B50 Punya Risiko Berbeda dari Solar, BRIN Minta Pengguna Perketat Perawatan

Badan Riset dan Inovasi Nasionalmengingatkan sifat biodiesel yang lebih mudah menyerap air dapat memicu pertumbuhan mikroba, korosi hingga pembentukan sludge yang berisiko menyumbat filter bahan bakar.

Imbauan dan penjelasan teknis tersebut dipaparkan langsung oleh Koordinator Kelompok Riset dan Pengembangan Biofuel BRIN, Maharani Dewi Solikhah dalam diskusi terkait Dampak dan Solusi Pemakaian Biosolar B50.

Maharani menjelaskan bahwa proses produksi biodiesel atau FAME dilakukan melalui reaksi transesterifikasi dengan mereaksikan minyak nabati, seperti minyak kelapa sawit, bersama alkohol serta menghasilkan gliserol sebagai produk sampingan.

Setelah melalui pemurnian dari impurities agar sesuai regulasi Kementerian ESDM, biodiesel Indonesia memiliki keunggulan stabilitas oksidasi yang tinggi melebihi 13 jam, jauh di atas produk serupa dari Eropa atau Amerika Serikat.

“Akan tetapi, karena sifatnya tadi yang berupa fatty acid methyl ester, jadi metil ester itu merupakan jenis pelarut dan merupakan bahan yang mengandung oksigen atau oxygenated fuel.

Sebenarnya sebagai oxygenated fuel dia kelebihannya adalah ada tambahan oksigen dalam pembakarannya, sehingga tadi emisinya lebih baik,” ujar Maharani dalam diskusi terkait Dampak dan Solusi Pemakaian Biosolar B50, dikutip Jumat, 2 Oktober 2026.

“Akan tetapi karena berupa ester, memiliki kerentanan terhadap degradasi, begitu. Sehingga kita perlu menanggulangi tantangan-tantangan tersebut agar bisa tetap melaksanakan program B50 dengan lancar,”  lanjutnya.

Rantai Pasok Kompleks dan Sifat Higroskopis

Sebagai negara kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke, penyaluran B50 melibatkan jaringan moda transportasi yang sangat panjang dan kompleks, mulai dari truk, kapal laut, pipa, hingga kereta api.

Kondisi distribusi ini berisiko memengaruhi kualitas B50 sebelum sampai ke tangan konsumen akhir jika tidak dikelola secara cermat.

Selain itu, karakteristik dasar B50 memiliki nilai kalor yang lebih rendah serta sifat higroskopis yang membuatnya sangat rentan menyerap air dari lingkungan sekitar jika dibandingkan dengan solar murni.

“Kemudian, karena tadi sifatnya yang berupa metil ester, dia mempunyai sifat yang higroskopis atau lebih mudah menyerap air daripada minyak solar.

Air ini yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan pertumbuhan mikroba, korosi, ataupun penurunan kualitas bahan bakar lainnya,” kata Maharani.

Sifat pelarutpada senyawa ester juga menjadi perhatian utama. Karakteristik ini mampu mengikis atau melarutkan kotoran yang menempel pada dinding saluran bahan bakar, yang kemudian terbawa hingga menumpuk di area filtrasi.

Jika terpapar udara dan air secara terus-menerus, proses oksidasi pada B50 akan berlangsung lebih cepat dan membentuk senyawa asam, deposit polimer, serta endapan lumpur

“Dan efek dari peristiwa oksidasi ataupun sifat higroskopis yang tidak dijaga tadi dapat menyebabkan timbulnya sludge yang dapat terbawa ke filter, sehingga berpotensi untuk menyumbat filter apabila tidak ditanggulangi,” terangnya.

Menghadapi risiko teknis tersebut, BRIN meminta para pengguna dan perusahaan konsumen B50 untuk memperketat prosedur penerimaan serta melakukan pemeliharaan preventif (preventive maintenance) pada sistem penyimpanan.

Pengguna diimbau untuk selalu memeriksa ketersediaan Laporan Hasil Ujidari pamasok serta memastikan kompatibilitas material tangki guna menghindari reaksi korosif.

