Tak Hanya Filipina, WTON Jajaki Peluang Bisnis di Sejumlah Negara ASEANIntip Detail Rumah WHOME WIKA Betondi Danantara Housing Expo 2026
Dengan kondisi tersebut, WIKA Beton berupaya menjaga pertumbuhan dan arus kas di tengah tekanan belanja pemerintah. Perseroan menilai diversifikasi pelanggan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kesinambungan bisnis.
Pendapatan Rp1,48 Triliun
Selain kontrak baru, WIKA Beton mencatat pendapatan usaha sebesar Rp1,48 triliun hingga kuartal II 2026. Segmen swasta menjadi sumber pendapatan terbesar dengan kontribusi 68,7 persen.
Selanjutnya, pelanggan BUMN menyumbang 27,1 persen, sedangkan WIKA dan afiliasinya berkontribusi sekitar 4 persen.
Berdasarkan lini usaha, pendapatan terbesar berasal dari produk beton putar dengan kontribusi 47,9 persen. Beton non-putar menyumbang 34,4 persen, konstruksi 13,3 persen, dan jasa 4,4 persen.
Dari sisi wilayah, sekitar 60 persen proyek berada di Pulau Jawa, 21 persen di Sumatra, 9,3 persen di Kalimantan, dan 7 persen tersebar di Sulawesi, Maluku, serta Papua.
Kuntjara mengatakan perseroan tetap berupaya menjaga profitabilitas di tengah dinamika pasar konstruksi. Pada kuartal II 2026, gross profit margintercatat 6,64 persen, operating income margin 1,83 persen, dan net profit margin 0,07 persen.
Sementara itu, tingkat utilisasi pabrik meningkat menjadi 39,8 persen dari 34 persen pada 2025.
Dari sisi neraca, gearing ratio tercatat 4,6 persen dan debt to equity ratio71 persen. Current ratio juga meningkat dari 113 persen menjadi 130,9 persen.
Menurut Kuntjara, indikator tersebut menunjukkan adanya perbaikan pada leverage dan likuiditas perseroan. “Likuiditas kami semakin membaik, struktur keuangan lebih sehat,” katanya.
Perbaikan juga terlihat pada arus kas. Penurunan kas dan setara kas pada kuartal II 2026 tercatat minus Rp68 miliar, membaik dibandingkan minus Rp402 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada akhir periode, saldo kas dan setara kas WIKA Beton tercatat Rp343 miliar.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.