DEN Ungkap Hilirisasi Nikel Dongkrak Nilai Ekspor dari USD3,3 Miliar Jadi USD33,5 Miliar

Swayasa Prakarsa Bidik Dana IPO Rp45,22 Miliar, Lepas 323 Juta SahamRekor Emas USD5.594 Mulai Menjauh, Apa Reli Besarnya Mulai Tamat?

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengatakan Indonesia sudah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leachdan akan segera memiliki manufaktur sel baterai.

Namun, masih ada mata rantai pCAM dan katoda yang perlu diperkuat.

“Indonesia sudah memiliki HPAL dan akan segera memiliki manufaktur sel baterai. Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda.

Dan justru di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh,” ujar Todotua.

Posisi pCAM menjadi penting karena bahan tersebut berada di tengah rantai antara bahan baku hasil pengolahan nikel dan material aktif yang digunakan dalam baterai.

BKPM menyebut tahap battery precursor masih menjadi mata rantai yang belum berkembang di Indonesia dan merupakan salah satu titik penciptaan nilai tinggi dalam rantai industri nikel.

Dengan demikian, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar memperbanyak smelter. Indonesia perlu memastikan produk hasil pengolahan tersebut dapat terus bergerak ke tahapan yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi di dalam negeri.

Data terbaru UNCTAD juga menunjukkan betapa strategisnya posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Pada 2026, Indonesia disebut telah menguasai sekitar 43 persen kapasitas pemurnian nikel dunia.

UNCTAD menilai diversifikasi kapasitas pengolahan, penguatan daur ulang, dan pembangunan rantai nilai domestik tetap membutuhkan investasi jangka panjang serta dukungan kebijakan yang terkoordinasi.

Besarnya kapasitas tersebut menjadi modal sekaligus tantangan.

Indonesia sudah memiliki posisi kuat pada tahap pertambangan dan pemurnian, tetapi semakin tinggi posisi yang ingin dicapai dalam rantai nilai, semakin kompleks pula kebutuhan industrinya.

Sebab, nilai ekonomi terbesar tidak selalu berhenti pada komoditas yang keluar dari smelter. Nilai tambah terus bertambah ketika material tersebut diproses menjadi bahan baku industri, komponen, hingga produk akhir.

Karena itu, keberhasilan hilirisasi nikel kini menghadapi ukuran baru.

Bukan hanya berapa besar nilai ekspor yang berhasil diciptakan setelah larangan ekspor bijih, melainkan berapa banyak tahapan produksi setelah smelter yang berhasil dipertahankan di dalam negeri.

Jika pCAM, katoda, sel baterai hingga manufaktur kendaraan listrik semakin banyak diproduksi di Indonesia, maka hilirisasi akan mulai menunjukkan karakter industrialisasi yang lebih dalam.

Sebaliknya, jika Indonesia tetap dominan sebagai pemasok produk olahan dan bahan antara, maka sebagian nilai tambah dalam rantai global masih akan tercipta di luar negeri.

Dengan kata lain, data perdagangan menunjukkan bahwa hilirisasi nikel telah mengubah struktur ekspor Indonesia secara signifikan.

Tetapi data investasi terbaru juga menunjukkan bahwa pekerjaan berikutnya masih panjang, terutama untuk mengisi mata rantai industri yang berada setelah pengolahan mineral.

Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah hilirisasi nikel menghasilkan nilai tambah. Data UNCTAD menunjukkan bahwa jawabannya memang iya.

Pertanyaan yang lebih menentukan adalah seberapa jauh Indonesia mampu membawa nilai tambah tersebut sampai ke produk akhir?

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.