Harga Minyak Dunia Melonjak Satu Persen, Apa yang Terjadi?

Kondisi ini terjadi karena meningkatnya kekhawatiran pasokan energi menyusul serangan terhadap infrastruktur di Arab Saudi dan serangan ke kapal-kapal di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik 1,0 persen ke level USD105,68 per barel. Sementara minyak mentah West Texas IntermediateAS ikut terkerek  menjadi USD101,39 atau naik 1,3 persen.

Perlu diketahui, kedua patokan harga minyak mentah itu sempat melonjak hampir lima persen.

Namun perlahan menurun dari level tertinggi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan dengan Washington.

Reuters melaporkan, kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi.

Sedangman  negara-negara Teluk Arab menunda pembicaraan dengan Iran, yang menggarisbawahi kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah dapat menyebar lebih luas dan mengancam pasokan minyak global.

Kelompok Houthi mengatakan mereka menembakkan puluhan rudal dan drone ke pangkalan udara militer di Khamis Mushait di selatan Arab Saudi, menargetkan hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan gudang amunisi sebagai balasan atas serangan udara Saudi di Yaman.

Kelompok Houthi telah maju dengan cepat di Yaman dalam beberapa hari terakhir, merebut wilayah termasuk Pulau Perim di muara Laut Merah pada hari Jumat.

Serangan terpisah pada hari yang sama, melumpuhkan pipa minyak timur-barat Arab Saudi, yang memungkinkan ekspor minyak Teluk untuk melewati Selat Hormuz yang diblokade.

Serangan terhadap pipa tersebut mengancam hingga empat persen pasokan minyak global.

Data pelacakan kapal pendahuluan yang dirilis pada hari Senin menunjukkan bahwa jumlah kapal yang melintas melalui Selat Hormuz turun menjadi angka satu digit per hari pada akhir pekan, jauh di bawah rata-rata 10 hari yang sebesar 14.

Sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Dengan tidak beroperasinya jalur pipa timur-barat Arab Saudi, pelabuhan Yanbu di Laut Merah harus memanfaatkan kapasitas penyimpanan, yang diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan ekspor selama lima hingga tujuh hari, menurut tiga sumber industri.

Rusia – Ukraina Damai? 

Trump juga mengatakan Ukraina dan Rusia telah sepakat untuk tidak saling menyerang target energi masing-masing. Pekan lalu, serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia membantu mendorong harga rata-rata solar AS ke rekor tertinggi.

Kesepakatan mengakhiri perang Rusia-Ukraina dapat memungkinkan Rusia mengekspor lebih banyak energi.

Rusia, anggota OPEC+, adalah produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi pada tahun 2025, menurut data energi AS.

Faktor lain yang menekan harga minyak adalah spekulasi investor bahwa para pembuat kebijakan Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunga acuan mereka seperempat poin persentase, menjadi kisaran 3,75 persen – 4,00persen dan memberi sinyal pengetatan lebih lanjut di masa mendatang.

Ketua The Fed, Kevin Warsh tidak suka memberikan arahan tentang suku bunga, tetapi investor memperkirakan kenaikan suku bunga karena inflasi yang tinggi, harga minyak di atas USD100 per barel, dan penekanan pada perlunya menjaga stabilitas harga serta memperhatikan sinyal dari penetapan harga pasar keuangan.

Tingkat suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya pinjaman konsumen dan dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi serta permintaan energi.

ICP Indonesia Tembus USD89,43, Harga Minyak Dunia Kembali Naik

Lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional sepanjang Agustus 2026 mengerek harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Pricehingga menyentuh level USD89,43 per barel.

Eskalasi konflik geopolitik serta ancaman gangguan pasokan di jalur distribusi maritim dunia menjadi pemantik utama melambungnya harga komoditas energi tersebut.

Kenaikan ICP Agustus 2026 ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 352.K/MG.03/MEM.M/2026. Angka tersebut melompat USD7,75 per barel jika dibandingkan dengan ICP Juli 2026 yang bertengger di level USD81,68 per barel.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengonfirmasi bahwa pergerakan naik ini sejalan dengan meningkatnya premi risiko di pasar global akibat dinamika geopolitik yang memanas.

“Rata-rata ICP Agustus 2026 yang naik menjadi US$ 89,43 per barel akibat dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh tingginya risiko geopolitik serta potensi gangguan pasokan di jalur-jalur krusial.

Berbagai ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, telah memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dunia,” ujar Laode dalam keterangannya, dikutip Jumat, 11 September 2026.

Menurut Laode, hambatan pada jalur pelayaran krusial yang diperparah oleh pengetatan sanksi politik-ekonomi serta kebuntuan diplomasi internasional kian membatasi peluang penurunan harga minyak mentah global.

Kenaikan ICP Indonesia berbanding lurus dengan tren penguatan harga minyak mentah utama dunia selama Agustus 2026 dibanding Juli 2026:

ICP Indonesia: Naik USD7,75 dari USD81,68 menjadi USD89,43 per barel.

Dated Brent: Naik USD7,43 dari USD83,41 menjadi USD90,84 per barel.

Brent: Naik USD4,10 dari USD83,97 menjadi USD88,08 per barel.

WTI: Naik USD3,23 dari USD79,22 menjadi USD82,45 per barel.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.