Minyak Rebound di Atas Satu Persen Usai Trump Tolak Proposal Iran

Akibat penolakan tersebut, harga minyak dunia langsung melesat lebih Ari 1 persen. Pasokan minyak pun kembali menjadi perhatian pasar.

Minyak mentah Brent berjangka, yang menjadi patokan internasional, naik USD1,82 atau 1,74 persen menjadi USD106,14 per barel pada pukul 05.02 WIB. Sementara West Texas Intermediatemenguat USD1,14 atau 1,23 persen menjadi USD93,55 per barel.

Pasar sangat menaruh harapan pada penyelesaian konflik. Apalagi, sempat ada pembicaraan antara Washington dan Teheran dan mulai meningkatnya lalu lintas di Selat Hormuz membuka ruang bagi tekanan terhadap harga minyak.

Sayangnya, penolakan tersebut justru membuka ruang yang sangat besar terhadap ketidakpastian keberlangsungan konflik dan normalisasi lalu lintas energi.

Apa Isi Proposal Iran?

Iran sebelumnya menyampaikan proposal yang mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah persyaratan.

Dalam pembicaraan tidak langsung yang berlangsung di sela Sidang Umum PBB di New York, Iran menyampaikan bahwa pembukaan kembali selat dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir dapat dilakukan apabila Amerika Serikat mencabut blokade laut, menghapus sanksi terhadap penjualan minyak Iran, dan memulihkan gencatan senjata di kawasan.

Trump langsung menolak proposal tersebut.

Bagi pasar minyak, persoalan utama bukan hanya keputusan diplomatik antara kedua negara, tetapi juga seberapa cepat arus kapal dan pengiriman energi melalui Hormuz dapat kembali normal.

Reuters sebelumnya melaporkan lalu lintas kapal di selat tersebut turun jauh dibandingkan kondisi sebelum perang.

Pada akhir pekan 19-20 September, hanya 17 kapal komoditas yang melintasi Hormuz, dibandingkan 37 kapal pada pekan sebelumnya dan rata-rata sekitar 125 kapal per hari sebelum konflik.

Kondisi tersebut membuat setiap perkembangan mengenai pembukaan jalur pelayaran menjadi faktor penting bagi harga minyak. Ketika risiko gangguan pasokan meningkat, pasar cenderung memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga.

Sebaliknya, kepastian mengenai gencatan senjata dan kelancaran distribusi dapat mengurangi premi tersebut.

Trump Sebut Harga Minyak Akan Turun

Di tengah ketegangan itu, Trump justru menyatakan harga minyak akan turun tajam setelah perang berakhir. Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan pembicaraan lebih lanjut dengan Iran diperkirakan berlangsung pekan ini.

Ia juga menyebut lebih dari 20 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz selama akhir pekan. Seorang pejabat pertahanan AS yang dikutip Axios menyatakan sekitar 22 juta barel diekspor melalui selat tersebut pada Jumat.

Pernyataan mengenai potensi penurunan harga minyak tersebut menunjukkan adanya dua faktor yang bergerak berlawanan. Di satu sisi, pasar menghadapi risiko pasokan akibat konflik dan ketidakpastian mengenai Hormuz.

Di sisi lain, jika negosiasi menghasilkan penghentian perang dan arus minyak meningkat, tambahan pasokan dapat mengurangi tekanan harga.

Dengan kata lain, arah harga minyak dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan aktual di lapangan, bukan hanya pernyataan politik.

Jika volume pengiriman melalui Hormuz terus meningkat tanpa gangguan baru, risiko kekurangan pasokan dapat berkurang.

Namun, apabila konflik kembali meningkat atau pelayaran terganggu, premi risiko dapat kembali meningkat.

Iran sendiri belum menganggap jalur diplomasi tertutup.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran masih menunggu jawaban resmi Amerika Serikat melalui mediator, meskipun Trump telah menyatakan penolakan terhadap proposal tersebut.

Araghchi juga menegaskan bahwa penyelesaian melalui negosiasi tetap menjadi jalan yang dipilih Iran.

Mediator Qatar juga masih berupaya menjembatani posisi kedua pihak. Axios melaporkan para mediator Qatar terus melakukan diplomasi bolak-balik antara Washington dan Teheran untuk mencari perubahan terhadap proposal yang ada.

Pembicaraan tidak langsung berikutnya bahkan disebut dapat berlangsung mulai Senin.

Akan tetapi, perkembangan militer tetap menjadi faktor risiko. Laporan mengenai serangan terhadap kapal komersial dan aktivitas militer di sekitar Hormuz menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar.

Pada saat yang sama, ketegangan regional juga meluas ke kawasan Yaman dan Arab Saudi, sehingga risiko terhadap jalur transportasi energi tidak hanya berasal dari satu titik.

Pergerakan harga Brent di atas USD106 per barel pada awal perdagangan Senin menunjukkan bahwa pasar kembali memberikan perhatian besar terhadap risiko pasokan.

Sebagai pembanding, harga Brent pada pekan 21-25 September masih bergerak di kisaran lebih rendah dalam data harga spot mingguan yang tercatat hingga Jumat.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada tiga hal utama, yaitu kelanjutan negosiasi Amerika Serikat dan Iran, volume minyak yang benar-benar dapat melewati Selat Hormuz, serta kondisi keamanan kapal dan infrastruktur energi di kawasan.

Jika negosiasi menghasilkan kesepakatan dan lalu lintas Hormuz kembali normal, tekanan terhadap harga minyak dapat berkurang.

Sebaliknya, apabila ketegangan kembali meningkat dan pengiriman energi terganggu, pasar akan kembali menghadapi risiko pasokan yang lebih besar.

Untuk sementara, kedua skenario tersebut masih terbuka, sehingga pergerakan harga minyak tetap sensitif terhadap setiap perkembangan diplomatik dan keamanan di Timur Tengah.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.