Penurunan terjadi di tengah perhatian investor terhadap kenaikan suku bunga The Fed serta lonjakan harga minyak dunia.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,4 persen menjadi USD4.433,19 per ons setelah menyentuh level terendah sejak 19 Agustus sebelumnya.
Meskipun demikian, logam mulia tersebut tetap mencatatkan kinerja bulanan terkuat sejak Januari, dengan harga naik 9,7 persen hingga saat ini.
Sementara itu Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup di level USD4.481,50 atau menyusut sebesar 1,1 persen.
“Alasan terbesar saat ini adalah suku bunga yang lebih tinggi, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang didorong oleh sektor energi dan pengurangan persediaan minyak,” kata Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di Stone X.
Diketahui, harga minyak mentah naik lebih dari dua persen pada Senin, 31 Agustus 2026 setelah Amerika Serikatmenyerang sebuah pulau Iran di Selat Hormuz.
Sementara itu Teheran mengatakan telah melancarkan balasa, yang meningkatkan konflik dari kedua negara.
Di sisi lain dolar AS tetap berada di dekat level tertinggi sekitar dua minggu, sedikit penurunan pada mata uang tersebut membantu membatasi penurunan lebih lanjut.
Harga emas anjlok lebih dari tiga persen pada Jumat, menandai penurunan harian paling tajam sejak 10 Juni, setelah kepala Fed Kevin Warsh memberi sinyal pada simposium Jackson Hole bahwa para pembuat kebijakan mungkin perlu berbuat lebih banyak jika inflasi tidak kembali mendekati target dua persen.
Menurut CME FedWatch Tool, para pedagang telah menaikkan prediksi mereka terhadap kenaikan suku bunga bulan September menjadi sekitar 64 persen dari sekitar 36 persen sebelum komentar Warsh.
Pasar kini menantikan laporan ketenagakerjaan ADP AS dan data penggajian non-pertanian yang akan dirilis akhir pekan ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang perekonomian dan suku bunga.
Di tempat lain, harga perak spot mengalami penurunan 0,2 persen menjadi USD66,24 per ons, dan naik sekitar 15 persen bulan Agustus setelah mencapai level tertinggi sejak pertengahan Juni pada hari Jumat.
Sementara itu, platinum turun dua persen menjadi USD1.783,55, tetapi berada di jalur untuk kenaikan bulanan terbesar sejak Februari.
Adapun, paladium merosot lebih dari 4,3 persen menjadi USD1.360,83, meskipun tetap menuju kenaikan bulanan terkuatnya sejak Desember.
Ambil Untung
Sebelumnya diberitakan pada 27 Agustus 2026, Wakil Presiden sekaligus ahli strategi logam senior di Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan pergerakan harga emas sebelum data inflasi keluar lebih banyak dipengaruhi aksi ambil untung.
Data Personal Consumption Expenditures Price Index atau PCE, indikator inflasi yang digunakan Federal Reserve sebagai salah satu acuan dalam menetapkan target inflasi, menunjukkan kenaikan 3,7 persen dalam 12 bulan hingga Juli.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,6 persen.
Selisihnya memang cuma 0,1 poin persentase. Namun, di pasar keuangan, selisih sekecil itu bisa cukup untuk mengubah perhitungan investor mengenai langkah bank sentral.
Pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan mencapai 40 persen, naik dari 36 persen sebelum data inflasi tersebut dirilis.
Masalahnya bagi emas cukup sederhana. Emas tidak memberikan imbal hasil bunga.
Ketika suku bunga naik, aset berbasis bunga menjadi relatif lebih menarik karena investor memperoleh imbal hasil tanpa harus mengandalkan kenaikan harga aset. Karena itu, emas biasanya menghadapi tekanan ketika lingkungan suku bunga tinggi.
Meski begitu, Grant tidak melihat tekanan tersebut sebagai akhir dari tren kenaikan emas. Ia justru memperkirakan harga emas masih memiliki ruang untuk kembali menembus level USD5.000 per troy ounce atau sekitar Rp89,5 juta.
Saya pikir tren kenaikan emas mulai muncul kembali. Jadi, saya melihat potensi harga kembali berada di atas USD5.000 tahun ini,” kata Grant.
Menurut dia, emas juga berpeluang mencetak rekor tertinggi baru pada kuartal II 2027. Dengan demikian, penurunan harga saat ini lebih dilihat sebagai bagian dari konsolidasi ketimbang perubahan total arah pasar.
Harga Minyak Melonjak
Harga minyak mentah dunia ditutup menguat lebih dari 2,5 persen pada hari Senin, 31 Agustus 2026. Kebaikan tajam ini disebabkan oleh memanasnya konflik antara Amerika Serikatdan Iran yang memicu kekhawatiran tentang pasokan global.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup naik 2,71 persen menjadi USD90,49 per barel. Sementara Minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup di level USD91,52 atau meningkat 2,83 persen.
Sebagai informasi, harga minyak Brent sempat mencapai level USD91,52 selama sesi perdagangan kemarin. Angka ini merupakan level tertinggi sejak 25 Agustus 2026.
Presiden AS, Donald Trump berjanji akan melancarkan balasan setelah Iran meluncurkan rudal ke pangkalan udara AS di Yordania sebagai tanggapan atas serangan terhadap Pulau Larak di Iran .
“Kita akan menyerang mereka dengan keras, akan ada balasannya,” kata Trump seperti dikutip oleh seorang reporter Fox News kepada saluran tersebut.
Mengutip Reuters, pada Minggu, 30 Agustus 2026 dalam unggahan di media sosial, Trump mengatakan bahwa pusat energi Iran di Pulau Kharg telah hancur berkeping-keping. Akan tetapi tidak ada bukti bahwa pulau itu sedang diserang.
Unggahan tersebut, yang menyertakan video yang dihasilkan oleh AI, tidak memberikan detail lebih lanjut. Iran membantah bahwa pulau itu sedang diserang dan mengatakan operasi minyak terus berlanjut di sana.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.