The Fed Berpotensi Menaikkan Suku Bunga usai Inflasi AS Agustus Naik 3,4 Persen

E20 Ditargetkan 2028, RI Butuh 57 Pabrik Bioetanol BaruDanantara Pasang Badan untuk KDKMP, Jamin Kredit ke Himbara tak Macet

Secara tahunan, harga pangan naik 2,7 persen. Pada saat yang sama, pendapatan riil pekerja justru turun 0,3 persen pada Agustus.

“Pertumbuhan upah riil mengalami kontraksi untuk bulan kelima berturut-turut pada Agustus,” kata Gregory Daco, kepala ekonom EY-Parthenon.

“Ini merupakan tekanan pendapatan terpanjang sejak 2012, di luar periode pascapandemi ketika bantuan pemerintah membuat pendapatan tetap tumbuh meskipun terjadi kehilangan pekerjaan dalam skala historis,” ujar Daco.

Situasi tersebut ikut menjelaskan mengapa tingkat kepercayaan konsumen AS memburuk. Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan turun menjadi 47,8 pada awal September dari 51,7 pada Agustus.

Penurunan sentimen terjadi di kalangan pemilih Demokrat maupun Republik. Konsumen juga memperkirakan inflasi akan lebih tinggi dalam 12 bulan ke depan dan lima tahun mendatang.

Tekanan terhadap The Fed datang bukan hanya dari data ekonomi, tetapi juga dari Gedung Putih.

Presiden Donald Trump terus mendesak bank sentral menurunkan suku bunga.

Dalam unggahan di media sosial, Trump bahkan menulis, “TURUNKAN SUKU BUNGA ATAU SAYA AKAN BERHENTI BERDAGANG DENGAN NEGARA-NEGARA YANG MENGALAMI DEFISIT PERDAGANGAN DENGAN KITA.”

Di sisi lain, pasar obligasi justru mengirimkan sinyal berlawanan. Imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun sempat naik hingga 4,9915 persen sebelum turun kembali ke sekitar 4,92 persen.

Kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang menunjukkan investor meminta kompensasi lebih tinggi untuk menghadapi risiko inflasi, utang, dan ketidakpastian kebijakan.

“Pasar sedang melakukan pekerjaan The Fed dengan mendorong kurva imbal hasil naik secara signifikan, sementara Komite Pasar Terbuka Federal sekarang tertinggal dari kurva tersebut,” kata Brian Bethune, profesor ekonomi di Boston College.

“Pada titik ini, Warsh dan FOMC telah membuat diri mereka terpojok,” imbuh Bethune.

Pernyataan tersebut menggambarkan dilema The Fed. Jika suku bunga dinaikkan, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja bisa semakin besar.

Namun, jika suku bunga ditahan atau diturunkan ketika inflasi kembali meningkat, ekspektasi inflasi bisa semakin sulit dikendalikan.

Bagi investor, persoalannya bukan sekadar apakah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pekan depan. Yang lebih penting adalah apakah kenaikan tersebut menjadi langkah tunggal atau awal dari siklus pengetatan baru.

Pasar kini harus membaca tiga hal sekaligus, yaitu arah harga minyak, perkembangan inflasi inti, dan seberapa jauh tekanan politik Trump mampu memengaruhi komunikasi serta keputusan bank sentral.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.