Laju indeks sebelumnya sempat tertekan hingga merosot 3,09 persen sepanjang pekan lalu.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, melihat posisi teknikal IHSG masih berada di bawah tekanan jual. Indeks saat ini tercatat bergerak di bawah rata-rata pergerakanjangka pendek maupun menengah.
“Setelah IHSG terkoreksi 3,09 persen sepanjang pekan lalu, secara teknikal posisi indeks masih berada dalam tekanan jual.
Meski demikian, indikator stochastic kini mulai menyentuh area jenuh jualKondisi ini membuka celah penguatan jangka pendek, dengan batas support krusial yang wajib dijaga investor di rentang 6.220–6.230.
“Namun, indikator stochastic mulai memasuki area oversold sehingga peluang terjadinya technical rebound tetap terbuka. Area 6.220–6.230 menjadi support penting yang perlu dipertahankan.
Jika support tersebut bertahan, IHSG berpeluang melakukan rebound menuju 6.320 dan selanjutnya 6.370–6.410,” kata Hendra.
Risiko koreksi susulan tetap membayangi jika batas bawah 6.220 jebol. Jika tekanan jual membengkak, IHSG berpotensi terseret turun ke area 6.150–6.180.
Posisi ini menegaskan bahwa pasar saham domestik masih berada di fase konsolidasi bawah dan belum mengonfirmasi tren bullish baru.
Laju IHSG akhir bulan ini diperkirakan bergerak volatil dan cenderung sideways. Pasar masih berupaya menemukan titik keseimbangan baru akibat derasnya aksi lepas portofolio oleh pemodal asing.
“Memasuki pekan meletupnya aksi lepas portofolio, saya melihat IHSG masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan sideways dan mencari keseimbangan baru setelah koreksi cukup dalam.
Tekanan utama datang dari arus dana asing yang masih deras keluar dari pasar saham Indonesia.
Dalam sepekan terakhir asing mencatatkan net sell sekitar Rp3,5 triliun, sementara sejak awal tahun net sell asing sudah mencapai sekitar Rp104,8 triliun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa investor asing masih cenderung berhati-hati terhadap aset Indonesia,” kata Hendra.
Ketidakpastian modal asing ini berpotensi diperparah oleh dinamika makro global.
Lonjakan yieldUS Treasury, pelemahan nilai tukar rupiah, harga minyak mentah, hingga ketegangan geopolitik dan ekspektasi suku bunga global menjadi variabel penentu pergerakan indeks.
Kenaikan harga dalam beberapa hari ke depan sebaiknya disikapi sebagai technical rebound sesaat sampai tekanan jual mereda.
Di saat bersamaan, bursa bersiap menyambut pemberlakuan batas harga saham minimum Rp1 mulai 28 September 2026.
Regulasi ini dinilai tidak berpengaruh langsung pada pergerakan IHSG secara umum, melainkan terkonsentrasi pada emiten berkapitalisasi kecil yang selama ini tertahan di level Rp50.
Ruang transaksi yang dibuka hingga Rp1 akan menaikkan volatilitas saham-saham tersebut karena investor memegang opsi untuk menjual di bawah Rp50.
Namun, mekanisme ini berdampak positif bagi perbaikan price discovery serta fleksibilitas pasar dalam jangka panjang. Investor diimbau tidak terkecoh menganggap saham berharga Rp1 hingga Rp10 secara otomatis bervaluasi murah.
Mempertimbangkan fase konsolidasi bawah IHSG saat ini, strategi akumulasi bertahap menjadi pilihan paling rasional dibanding bersikap agresif atau pasif penuh.
“Dengan kondisi tersebut, strategi investor saat ini menurut saya lebih tepat adalah masuk secara selektif dan bertahap, bukan agresif penuh tetapi juga tidak perlu sepenuhnya wait and see.
Investor dapat memanfaatkan koreksi untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada saham yang memiliki fundamental dan prospek bisnis yang jelas, tetapi tetap menyisakan dana untuk menghadapi kemungkinan koreksi lanjutan,” tutur Hendra.
Ketahanan IHSG di area support 6.220–6.230 menjadi kunci pertimbangan. Jika indeks mampu bertahan dan menembus 6.320, porsi portofolio dapat ditingkatkan secara bertahap.
Sebaliknya, jika support ditembus, investor disarankan mengurangi eksposur dan menunggu pasar membentuk area pembatas baru.
Untuk pilihan saham sektor komoditas dan energi, Hendra merekomendasikan PT Bukit Asam Tbkdengan strategi speculative buy pada target harga Rp3.220 per saham.
Mengingat IHSG belum stabil, akumulasi PTBA sebaiknya dilakukan saat terjadi pelemahan harga.
“ADRO juga dapat dicermati dengan strategi speculative buy dan target harga Rp2.860, terutama jika mampu mempertahankan momentum dan mendapat dukungan dari sentimen harga komoditas,” ujar Hendra.
Sementara itu, saham PT Sumber Global Energy Tbklebih cocok dimanfaatkan melalui strategi trading buy dengan target Rp800 per saham, memanfaatkan momentum pergerakan jangka pendeknya.
“Dengan demikian, ketiga saham tersebut bukan rekomendasi untuk masuk secara agresif sekaligus, tetapi lebih kepada memanfaatkan momentum secara selektif dengan disiplin terhadap level risiko,” pungkas Hendra.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.