Wall Street Tertekan dari Dua Arah, Minyak Brent Naik dan Yield Treasury Melonjak

The Telkom Hub Capai Net Zero Emisi, 66 PoP Telkom Kini Gunakan 21 Persen Energi TerbarukanHarga Emas Anjlok 1,7 Persen, Sinyal Hawkish The Fed dan Dolar AS Jadi Biang Kerok

Perusahaan tersebut juga memperkirakan pertumbuhan pada tahun fiskal ini akan berada di bawah rekam jejak historisnya karena kondisi konsumen masih penuh tantangan.

General Mills pun tidak menaikkan proyeksi labanya untuk sepanjang tahun fiskal. Saham General Mills turun 0,8 persen.

Persoalan akhirnya kembali kepada konsumen. Harga bahan bakar, kebutuhan pangan dan berbagai biaya hidup lainnya terus meningkat.

Kondisi tersebut membuat konsumen Amerika Serikat semakin pesimistis terhadap kondisi keuangan mereka.

Ketika biaya hidup naik, ruang belanja rumah tangga menyempit. Ketika bunga pinjaman naik, pembelian rumah dan barang bernilai besar menjadi lebih mahal.

Sementara ketika biaya produksi meningkat, perusahaan menghadapi pilihan sulit antara memangkas margin dan menaikkan harga.

Di tengah situasi tersebut, Wall Street harus menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana. Seberapa lama laba perusahaan mampu bertahan jika biaya energi, biaya pembiayaan dan tekanan terhadap konsumen terus meningkat?

Tekanan tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Indeks saham di sejumlah pasar Eropa dan Asia juga bergerak melemah.

Di Asia, indeks Hong Kong turun 1 persen dan Shanghai melemah 0,4 persen.

Pasar juga menyoroti kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Washington yang dimulai Rabu serta pertemuannya dengan Presiden Donald Trump pada pekan ini.

Pertemuan tersebut menjadi pertemuan ketiga kedua pemimpin sejak Trump kembali ke Gedung Putih. Mereka diharapkan berupaya menjaga hubungan kedua negara yang masih rapuh.

Di belakang meja diplomasi tersebut, persaingan ekonomi kedua negara tetap berlangsung.

Amerika Serikat dan China masih berebut posisi dalam pengembangan kecerdasan buatan dan perdagangan, sembari mencari pengaruh dalam sejumlah titik panas geopolitik seperti Iran dan Taiwan.

Bagi pasar keuangan global, persoalannya kemudian bertumpuk.

Minyak kembali naik, inflasi belum benar-benar jinak, yield obligasi Amerika Serikat melonjak ke level yang mengingatkan pasar pada era sebelum krisis keuangan global, sementara ketegangan geopolitik belum selesai.

Wall Street pun kembali dihadapkan pada kenyataan lama. Ketika harga minyak naik dan suku bunga tinggi bertahan, ekonomi yang terlihat kuat belum tentu menjadi kabar yang sepenuhnya menenangkan pasar saham.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.