Di saat yang sama, rencana penerapan tarif baru serta ketidakjelasan arah perundingan antara Washington dan Teheran turut membebani sentimen investor.
Kontrak tembaga acuan pengiriman tiga bulan di London Metal Exchangeterkoreksi 0,6 persen menjadi USD13.742,5 per ton pada pukul 14.01 WIB, berdasarkan laporan Reuters dari Singapura.
Di pasar Asia, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchangemencatat pelemahan lebih dalam. Harga logam merah tersebut turun 1,47 persen ke level 105.090 yuan atau setara USD15.516,94 per ton.
Sebagai salah satu barometer aktivitas ekonomi global, pergerakan harga tembaga kerap menjadi refleksi dinamika makroekonomi dunia.
Karena itu, perubahan sentimen terhadap pertumbuhan ekonomi maupun kebijakan moneter langsung tercermin pada harga komoditas tersebut.
Data inflasi Amerika Serikat yang masih bertahan di level tinggi, ditambah laporan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari ekspektasi, memunculkan asumsi bahwa Federal Reserve belum memiliki alasan kuat untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya.
Berdasarkan kontrak suku bunga yang beredar di pasar, peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin oleh The Fed pada akhir tahun diperkirakan mencapai 75 persen.
Jika skenario tersebut terealisasi, suku bunga acuan akan berada di kisaran 3,75 persen hingga 4 persen.
Tekanan tambahan datang dari sektor perdagangan internasional.
Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikatmengusulkan tarif baru antara 10 persen hingga 12,5 persen terhadap 60 negara yang dinilai tidak cukup efektif dalam membatasi perdagangan produk yang diproduksi menggunakan tenaga kerja paksa.
Meski demikian, usulan tersebut tetap memberikan sejumlah pengecualian.
Produk yang telah dikenakan tarif berdasarkan kebijakan keamanan nasional Section 232, termasuk baja, aluminium, tembaga, dan berbagai logam strategis lainnya, tidak akan terdampak secara langsung.
Dari sisi geopolitik, situasi Timur Tengah masih menjadi elemen yang memengaruhi psikologi pasar.
Walaupun kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Kamis pagi sempat memberikan sentimen positif dan meredakan tekanan pada harga minyak, analis ING menilai harga tembaga tetap rentan terhadap gejolak makroekonomi dalam jangka pendek.
Analis Sucden Financial memperkirakan pelemahan harga saat ini berpotensi memancing minat beli baru dari pelaku pasar.
Mereka menilai masih terdapat insentif yang cukup menarik untuk memasok logam ke pasar Amerika Serikat sebelum perubahan kebijakan perdagangan diberlakukan.
Kendati mengalami koreksi, harga tembaga masih memperoleh penyangga dari ketidakpastian terkait tarif impor Amerika Serikat. Faktor tersebut telah menjadi salah satu katalis utama yang mengangkat harga logam merah sejak awal April lalu.
Kini perhatian investor tertuju pada rekomendasi Departemen Perdagangan Amerika Serikat mengenai kemungkinan penerapan tarif impor terhadap tembaga olahan.
Keputusan tersebut dijadwalkan diumumkan pada akhir bulan dan diperkirakan menjadi penentu arah pasar berikutnya.
Tidak hanya tembaga, mayoritas logam dasar di LME juga bergerak di zona merah. Harga aluminium turun 0,39 persen menjadi USD3.689 per ton.
Nikel terkoreksi 1,44 persen ke level USD18.600 per ton, sementara timah terperosok 3,25 persen menjadi USD55.540 per ton.
Seng atau zinc ikut melemah 1,02 persen ke posisi USD3.573,5 per ton. Adapun timbal atau lead turun 0,77 persen menjadi USD2.008 per ton.
Tren serupa terjadi di pasar berjangka Shanghai. Harga aluminium menyusut 1,32 persen ke level 24.260 yuan per ton.
Nikel kehilangan 3,9 persen menjadi 138.120 yuan per ton, sedangkan timah merosot 3,92 persen ke posisi 428.910 yuan per ton.
Sementara itu, seng turun 1,47 persen menjadi 24.750 yuan per ton. Timbal juga bergerak lebih rendah dengan pelemahan 1,36 persen ke level 16.375 yuan per ton, mempertegas sentimen negatif yang masih membayangi pasar logam industri global.