akan menjadi petunjuk mengenai apakah kenaikan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pengetatan atau apakah pembuat kebijakan akan mengambil jeda untuk memantau perkembangan inflasi dan ekonomi.

Analis StoneX Daniel Pavilonis mengatakan kenaikan harga energi dapat meningkatkan inflasi, yang pada akhirnya membuka ruang bagi suku bunga lebih tinggi.

Kondisi tersebut menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak menghasilkan bunga.

Menurut Pavilonis, sebagian kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga kemungkinan telah tercermin dalam harga emas. Karena itu, respons pasar setelah keputusan The Fed akan sangat bergantung pada nada kebijakan yang disampaikan.

Apabila suku bunga diperkirakan bertahan tinggi dalam periode lebih lama, emas masih menghadapi tekanan dari sisi biaya peluang kepemilikan.

Faktor lain yang menekan emas adalah penguatan dolar AS. Karena emas diperdagangkan menggunakan dolar, penguatan mata uang tersebut membuat harga emas relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Kondisi ini dapat mengurangi permintaan ketika investor global menyesuaikan portofolionya terhadap perubahan nilai tukar.

Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun meningkat ke level tertinggi sejak 2007.

Kenaikan yield menjadi perhatian bagi pasar emas karena obligasi pemerintah AS menawarkan imbal hasil, sementara emas tidak memberikan pembayaran bunga secara berkala.

Harga Minyak Melambung Usai Libya Tutup Tiga Ladang

Hubungan antara harga minyak dan emas juga menjadi semakin penting dalam perdagangan kali ini. Harga minyak mentah melonjak lebih dari USD3 per barel setelah aktivitas pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, dilaporkan dihentikan. Libya juga menghentikan operasi di tiga ladang minyak.

Gangguan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi global. Jika gangguan berlangsung lebih lama, risiko kenaikan harga energi dapat semakin besar.

Bagi pasar keuangan, persoalannya bukan hanya kenaikan harga minyak, melainkan dampaknya terhadap inflasi.

Kenaikan harga energi dapat membuat tekanan harga menjadi lebih sulit mereda. Dalam kondisi tersebut, bank sentral memiliki ruang yang lebih terbatas untuk melonggarkan kebijakan.

Inilah yang membuat harga minyak menjadi salah satu variabel penting bagi pergerakan emas menjelang keputusan FOMC.

Analis ING menilai sebagian besar risiko kebijakan hawkish The Fed telah diperhitungkan pasar.

Namun, harga emas masih rentan apabila pembuat kebijakan memberikan sinyal bahwa suku bunga akan dipertahankan pada level tinggi dalam waktu lebih lama.

Di pasar logam mulia lainnya, perak spot justru menguat 0,3 persen menjadi USD63,41 per ons. Platinum naik 0,7 persen ke USD1.772,32 per ons, sedangkan paladium bertambah 0,1 persen menjadi USD1.294,14 per ons.

Bagaimana dengan Emas dan Perak Antam?

Di dalam negeri, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbkpada 16 September 2026 turun Rp10.000 menjadi Rp2.592.000 per gram. Sementara harga buyback berada di Rp2.437.000 per gram.

Perbedaan antara harga jual dan buyback tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan ketika menghitung hasil investasi emas fisik dalam jangka pendek.

Pergerakan emas Antam juga tidak hanya mengikuti harga emas dunia. Harga domestik turut dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kondisi permintaan di pasar dalam negeri.

Karena itu, pelemahan emas dunia tidak selalu diterjemahkan dalam persentase yang sama pada harga emas Antam.

Tekanan juga terlihat pada pasar perak domestik. Harga dasar perak murni Antam berada di level Rp41.510 per gram.

Untuk produk batangan, pecahan 250 gram tercatat Rp10.777.500 sebelum pajak atau sekitar Rp11.963.025 setelah PPN 11 persen.

Sementara pecahan 500 gram berada di Rp20.755.000 sebelum pajak atau sekitar Rp23.038.050 setelah PPN 11 persen.

Pergerakan perak domestik mengikuti pelemahan harga perak dunia yang berada di kisaran USD63-USD64 per troy ons. Penguatan dolar dan sikap wait-and-see investor menjelang keputusan The Fed menjadi faktor yang turut memengaruhi harga.

Dibandingkan emas, perak juga memiliki karakter pergerakan yang lebih volatil sehingga perubahan harga dapat berlangsung lebih tajam dalam periode pendek.

Dengan demikian, pasar logam mulia memasuki perdagangan 16 September dengan sejumlah katalis yang saling berpengaruh.

Harga emas menghadapi tekanan dari dolar dan yield Treasury, sementara harga minyak yang melonjak meningkatkan risiko inflasi.

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor yang dapat memengaruhi permintaan terhadap aset lindung nilai.

Keputusan The Fed menjadi katalis terdekat yang akan menentukan arah pasar. Namun, respons emas tidak hanya bergantung pada besaran perubahan suku bunga.

Nada pernyataan bank sentral mengenai inflasi, harga energi dan prospek kebijakan berikutnya akan menjadi perhatian utama investor.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.