Dalam paparannya, terdapat sejumlah indikator yang menunjukkan tekanan di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Nilai tukar rupiah, harga minyak mentah Indonesia, dan inflasi menjadi tiga indikator yang perlu dicermati pemerintah menjelang akhir tahun anggaran.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Oktober 2026, realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen.
Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini dapat mencapai 5,6 persem, lebih tinggi dibandingkan asumsi APBN 2026 sebesar 5,4 persen.
Kementerian Keuanganmencatat inflasi Indonesia hingga September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan atau year-on-year, lebih tinggi dibandingkan asumsi APBN 2026 sebesar 2,5 persen.
“Pertumbuhan ekonomi 5,45 persen. Sambil kita menunggu angka Q3 dari BPS, inflasi 3,28 persen. Tadi saya katakan kita comfortable dengan angka ini.
Suku bunga SBN rata-rata setahun year-to-date-nya) adalah 6,8 persen, dan ini ada di sekitar angka APBN yang kita proyeksikan 6,9 persen,” ujar Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat, 9 Oktober 2026.
Dalam proyeksi terbaru, pemerintah memperkirakan inflasi sepanjang 2026 berada di level 2,7 persen.
Angka tersebut masih lebih tinggi daripada asumsi awal APBN, meskipun berada dalam rentang sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5 persen dengan deviasi 1 persen.
Kemenkeu menjelaskan, inflasi yang terkendali didukung penurunan harga pangan bergejolak atau volatile food dan harga yang diatur pemerintah atau administered prices.
Kebijakan harga energi dan pangan menjadi salah satu instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat.
Meski demikian, realisasi inflasi September memperlihatkan bahwa tekanan harga masih menjadi bagian dari dinamika perekonomian yang perlu diperhatikan.
Pergerakan harga pangan dan energi berpotensi memengaruhi pengeluaran rumah tangga sekaligus kebutuhan belanja pemerintah, terutama saat pemerintah harus menjaga keterjangkauan harga barang strategis.
Rupiah Melemah, Proyeksi Nilai Tukar Bergeser ke Rp17.500
Tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah.
Dalam paparan tersebut, nilai tukar rupiah tercatat mencapai Rp17.937 per dolar Amerika Serikatpada posisi akhir periode atau end of period, sedangkan rata-rata tahun berjalan atau year to dateberada di level Rp17.449 per dolar AS.
Realisasi tersebut menunjukkan nilai tukar rupiah bergerak lebih lemah dibandingkan asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS.
“Nilai tukar rata-rata setahunnya adalah Rp17.449 dan ini memang year-to-date.
Ini adalah angka rata-rata 1 tahun, rata-rata setiap hari, kalau hari ini mungkin 17,8 atau 17,9, tapi rata-rata setahunnya Rp17.449, memang ini lebih tinggi dari nilai tukar yang kita pakai di dalam APBN. Karena itu harus kita mitigasi dampaknya,” jelas Suahasil.
Pemerintah kemudian memperkirakan nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada di level Rp17.500 per USD. Pelemahan rupiah menjadi perhatian dalam pengelolaan APBN karena dapat memengaruhi sejumlah komponen belanja dan penerimaan negara.
Selain itu, perubahan nilai tukar berpotensi meningkatkan kebutuhan rupiah untuk membiayai kewajiban dalam mata uang asing, meskipun dampak akhirnya bergantung pada struktur transaksi dan kebijakan yang diterapkan pemerintah.
Risiko Belanja Energi Meningkat
Tekanan paling menonjol dalam kelompok indikator energi terlihat pada harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude PriceKemenkeu mencatat harga minyak mentah Indonesia mencapai USD91,9 per barel hingga September 2026.
Angkanyanya jauh di atas asumsi APBN sebesar USD70 per barel. Pemerintah memperkirakan rata-rata harga minyak mentah Indonesia sepanjang tahun ini berada di level USD83 per barel.
Dengan proyeksi tersebut, harga minyak diperkirakan tetap berada di atas asumsi awal APBN meskipun lebih rendah daripada realisasi yang tercatat hingga September.
“Dengan harga minyak yang meningkat terus seperti hari ini, maka angka USD91,9 ini besok-besok akan meningkat dia, dan kalau dia meningkat maka subsidi juga akan meningkat.
Ini semua punya dampak langsung kepada APBN dan pasti harus kita serap dan kita pastikan ada pembayaran nantinya,” kata Suahasil.
Kemenkeu menyatakan, dinamika harga minyak dipengaruhi gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah serta perkembangan resolusi dengan Amerika Serikat.
Imbal Hasil SBN dan Produksi Minyak Belum Sesuai Target
Selain nilai tukar dan harga minyak, imbal hasil Surat Berharga Negaratenor 10 tahun juga menunjukkan pergerakan yang perlu diperhatikan.
Kemenkeu mencatat imbal hasil SBN tenor 10 tahun berada di level 7,17 persen pada posisi akhir periode dan 6,82 peraen secara year to date.
Sementara itu, asumsi APBN 2026 ditetapkan sebesar 6,9 persen, dengan proyeksi terbaru juga berada di level 6,9 persen.
Untuk sektor energi domestik, realisasi lifting minyak hingga September 2026 mencapai 573,9 ribu barel per hari.
Angka tersebut masih di bawah asumsi APBN sebesar 610 ribu barel per hari, sedangkan proyeksi terbaru berada di level 606 ribu barel per hari.
Adapun lifting gas tercatat sebesar 929,7 ribu barel setara minyak per hari, terhitung lebih rendah dibandingkan target APBN sebesar 984 ribu barel setara minyak per hari.
Pemerintah memperkirakan lifting gas sepanjang 2026 mencapai 931 ribu barel setara minyak per hari. Kemenkeu menyatakan pemerintah terus berupaya mengoptimalkan lifting minyak dan gas di tengah volatilitas pasar komoditas.
“Lifting minyak sekarang di 573,9 ribu barel per hari, di bawah dari asumsi 610 ribu, dan lifting gas 929,7 ribu setara barel minyak per hari, di bawah asumsi di 984.
kalau dia di bawah asumsi, berarti penerimaan negara juga tidak sesuai dengan target yang berasal dari lifting minyak dan gas bumi,” pungkas Suahasil.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.