Hal ini pun memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bank central Amerika Serikat, The Fed pada pekan ini.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,8 persen menjadi USD4.312,59 per ons pada pukul 13.30 EDT, setelah jatuh ke level terendah sejak 7 Agustus.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup di harga USD4.351,90 atau melemah 1,3 persen.
Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange menyampaikan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia per kemarin cukup berdampak terhadap pergerakan harga emas.
“Harga minyak mentah hari ini melonjak tajam, yang mendorong ekspektasi inflasi dan menunjukkan bahwa bank sentral utama dunia harus memperketat kebijakan moneter mereka untuk mengendalikan inflasi, dan itu berdampak negatif bagi logam mulia,” kata Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange.
Diketahui, harga minyak mentah Brent berjangka naik 1,0 persen ke level USD105,68 per barel. Sementara minyak mentah West Texas IntermediateAS ikut terkerek menjadi USD101,39 atau naik 1,3 persen.
Sebagian besar ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada pekan ini atau Rabu, 16 September 2026 waktu AS, dan melakukan setidaknya satu kenaikan lagi.
Menurut CME FedWatch Tool, para pedagang memperkirakan sekitar 93 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed.
Bank Sentral Jepang juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada hari Jumat, di tengah kenaikan harga energi dan sedikit tanda meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Meskipun emas biasanya dianggap sebagai pelindung terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini.
Di antara logam lainnya, harga perak spot turun 1,2 persen menjadi USD63,71 per ons, platinum menyusut 1,6 persen ke level 1.768,17 dan paladium melemah 0,7 persen ke harga USD1.290,41.
Berpotensi Menuju USD4.102, Proyeksi Harga Emas Dunia Pekan ini
Sebelumnya diberitakan, harga emas dunia dan logam mulia diproyeksikan bakal bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan ini. Kondisi ini tidak lepas dari eskalasi ketegangan geopolitik global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mencatat pada perdagangan Sabtu, 12 September 2026, harga emas dunia parkir di level USD4.348 per troy ons.
Ia memprediksi harga emas dunia pada pekan ini akan berkutat di rentang USD4.102 hingga USD4.650 per troy ons.
Apabila harga emas dunia mengalami tekanan dan terkoreksi, area support pertama diperkirakan berada di level USD4.245 per troy ons.
“Kemudian kalau seandainya turun lagi kemungkinan di USD4.102 dolar per troy ons,” ujar dia dalam keterangannya, Minggu, 13 September 2026.
Sebaliknya, jika mengalami tren penguatan, kata Ibrahim, emas dunia berpotensi menguji level resisten pertama di kisaran USD4.479 per troy ons.
Harga emas dinilai juga berpeluang menuju resisten kedua di level USD4.650 per troy ons apabila mampu melanjutkan penguatan.
Di sisi lain, Ibrahim mengatakan harga logam mulia di pasar domestik yang per kemarin ditutup pada level Rp2.611.000 per gram, diperkirakan bergerak di rentang Rp2.450.000 hingga Rp2.750.000 per gram pada pekan ini.
“Kalau terkoreksi kemungkinan besar support pertama di Rp2.590.000 per gram. Apabila lanjut melemaj support keduanya di harga Rp2.450.000 rupiah per gram,” jelas dia.
Namun, apabila harga terdorong naik, Ibrahim menargetkan resisten pertama logam mulia pekan ini berada pada level Rp2.631.000 per gram dan resisten kedua di posisi Rp2.750.000 per gram.
Lebarnya selisih pergerakan harga emas tersebut sangat dipengaruhi oleh memanasnya situasi geopolitik di berbagai kawasan, mulai dari Eropa Timur hingga Afrika.
Ibrahim menyoroti konflik sporadis antara Rusia dan Ukraina di yang diperkirakan bakal berlangsung lama, bahkan berpotensi berlanjut hingga tiga sampai empat tahun ke depan akibat perselisihan klaim wilayah.
‘Bisa saja 3-4 tahun ke depan masih akan terjadi perang karena permasalahan wilayah Ukraina yang dikuasai oleh Rusia,” terangnya.
Kondisi tersebut makin pelik lantaran pihak Ukraina sulit menerima penguasaan wilayah oleh Rusia. Akibatnya, pertempuran terus meluas dengan sasaran utama Ukraina yang mengarah pada area-area penghasil minyak dan gas alam milik Rusia.
Sebagai balasan, Rusia melancarkan serangan sporadis ke kota-kota besar di Ukraina, termasuk ibu kota Kiev.
“Sehingga ini yang membuat Rusia melakukan serangan sporadis terhadap kota-kota besar di Ukraine salah satunya adalah di Ibu Kota di Kiev,” pungkasnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.