Pertegas Posisi Pengendali, Edwin Soeryadjaya Tambah Kepemilikan Saham SRTG

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia dikutip Minggu, 20 September 2026, Edwin Soeryadjaya tercatat membeli sebanyak  1,24 juta lembar saham biasa SRTG.

Aksi korporasi tersebut dilakukan dalam dua hari transaksi terpisah. Transaksi pertama berlangsung pada Rabu, 16 September 2026, usai Edwin memborong 900 ribu lembar saham SRTG.

Selanjutnya, transaksi kedua dieksekusi sehari setelahnya atau Kamis, 17 September 2026, dengan jumlah pembelian mencapai 340.000 lembar saham.

Kedua transaksi pembelian saham tersebut dieksekusi pada harga pelaksanaan yang sama, yakni sebesar Rp1.771 per lembar saham.

Dengan demikian, total dana investasi yang dikeluarkan oleh salah satu pendiri Saratoga ini mencapai kisaran Rp2,19 miliar, dengan rincian Rp1,59 miliar pada transaksi pertama dan Rp602,14 juta pada transaksi kedua.

Sebelum rentetan transaksi tersebut, Edwin menggenggam sebanyak 4.874.529.190 lembar saham SRTG atau setara dengan porsi hak suara sebesar 35,935 persen.

Pascatransaksi, akumulasi jumlah saham milik Edwin meningkat menjadi 4.875.769.190 lembar saham. Kepemilikan tersebut membuat porsi hak suara yang dikuasainya terangkat menjadi 35,9442 persen.

Dalam dokumen pelaporan resmi tersebut, manajemen menegaskan bahwa status kepemilikan saham atas transaksi ini bersifat langsung dan bukan merupakan perjanjian pendaftaran kembali

Adapun tujuan utama dari aksi borong saham oleh pengendali perseroan ini murni untuk kepentingan investasi.

Sebagai pemegang saham pengendali, Edwin Soeryadjaya juga mengonfirmasi bahwa dirinya akan tetap mempertahankan posisi pengendalian atas PT Saratoga Investama Sedaya Tbk.

Gerak Saham SRTG

Pergerakan harga saham SRTG membukukan penguatan signifikan pada sesi perdagangan terakhir pekan ini atau Jumat, 18 September 2026 usai  ditutup melonjak sebesar 4,24 persen atau terangkat 75 poin menuju posisi Rp1.845 per lembar.

Berdasarkan data perdagangan harian dari aplikasi Stockbit, di hari itu saham SRTG mengawali perdagangan dengan dibuka  pada harga Rp1.770, sejajar dengan posisi harga penutupan sebelumnya yang juga berada di angka Rp1.770.

Pergerakan harga sempat terkoreksi ke titik terendah harian di kisaran Rp1.760 sebelum akhirnya merangkak naik pesat hingga menyentuh level tertinggi harian di posisi Rp1.845.

Aktivitas perdagangan saham SRTG tercatat cukup aktif dengan total frekuensi transaksi sebanyak 600 kali. Total volume saham yang diperdagangkan mencapai 33,37 ribu lot dengan akumulasi nilai transaksi menembus Rp6,03 miliar.

Sementara itu, rata-rata harga transaksi harian  saham perseroan terbentuk di posisi Rp1.807 per lembar. Penguatan saham SRTG turut disokong oleh aksi beli investor asing  yang mendominasi.

Nilai pembelian bersih investor asing tercatat mencapai Rp3,85 miliar, jauh melampaui angka penjualan asing yang sebesar Rp939,63 juta.

Pergerakan positif ini sekaligus memperkuat tren pergerakan harga saham SRTG pada periode jangka pendek dan menengah.

Dalam kurun waktu satu pekan terakhir, saham SRTG mencatatkan kenaikan sebesar 2,22 persen dari rentang harga Rp1.755 hingga Rp1.845.

Walaupun dalam periode satu bulan terakhir masih berada di zona merah dengan koreksi tipis 1,86 persen pada rentang Rp1.755 hingga Rp1.960, saham perseroan mampu bangkit dalam tren tiga bulan dengan lonjakan mencapai 21,78 persen di rentang Rp1.430 sampai Rp1.960.

Performa positif tersebut berlanjut pada rentang waktu enam bulan dengan penguatan sebesar 12,16 persen.

Sementara itu, kinerja tahun berjalansaham SRTG melesat 16,77 persen dari level terendah tahunan Rp1.235 menuju level tertinggi Rp2.040.

Untuk rentang waktu jangka panjang, pergerakan saham SRTG mencatatkan variasi. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, saham perseroan masih terkoreksi 5,14 persen di rentang Rp1.235 hingga Rp2.040.

Namun, dalam periode tiga tahun dan lima tahun, saham SRTG konsisten membukukan pertumbuhan masing-masing sebesar 5,73 persen dan 2,79 persen pada rentang harga terendah Rp1.200.

Adapun pada periode sepuluh tahun, saham SRTG mencatatkan lonjakan fantastis mencapai 156,96 persen dari harga terendah historis Rp524 menuju level tertinggi Rp3.970.

Kinerja Semester I 2026

Sebelumnya diberitakan, Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, SRTG mencatatkan rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,87 triliun pada semester I-2026.

Kondisi tersebut berbalik dari posisi laba bersih senilai Rp102,02 miliar yang dibukukan pada periode sama tahun sebelumnya.

Perubahan kinerja keuangan perseroan terutama dipengaruhi oleh rugi neto atas investasi pada saham dan efek lainnya yang membengkak menjadi Rp4,83 triliun per Juni 2026, dibanding rugi neto investasi senilai Rp1,82 triliun pada semester I-2025.

Dampaknya, rugi per saham SRTG tercatat menjadi Rp286 per lembar.

Meski demikian, pendapatan arus kas inti perseroan tetap menunjukkan pertumbuhan positif. Laporan keuangan menunjukkan pendapatan dividen dan bunga SRTG berhasil tumbuh 31,51 persen secara tahunanmenjadi Rp1,69 triliun per Juni 2026.

Mellisa Holidi dari Investor Relations Saratoga sempat menjelaskan bahwa fluktuasi nilai portofolio perseroan sebagai perusahaan investasi murni sangat dinamis dan selalu mengikuti pergerakan harga saham di pasar modal.

“Melalui pendekatan ini, kami memastikan portofolio tetap tangguh di tengah berbagai dinamika pasar,” jelas Mellisa.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.