Sentimen Konsumen AS Mendekati Rekor Terendah dalam Sejarah, Apa Penyebabnya?

Pandu bakal Kelola Dividen Danantara Rp120 TriliunDanantara Satukan 23 BUMN, Targetkan Kawasan Industri Terbesar ASEAN

Knightley menilai kondisi tersebut dapat memberikan waktu bagi perekonomian untuk memperoleh kelegaan dari tekanan energi.

Penurunan harga bahan bakar kendaraan dan membaiknya prospek pekerjaan diharapkan dapat membantu rumah tangga secara lebih luas.

Namun, ia mengingatkan bahwa keadaan bisa berubah cepat jika pasar saham mengalami koreksi. Ketika kekayaan rumah tangga berpendapatan tinggi ikut tergerus, salah satu penopang utama konsumsi AS berpotensi melemah.

Di tengah pelemahan sentimen, kekhawatiran masyarakat terhadap inflasi juga belum mereda.

Survei University of Michigan menunjukkan ekspektasi inflasi untuk satu tahun ke depan naik menjadi 4,7 persen pada Oktober, dari 4,6 persen pada September.

Angka tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan posisi 3,4 persen pada Februari, sebelum perang AS-Israel dengan Iran dimulai. Ekspektasi inflasi untuk lima tahun mendatang juga naik menjadi 3,5 persen, dari 3,4 persen pada September.

Kenaikan ekspektasi inflasi menjadi persoalan penting bagi Federal Reserve karena persepsi masyarakat terhadap kenaikan harga dapat memengaruhi keputusan konsumsi, upah, dan penetapan harga perusahaan.

Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga lanjutan dalam waktu dekat mulai berkurang setelah pertumbuhan jumlah tenaga kerja pada September tidak terlalu kuat dan inflasi pada Juli serta Agustus tercatat lebih rendah daripada perkiraan.

Ekonom masih memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember.

Bagi pemerintahan Trump, persoalannya kini bukan hanya bagaimana menjaga pertumbuhan ekonomi, melainkan juga memastikan masyarakat merasakan manfaatnya.

Ketika rumah tangga berpendapatan tinggi masih mampu berbelanja sementara kelompok lain terpaksa memangkas pengeluaran, angka pertumbuhan ekonomi belum tentu cukup untuk meredakan kegelisahan pemilih.

Menjelang pemilu, kenaikan harga kebutuhan hidup dan merosotnya keyakinan konsumen menjadi ujian bagi pemerintah. Pasar saham yang kuat mungkin masih dapat menopang konsumsi untuk sementara waktu.

Namun, jika tekanan harga dan biaya hidup terus berlanjut, daya tahan belanja rumah tangga AS akan semakin bergantung pada seberapa lama kelompok berpendapatan tinggi mampu menjaga pengeluarannya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.