PLN Perlu Perkuat Jaringan Listrik, IEEFA Ingatkan Kasus Blackout Iberia Jadi Pelajaran untuk RITarget China Kejar Produksi Baterai Solid-State untuk EV, Begini Hambatannya Menurut Produsen
Dony juga menyebut keterbukaan laporan keuangan sebagai fondasi untuk membangun kepercayaan publik dan investor. “Keterbukaan informasi keuangan dan tata kelola yang bersih adalah fondasi utama kami.
Kami ingin memastikan setiap rupiah dana yang dikelola dapat dipertanggungjawabkan secara jelas dan transparan,” katanya.
Kalimatnya tentu terdengar meyakinkan. Tinggal satu pekerjaan rumahnya, laporan keuangannya benar-benar harus terbit.
Kenapa Laporan Keuangan Danantara Lama Terbit?
Dony sebelumnya menjelaskan bahwa keterlambatan laporan keuangan perdana Danantara berkaitan dengan proses konsolidasi yang baru pertama kali dilakukan setelah BUMN berada dalam satu ekosistem pengelolaan.
Menurut dia, penyusunan laporan konsolidasian berbeda dengan laporan keuangan masing-masing BUMN. Danantara harus menggabungkan laporan dari berbagai perusahaan yang sebelumnya berdiri dan melaporkan kinerja secara terpisah.
Ada pula proses eliminasi transaksi antarperusahaan. Transaksi yang terjadi di antara perusahaan dalam satu grup tidak bisa begitu saja ditumpuk menjadi angka baru karena berpotensi membuat aset atau transaksi tercatat dua kali.
“Ini adalah pertama kali BUMN melakukan laporan konsolidasi. Laporan konsolidasi itu artinya akan ada proses eliminasi antarperusahaan,” kata Dony di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat, 31 Juli 2026.
Sebelum Danantara terbentuk, BUMN menyusun laporan keuangan masing-masing. Setelah masuk dalam satu struktur holding, laporan tersebut harus diproses menjadi laporan konsolidasian.
Dony mencontohkan transaksi antara Pertamina dan Bank Mandiri. Karena keduanya berada dalam struktur yang sama, transaksi antarentitas tersebut harus disesuaikan dalam laporan konsolidasi agar tidak terjadi pencatatan ganda.
“Karena kan dulu BUMN terpisah-pisah, bukan satu holding. Sekarang menjadi satu holding.
Ada Pertamina, Mandiri, PLN. Ini nanti akan terjadi proses eliminasi karena asetnya tercatat masing-masing.
Karena dia terkonsolidasi makanya terjadi proses eliminasi,” ujarnya.
Menurut Dony, banyaknya entitas yang harus dikonsolidasikan membuat proses tersebut membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan penyusunan laporan keuangan perusahaan secara individual. “Prosesnya tentu membutuhkan waktu lama.
Kalau kita mau melihat tentu kita bisa melihat laporan masing-masing BUMN. Tapi kalau untuk melakukan proses konsolidasinya tentu membutuhkan waktu,” katanya.
Danantara sendiri sebelumnya menyatakan seluruh BUMN dalam ekosistemnya telah menyelesaikan penyusunan laporan keuangan tahun buku 2025.
Namun, laporan konsolidasian Danantara masih harus melewati proses penyelesaian dan audit sebelum disampaikan kepada publik.
Dony menegaskan proses eliminasi harus dilakukan secara rinci terhadap transaksi antarperusahaan dalam grup BUMN. Penyusunan laporan pun dilakukan hati-hati agar seluruh transaksi tercatat sesuai ketentuan.
Dengan begitu, alasan teknisnya memang ada. Konsolidasi puluhan bahkan ratusan entitas bukan pekerjaan copy-paste laporan keuangan.
Tetapi bagi publik, ujungnya tetap sederhana. Danantara sudah berbulan-bulan menyiapkan laporan keuangan perdana.
BPK sudah menerima laporan unaudited pada Juli, pemeriksaan resmi dimulai September, dan kini publik kembali diminta menunggu sampai Oktober.
Kalau target Oktober benar-benar terpenuhi, pertanyaan berikutnya bukan lagi kapan laporan keuangan Danantara terbit.
Pertanyaannya justru apa yang akan dibuka kepada publik dari laporan pertama lembaga yang sejak awal menjual tiga kata besar sebagai fondasinya, transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.