Wall Street Terkoreksi Usai Warsh Tegaskan Fokus pada Inflasi

Pernyataan Warsh dalam pidato perdananya di simposium ekonomi Jackson Hole meningkatkan kembali ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.

Investor sebelumnya berharap pernyataan Warsh akan memberikan sinyal yang lebih longgar. Tetapi, arah yang disampaikan justru menunjukkan bahwa The Fed masih melihat inflasi sebagai persoalan yang perlu ditangani.

Warsh mengatakan, The Fed harus memastikan inflasi bergerak menuju target 2 persen secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Jika keyakinan tersebut belum terbentuk, bank sentral masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan.

Pernyataan itu membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September.

Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin meningkat menjadi sekitar 58 persen dari 35 persen sehari sebelumnya. Sementara, peluang The Fed mempertahankan suku bunga turun menjadi sekitar 43 persen.

Tiga Indeks Utama Wall Street Melemah

Tekanan terlihat pada seluruh indeks utama Wall Street. Indeks S&P 500 turun 19,23 poin atau 0,25 persen ke level 7.711,76.

Indeks Nasdaq Composite melemah 138,93 poin atau 0,52 persen menjadi 26.402,42.

Sementara Dow Jones Industrial Average turun tipis 9,45 poin atau 0,02 persen ke 53.559,99.

Meski berakhir turun pada perdagangan terakhir pekan ini, ketiga indeks masih membukukan kenaikan secara mingguan. S&P 500 naik 0,49 persen, Nasdaq bertambah 0,85 persen, sedangkan Dow Jones menguat 0,53 persen.

Dengan demikian, koreksi pada Jumat belum menghapus penguatan yang telah dibukukan sepanjang pekan. Tekanan lebih terlihat sebagai respons pasar terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter setelah pidato Warsh.

Warsh Kembali Tekankan Target Inflasi 2 Persen

Dalam pidatonya, Warsh menegaskan bahwa target inflasi 2 persen tetap menjadi tujuan utama The Fed.

Ia menyebut data inflasi terbaru belum menunjukkan perubahan tren yang cukup untuk menyimpulkan bahwa tekanan harga telah bergerak secara berkelanjutan menuju target.

Data yang menjadi perhatian adalah indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expendituresInflasi PCE tercatat 3,7 persen secara tahunan pada Juli, sedangkan inflasi inti PCE berada di 3,3 persen.

Kedua angka tersebut masih berada di atas target 2 persen The Fed.

Warsh juga menilai kondisi keuangan secara luas belum cukup ketat untuk memastikan tekanan inflasi dapat kembali ke sasaran. Pernyataan tersebut memperkuat interpretasi pasar bahwa ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter masih terbatas.

Pasar obligasi langsung merespons. Imbal hasil Treasury AS bertenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, naik tajam.

Imbal hasil Treasury 2 tahun mencapai sekitar 4,36 persen, sedangkan imbal hasil Treasury 10 tahun naik menuju 4,73 persen.

Kenaikan imbal hasil tersebut menunjukkan bahwa perubahan ekspektasi suku bunga berlangsung bersamaan dengan koreksi saham.

Saham Teknologi Tertekan

Sektor teknologi menjadi salah satu sumber tekanan utama setelah sebelumnya menguat tajam akibat laporan dan proyeksi Nvidia.

Saham Nvidia turun 4,6 persen setelah pada perdagangan sebelumnya melonjak berkat proyeksi kinerja yang memperkuat optimisme terhadap keberlanjutan permintaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence

Saham Marvell Technology bahkan anjlok 10,3 persen. Penurunan terjadi meskipun perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan 2027.

Investor memperhatikan waktu realisasi pendapatan dari kesepakatan chip AI dengan Google.

Pergerakan tersebut membuat reli saham semikonduktor yang terjadi pada sesi sebelumnya kehilangan sebagian momentumnya.

Namun, tidak seluruh saham berkapitalisasi besar mengalami tekanan. Alphabet naik 1,7 persen, sedangkan Apple menguat 1,6 persen.

Kenaikan Alphabet memberikan dukungan terbesar terhadap sektor komunikasi S&P 500.

Saham Salesforces juga melanjutkan penguatan dengan kenaikan 1,6 persen dan memberikan dukungan terhadap indeks Dow Jones.

PayPal dan Gap Jadi Perhatian

Di luar isu kebijakan moneter dan saham teknologi, sejumlah saham individual bergerak signifikan karena katalis korporasi.

Saham PayPal merosot 12,7 persen setelah laporan bahwa konsorsium yang terdiri dari perusahaan investasi Advent dan perusahaan pembayaran Stripe membatalkan rencana untuk mengakuisisi perusahaan tersebut.

Penurunan tersebut menjadikan PayPal salah satu saham dengan kinerja terburuk pada S&P 500.

Sebaliknya, saham Gap melonjak hampir 13 persen. Kenaikan terjadi setelah perusahaan menunjuk Michael Francis sebagai CEO baru Old Navy sekaligus menaikkan proyeksi laba tahunannya.

Saham Ulta Beauty turun 4,2 persen setelah pertumbuhan penjualan toko yang sama pada kuartal II melambat.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa faktor spesifik perusahaan tetap menjadi penggerak harga saham, meskipun perhatian utama pasar pada Jumat tertuju pada kebijakan moneter The Fed.

Sentimen Konsumen Masih Lemah

Data ekonomi lain yang dirilis pada Jumat juga menjadi perhatian pasar. Indeks sentimen konsumen University of Michigan untuk pembacaan final berada di 51,7, sedikit di atas perkiraan ekonom sebesar 51.

Namun, tingkat tersebut tetap menunjukkan sentimen konsumen yang lemah di tengah kekhawatiran terhadap inflasi.

Dari sisi breadth pasar, tekanan jual juga cukup luas. Di New York Stock Exchange, saham yang turun berbanding saham yang naik mencapai rasio 1,77 banding 1.

Di Nasdaq, saham yang turun mencapai 3.272, sementara yang naik sebanyak 1.494, menghasilkan rasio 2,19 banding 1.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 15,68 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 15,8 miliar saham.

Fokus Pasar Beralih ke Keputusan September

Pidato Warsh membuat keputusan The Fed pada September menjadi perhatian berikutnya bagi pasar. Sebelum pidato tersebut, pelaku pasar masih terbelah antara ekspektasi penahanan maupun kenaikan suku bunga.

Kini, probabilitas kenaikan suku bunga meningkat setelah Warsh menegaskan bahwa inflasi belum menunjukkan kemajuan yang cukup menuju target 2 persen.

Namun, keputusan akhir tetap akan bergantung pada data ekonomi yang keluar sebelum pertemuan kebijakan, terutama data tenaga kerja dan inflasi Agustus.

Dengan demikian, koreksi Wall Street pada Jumat terjadi setelah pasar menerima sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dari perkiraan sebelumnya.

S&P 500, Nasdaq dan Dow Jones sama-sama melemah, sementara imbal hasil Treasury meningkat dan peluang kenaikan suku bunga September kembali menguat.

Di sisi lain, kinerja mingguan ketiga indeks tetap positif. Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data ekonomi AS yang menjadi dasar bagi keputusan The Fed pada September.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.