Soal Pemangkasan BUMN, CEO Danantara Bilang Enggak Mudah

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, proses perampingan tersebut tidak mudah.

Menurut Rosan, target tersebut ditetapkan berdasarkan hasil konsultasi dan evaluasi menyeluruh terhadap perusahaan BUMN.

“Ini adalah program yang kita jalankan karena kita melakukan konsultasi secara keseluruhan.

Di BUMN kita totalnya kurang lebih pada saat kita konsultasi itu jumlahnya 1.074,” kata Rosan di acara Investor Daily Summit 2026 di Raffles Hotel, Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.

Rosan mengatakan, perampingan perusahaan BUMN dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, juga untuk mengoptimalkan aset-aset yang dimiliki perusahaan pelat merah.

“Setelah kita melakukan assessment atau evaluasi secara menyeluruh, kita melihat bahwa kita bisa meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan optimalisasi dari aset kita dan kita bisa mengurangkan sampai jumlahnya kurang lebih sebesar 250 perusahaan,” ujarnya.

Rosan mengakui proses perampingan perusahaan BUMN tidak mudah. Namun, Danantara memastikan seluruh proses restrukturisasi dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Kita dalam proses melakukan ini. Tidak mudah, terus terang, tidak gampang.

Tetapi tentunya dengan selalu mengikuti peraturan perundang-undangan yang ada dan dengan spirit yang baik, Insyaallah ini bisa kita lakukan,” tutur Rosan.

Selain mengurangi jumlah perusahaan, Danantara juga akan mendorong optimalisasi aset BUMN. Upaya tersebut mencakup peningkatan produktivitas dan efisiensi perusahaan BUMN.

Rosan mengatakan langkah optimalisasi tersebut akan terus dilakukan pada 2027.

Sampai 5 Oktober 2026, sebanyak 354 perusahaan pelat merah sudah masuk daftar yang dipangkas.

CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan perkembangan itu telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026.

“Pemangkasan sekarang sudah di 354,” kata Rosan.

Angka tersebut merupakan bagian dari proses penataan ekosistem BUMN yang dilakukan Danantara.

Bentuknya macam-macam, mulai dari menutup perusahaan yang sudah tidak beroperasi, menggabungkan perusahaan yang punya bisnis serupa, sampai merapikan struktur perusahaan yang selama ini berdiri sendiri-sendiri.

Menurut Rosan, sebagian perusahaan yang ditutup sebenarnya sudah lama tidak menjalankan kegiatan usaha. Nama perusahaannya masih ada, tetapi asetnya sudah tidak lagi digunakan untuk menjalankan operasional.

Ada pula perusahaan yang digabung karena bergerak di bidang yang sama. Salah satu contohnya adalah sejumlah perusahaan asset management milik bank-bank BUMN yang dikonsolidasikan.

Rosan mengatakan konsolidasi tersebut dilakukan secara vertikal maupun horizontal. Jadi, bukan sekadar mengurangi jumlah papan nama perusahaan, melainkan juga merombak hubungan bisnis di dalam ekosistem BUMN.

“Kami melakukan merger secara vertikal, horizontal, dan juga menggabungkan beberapa perusahaan yang sejenis,” ujar Rosan.

Sejumlah BUMN bakal Melantai di Bursa 2027

Di kesempatan itu, Rosam mengungkapkan, sejumlah BUMN dipersiapkan melantai di bursa pada 2027. Hal itu dilakukan sebagai salah satu upaya meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan milik negara.

Rosan Roeslani mengatakan, persiapan sejumlah BUMN sudah dimulai. “Kisa sudah mulai pembahasan dan sudah memulai tahapan-tahapannya di Danantara dan BUMN,” kata Rosan.

Rosan mengatakan, terdapat sejumlah BUMN yang telah dipersiapkan untuk melantai di bursa. Menurut dia, proses tersebut ditargetkan dapat terealisasi pada 2027.

Rosan menilai, masuknya BUMN ke bursa menjadi salah satu bentuk transparansi pengelolaan perusahaan negara. Hal tersebut diharapkan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja perusahaan milik negara.

Menurut Rosan, perusahaan BUMN yang melantai di bursa akan mendapatkan pengawasan lebih luas, tidak hanya berasal dari pemerintah, tetapi juga lembaga lain dan publik, di antaranya Otoritas Jasa Keuangan, pemegang saham, serta masyarakat secara luas.

“Tahun 2027 kita sudah mengidentifikasi beberapa perusahaan untuk melantai ke bursa.

Ini sebagai salah satu bentuk dari transparansi kita dalam rangka meningkatkan akuntabilitas, karena kalau di bursa banyak yang memantau atau melihatnya, baik dari OJK, masyarakat dan yang berkepentingan lainnya,” ujarnya.

Rosan menilai keterbukaan tersebut juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurut dia, pertumbuhan perusahaan BUMN yang melantai di bursa dapat dirasakan masyarakat. Manfaat tersebut dapat berupa peningkatan nilai tambah, perkembangan operasional, hingga manfaat ekonomi lainnya.

Rosan mengatakan, proses identifikasi perusahaan yang berpotensi melantai di bursa masih berlangsung. Pihaknya menargetkan proses identifikasi tersebut selesai sebelum akhir 2026.

Danantara kemudian akan menginstruksikan sejumlah perusahaan yang dinilai memiliki potensi. Perusahaan tersebut juga diharapkan mendapatkan respons positif dari dunia usaha.

Respons tersebut diharapkan berasal dari pelaku usaha dalam negeri maupun luar negeri.

“BUMN yang akan melantai di bursa Ada sektor finansial, infrastruktur, pertambangan juga ada,” katanya menambahkan.

Dengan demikian, sejumlah BUMN dari berbagai sektor berpotensi masuk pasar modal pada 2027. Namun, nama perusahaan yang akan melantai di bursa belum disampaikan secara rinci oleh Rosan.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.