Nasdaq mencatat penutupan tertinggi sepanjang masa.
Mengutip Reuters, indeks Nasdaq mengalami kenaikan 2,26 persen ke level 27.122,09 poin. Sedangkan S&P 500 juga meningkat 1,49 persen dan mengakhiri sesi perdagangan di 7.764,70 poin.
Sementara itu indeks Dow Jones Industrial Average juga ditutup semringah usai menguat 0,71 persen menjadi 52.048,83 poin.
Penguatan Wall Street didorong oleh kenaikan saham Advanced Micro Devices dan perusahaan-perusahaan besar AI lainnya.
Saham perusahaan chip mengalami kenaikan, salah satunya ialah Intel. Saham INTC.O melonjak 12,2 persen dan Arm Holdings naik 17 persen.
Sementara indeks semikonduktor PHLXikut naik 4,3 persen serta saham AMD.O ditutup menanjak naik sekitar 10 persen.
Para investor dinilai berpandangan positif terhadap pengeluaran untuk AI yang diprediksi masih terus meningkat, meskipun ada peringatan keamanan baru-baru ini dari para pemimpin raksasa AI seminggu yang lalu yang memicu aksi jual saham teknologi global.
Selain itu, sentimen terhadap Wall Street juga datang dari Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun acuan yang turun di bawah level 5 persen.
Reuters mencatat investor tetap waspada terhadap prospek suku bunga setelah Federal Reserve AS atau The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun untuk memerangi inflasi.
Menurut FedWatch CME, para pedagang memperkirakan The Fed akan kembali menaikan suku bunga kembali pada bulan depan.
Retorika Kevin Warsh Memicu Spekulasi Pengetatan Moneter Lanjutan
Sebelumnya diberitakan, dinamika pasar saham global saat ini sangat dipengaruhi oleh sinyal kebijakan moneter dari bank sentral AS.
Kepala Ekonom LPL Financial Jeffrey Roach menggarisbawahi bahwa konflik geopolitik yang melanda kawasan produksi energi memiliki keterkaitan langsung dengan respons kebijakan bank sentral.
Menurutnya, konflik yang melambungkan harga energi merupakan faktor utama yang menjaga pandangan hawkish jajaran komite Federal Reserve, sekaligus menekan kinerja industri pengolahan minyak di China.
Otoritas moneter AS menetapkan prakiraan inflasi dengan asumsi harga minyak melandai, sehingga variabel energi menjadi penentu utama arah kebijakan fiskal dan moneter di Washington maupun Beijing.
Tekanan pada bursa saham AS kian terasa tajam setelah The Fed secara resmi memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin atau seperempat persen poin ke rentang target 3,75 persen hingga 4 persen pada pekan lalu.
Langkah pengetatan ini menjadi kenaikan suku bunga pertama yang dieksekusi bank sentral AS dalam tiga tahun terakhir.
Namun, fokus utama Wall Street tertuju pada diksi yang digunakan Pimpinan The Fed Kevin Warsh, yang menggambarkan keputusan menaikkan suku bunga tersebut bukan sekadar pengetatan biasa, melainkan sebagai langkah menarik balik “satu dosis kelonggaran” (a dose of accommodation) dari perekonomian AS yang dinilai kian menguat.
Pernyataan Warsh tersebut memicu perdebatan sengit di kalangan pelaku pasar mengenai seberapa jauh The Fed akan menaikkan suku bunga ke depan.
Kepala Strategi Ekonomi dan Bank Sentral Evercore ISI Krishna Guha menilai bahwa penggunaan frasa tersebut merupakan pilihan yang sangat disengaja dan menandai pendekatan yang lebih terbukaterhadap jumlah kenaikan suku bunga yang mungkin diperlukan.
Lebih lanjut, Warsh secara mengejutkan mengesampingkan indikator suku bunga netral sebagai tolok ukur operasional keputusan hari ini, sebuah pandangan yang mendobrak tradisi tata kelola moneter The Fed selama lebih dari satu dekade terakhir.
Harga Minyak Dunia Turun ke Level Terendah 12 Hari
Di sisi lain, Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada perdagangan Senin, 21 September 2026 ke level terendah dalam 12 hari terakhir.
Kondisi ini terjadi setelah pasar berharap adanya kemajuan diplomatik antara Amerika Serikat- Iran.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk bulan November ditutup pada harga USD100,34 per barel atau turun 3,4 persen.
Sementara kontrak WTI untuk bulan Oktober yang berakhir pada hari Selasa turun 4,51 persen menjadi USD95,78 per barel. Adapun kontrak November berada di harga USD92,47.
Pada hari Minggu, Iran dan AS saling melontarkan ancaman baru , meskipun Presiden AS Donald Trump mengatakan dia akan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang diperkirakan akan berada di New York minggu ini untuk Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Investor menaruh harapan pada terobosan dalam perundingan perdamaian minggu ini, kata Tamas Varga, analis di PVM Oil Associates.
“Beberapa hari yang lalu, itu akan tampak seperti ide yang sangat mustahil. Ini adalah langkah ke arah yang benar,” kata Bob Yawger, direktur futures energi di Mizuho.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, mengutip kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, Iran telah menyampaikan syarat-syaratnya kepada para mediator untuk kembali terlibat dalam negosiasi.
Pertempuran di Timur Tengah terus berlanjut setelah kelompok Houthi Yaman telah menyerang Riyadh serta fasilitas Saudi Aramco di kota Yanbu, Laut Merah, sambil berupaya memutus jalur pantai Laut Merah dari wilayah-wilayah yang masih dikuasai oleh pasukan yang didukung Saudi.
Menurut tiga sumber Iran yang mengetahui masalah ini, China telah meminta Iran untuk membantu mengendalikan Houthi setelah Arab Saudi mengajukan permohonan kepada Beijing menyusul serangan tersebut.
Serangan yang dilakukan oleh Houthi terhadap jalur pipa Timur-Barat milik Aramco telah mendorong perusahaan tersebut untuk meningkatkan ekspor melalui Selat Hormuz bulan ini dan bulan depan setelah menghentikan beberapa pengiriman melalui Yanbu.
Ekspektasi akan pemulihan sebagian pengiriman dari Arab Saudi semakin menekan harga.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.