Sempat Parkir di 18.000, Rupiah Ditutup Melemah Tiga Poin

Tekanan datang dari penguatan dolar AS, lonjakan imbal hasil US Treasury, serta kenaikan harga minyak yang memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup pada Rp17.981 per dolar AS, melemah tipis 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan posisi penutupan Senin di Rp17.978. Namun, pergerakan intraday menunjukkan tekanan yang lebih besar.

Rupiah sempat menyentuh Rp18.010 per dolar AS, menjadi level terlemah sejak awal Agustus, sebelum kembali bergerak di bawah Rp18.000 menjelang penutupan.

Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar valuta asing global menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Imbal hasil US Treasury 10 tahun sempat mencapai 5,27 persen, level tertinggi dalam 19 tahun.

Kenaikan yield membuat aset berbasis dolar AS relatif lebih menarik sekaligus meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Bagi rupiah, kombinasi antara yield AS yang tinggi dan harga minyak yang meningkat menjadi persoalan yang saling berkaitan.

Harga Brent pada Selasa berada di sekitar USD106 per barel dalam perdagangan global, di tengah ketidakpastian konflik AS-Iran dan prospek pasokan energi.

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga minyak membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan pengetatan moneter lanjutan oleh The Fed.

Pandangan tersebut muncul setelah bank sentral AS pada 16 September menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen sampai 4 persen.

Dalam pernyataannya, The Fed juga menyebut inflasi masih berada pada level yang tinggi.

Pasar kemudian mencermati peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Ibrahim menyebut CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan pada Oktober berada sekitar 70 persen.

Angka tersebut merupakan ekspektasi pasar berbasis harga kontrak Fed Funds futures, bukan keputusan The Fed. CME sendiri menjelaskan FedWatch menghitung probabilitas perubahan suku bunga berdasarkan harga kontrak tersebut.

Karena itu, data ekonomi Amerika Serikat menjadi penting bagi arah rupiah dalam beberapa hari ke depan. Pasar akan mencermati data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE, ISM PMI, serta Nonfarm Payrolls.

Data tersebut dapat memengaruhi penilaian investor terhadap tekanan inflasi, kondisi ekonomi AS dan ruang perubahan kebijakan The Fed.

Tekanan rupiah juga tidak hanya berasal dari ekspektasi suku bunga. Fakhrul Fulvian, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi global sebagai salah satu pemicu pelemahan rupiah.

Menurutnya, kenaikan yield AS dapat meningkatkan daya tarik aset dolar sehingga mendorong penyesuaian pada mata uang negara berkembang.

Reuters juga mencatat Fulvian menilai pembelian obligasi secara agresif oleh Bank Indonesia turut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam dinamika nilai tukar.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, Indonesia justru menetapkan asumsi nilai tukar yang cukup jauh dari posisi pasar saat ini dalam APBN 2027.

Pemerintah dan DPR menyepakati asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS untuk 2027.

Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 6 persen, inflasi 2,5 persen, harga minyak mentah Indonesia USD75 per barel, dan lifting minyak 612,5 ribu barel per hari.

Dengan posisi rupiah Rp17.981 pada penutupan 29 September, terdapat selisih sekitar Rp481 per dolar AS atau sekitar 2,75 persen dibandingkan asumsi APBN 2027.

Selisih ini belum tentu menjadi masalah fiskal secara langsung karena nilai tukar aktual akan bergerak dinamis sepanjang tahun.

Namun, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memasuki 2027 dengan asumsi kurs yang lebih kuat dibandingkan posisi pasar saat ini.

Dari sisi fiskal, APBN 2027 menetapkan pendapatan negara sebesar Rp3.435,1 triliun dan belanja negara sekitar Rp4.106,2 triliun, sehingga defisit dipatok 2,4 persen terhadap PDB.

Pemerintah menyatakan kebijakan fiskal tetap ekspansif, tetapi defisit dijaga di bawah batas 3 persen sesuai ketentuan.

Persoalannya, pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan pada sejumlah komponen APBN secara bersamaan. Rupiah yang lebih lemah meningkatkan nilai rupiah dari pembayaran atau kebutuhan yang terkait dolar AS.

Sementara harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya energi dan berpotensi memengaruhi subsidi maupun kompensasi energi.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga memiliki konsekuensi terhadap inflasi. Jika harga energi bertahan tinggi, tekanan terhadap harga barang dan jasa dapat meningkat melalui biaya transportasi dan produksi.

Kondisi tersebut berpotensi mempersempit ruang pelonggaran moneter jika tekanan inflasi menjadi lebih persisten.

Di sinilah pergerakan rupiah menjadi lebih dari sekadar angka kurs harian. Level Rp18.000 mempertemukan tiga tekanan sekaligus, yield AS yang tinggi, harga minyak yang meningkat, dan kebutuhan menjaga kredibilitas asumsi makro APBN 2027.

Penutupan rupiah di Rp17.981 memang menunjukkan pelemahan harian yang tipis. Namun, sempatnya kurs menembus Rp18.000 memperlihatkan bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya mereda.

Bagi pemerintah dan Bank Indonesia, tantangannya bukan hanya menjaga rupiah pada level tertentu, tetapi memastikan stabilitas nilai tukar tetap berjalan bersamaan dengan pengendalian inflasi dan pembiayaan ekonomi.

Dalam beberapa hari ke depan, arah rupiah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan yield US Treasury, harga minyak, data ekonomi Amerika Serikat, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Di dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati bagaimana asumsi kurs Rp17.500 dalam APBN 2027 diterjemahkan ke dalam kebijakan fiskal dan moneter ketika kondisi eksternal masih bergerak cepat.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.