“Oleh karena itu, sebagai pengguna B50, Bapak, Ibu semua, ketika menerima bahan bakar di perusahaan Bapak, Ibu, perlu memperhatikan kualitas bahan bakar, kompatibilitas material, sarana penyimpanan, dan merawat sistem bahan bakarnya.

Harus memastikan bahwa bahan bakar yang Bapak, Ibu terima dalam keadaan on-spec. Bapak, Ibu berhak meminta hasil uji, ya, LHU dari vendor yang menyuplai bahan bakar di perusahaan Bapak, Ibu,” tegas Maharani.

Penyempurnaan Standar Mutu B50

Pemerintah sendiri telah merancang spesifikasi teknis B50 agar lebih ketat dibandingkan formulasi B40 sebelumnya.

Standardisasi anyar ini menetapkan angka cetane yang lebih tinggi, batas toleransi kandungan air yang lebih rendah, serta pemenuhan kriteria kebersihandan partikulat.

“Kemudian tadi sempat disinggung oleh Pak Amri juga terkait standar mutu B50. Jadi, terjadi apa namanya kualitas yang lebih ketat, gitu.

Antara B40 dengan B50, jadi B50 ini distandarkan memiliki angka cetane yang lebih tinggi, kemudian kandungan airnya juga lebih rendah di maksimalnya, dan perlu dipastikan juga kadar FAME yang Bapak, Ibu terima memang sesuai dengan spesifikasi,” jelas Maharani.

Sebagai langkah antisipasi terhadap tingginya potensi akumulasi air, BRIN terus mengembangkan berbagai riset penunjang yang berfokus pada teknologi water removal, sistem filtrasi, hingga pengembangan aditif dan adsorben.

Satu di antara inovasi utama yang dihasilkan BRIN yakni teknologi pemisahan air berbasis termal dan absorpsi menggunakan silika geotermal untuk memurnikan kembali bahan bakar yang terindikasi kontaminasi.

“Salah satu teknologi yang kami kembangkan antara lain adalah untuk menghilangkan kandungan air di dalam biodiesel maupun campurannya menggunakan teknologi termal maupun absorption, dan mengembangkan absorption berbasis silika geotermal.

Untuk menghilangkan kandungan air dalam biodiesel, sistem termal ini sudah kami kembangkan dengan menggunakan peralatan yang kompak dilengkapi dengan plate heat exchanger sehingga bisa menghilangkan kandungan air dengan cepat dan efisien,” paparnya.

Maharani menambahkan bahwa akumulasi air yang melebihi ambang batas disyaratkan dapat memicu lonjakan aktivitas mikroba dan reaksi oksidasi.

Kondisi tersebut berpotensi menaikkan angka asam, menurunkan stabilitas oksidasi, hingga merusak mutu bahan bakar sehingga tidak dapat digunakan.

Aplikasi alat pemisah air ciptaan BRIN dirancang untuk memulihkan kembali kualitas B50 yang hampir kedaluwarsa atau off-spec akibat terkontaminasi air.

“Apabila bahan bakar tersebut sudah off-spec, maka biasanya harus dibuang karena tidak bisa digunakan.

Untuk menghindari hal tersebut agar kandungan airnya bisa menurun dan mengurangi limbah bahan bakar, alat ini bisa juga digunakan untuk mengolah bahan bakar yang memang kandungan airnya melebihi dari batas sehingga bisa digunakan kembali,” tuturnya.

Selain riset penanganan air dan penyimpanan, BRIN tengah mengembangkan teknologi produksi biodiesel non-katalitik memanfaatkan metode fine bubble.

Inovasi rekayasa proses ini dirancang guna menekan jumlah pengotorsisa reaksi katalis sekaligus mengefisiensikan biaya produksi biodiesel di tingkat industri.

Untuk memberikan panduan praktis di lapangan, BRIN bekerja sama dengan Kementerian ESDM menyusun buku pedoman teknis penanganan serta penyimpanan biodiesel dan campurannya.

“Ini adalah salah satu hal lain dari riset kami yang terkait handling and storage. Jadi kami bekerja sama dengan ESDM dalam menyusun buku pedoman penanganan dan penyimpanan biodiesel dan campurannya maupun instruksi kerja teknis.

Jadi Bapak, Ibu yang B40 sudah bisa didownload, ya. Yang B50 sedang dalam tahap pengesahan sepertinya,” pungkas Maharani.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.