IHSG terkoreksi 1,88 persen ke level 6.031 dan pergerakannya didominasi tekanan jual yang meningkat.
Kondisi teknikal tersebut membuat level 6.000 menjadi area penting bagi arah pergerakan indeks pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026.
Phintraco Sekuritas menilai IHSG berpotensi kembali menguji level kritikal tersebut setelah indeks ditutup di bawah MA5 dan MA10, disertai peningkatan volume jual.
Dalam ulasannya, Phintraco Sekuritas menyebut IHSG masih memiliki peluang membentuk pola double bottom apabila mampu bertahan di atas 6.000 dan kembali mengalami rebound.
Sebaliknya, penutupan di bawah level tersebut dapat membuka ruang koreksi menuju area 5.800-5.900.
Sementara itu, MNCS Daily Scope melihat skenario yang sedikit berbeda.
Dalam skenario terbaik, posisi IHSG saat ini dinilai masih berada pada bagian wave iv dari wave c, sehingga indeks masih berpeluang menguat untuk menguji area gap di 6.227-6.231.
Namun, MNCS juga memberikan perhatian terhadap level 5.973. Apabila level tersebut ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju 5.850-5.911.
Untuk jangka pendek, area 6.008-6.025 menjadi zona yang perlu dicermati.
MNCS menetapkan support IHSG pada 6.018 dan 5.973, sedangkan resistance berada di 6.297 dan 6.376.
BNI Sekuritas juga melihat peluang rebound apabila IHSG mampu bertahan di sekitar 6.000. Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menyebut support IHSG berada pada 5.950-6.000, sementara resistance berada di 6.070-6.120.
Dengan demikian, terdapat kesamaan pandangan pada satu hal, yakni area 6.000 menjadi level penting bagi IHSG. Perbedaannya terletak pada proyeksi setelah indeks bergerak dari area tersebut.
Jika mampu bertahan dan rebound, IHSG memiliki ruang untuk menguji resistance terdekat. Sebaliknya, jika support ditembus, risiko koreksi menuju area yang lebih rendah semakin terbuka.
Tekanan jual yang meningkat menjadi faktor penting dalam membaca kondisi indeks saat ini. Penutupan di bawah MA5 dan MA10 menunjukkan IHSG masih berada dalam tekanan jangka pendek.
Namun, keberadaan IHSG di sekitar 6.000 membuat level tersebut menjadi penentu arah berikutnya.
Enam Saham Jadi Pilihan Trading
Di tengah koreksi IHSG, BNI Sekuritas memilih enam saham yang dinilai dapat menjadi pilihan pelaku pasar pada perdagangan Jumat, yakni MEDC, DSSA, DEWA, BRIS, ISAT dan ADMR.
MEDC menjadi salah satu saham yang masuk dalam strategi Spec Buy. Area pembelian berada pada 1.420-1.445 dengan batas cut loss di bawah 1.420. Target terdekat berada pada 1.455-1.475.
DSSA juga masuk kategori Spec Buy dengan area beli 1.075-1.100. Batas cut loss ditempatkan di bawah 1.055, sedangkan target terdekat berada di 1.125-1.155.
Untuk DEWA, area Spec Buy berada pada 350-356. Investor perlu mencermati level 350 sebagai batas cut loss, sementara target terdekat berada pada 364-376.
BRIS memiliki area Spec Buy di sekitar 1.335. Batas cut loss berada di bawah 1.300 dan target terdekat dipatok pada 1.365-1.400.
ISAT memiliki area beli 2.110-2.140 dengan strategi Spec Buy. Batas cut loss berada di bawah 2.100, sementara target terdekat berada pada 2.170-2.200.
Sementara ADMR memiliki area Spec Buy pada 1.480-1.500. Level 1.480 menjadi batas cut loss, dengan target terdekat 1.530-1.550.
INKP, KLBF, RAJA dan AADI
Selain enam saham pilihan BNI Sekuritas, MNCS memberikan sejumlah strategi untuk INKP, KLBF, RAJA dan AADI.
INKP ditutup turun 0,91 persen ke 8.200 dan masih berada di bawah cluster MA20 dan MA60. MNCS melihat saham ini dalam posisi wavedari wave .
Strategi yang diberikan adalah Buy on Weakness pada 8.050-8.200, dengan target 8.525 dan 8.725. Stop loss berada di bawah 7.925.
Berbeda dengan INKP, KLBF menguat 2,65 persen ke 775 dengan volume pembelian yang muncul. Penguatan tersebut juga membawa KLBF menembus MA60. MNCS memperkirakan KLBF berada pada awal wavedari wave .
Area Buy on Weakness KLBF berada di 740-760, dengan target 810 dan 830. Stop loss ditempatkan di bawah 715.
RAJA terkoreksi 1,48% ke 665 dengan tekanan jual yang cenderung meningkat. MNCS memperkirakan posisi RAJA berada pada awal wave A dari waveArea Buy on Weakness berada di 645-660, dengan target 730 dan 760 serta stop loss di bawah 605.
Sementara itu, AADI masih menghadapi tekanan. Saham tersebut turun 3,10% ke 11.725 dan koreksinya menembus MA20.
MNCS memperkirakan AADI berada pada bagian awal wave C dari wavesehingga masih rawan melanjutkan koreksi menuju 9.975-10.650 sekaligus menutup area gap.
Untuk AADI, strategi yang diberikan adalah Sell on Strength pada 11.875-12.025.
Dengan IHSG berada hanya sedikit di atas level 6.000, arah indeks pada perdagangan Jumat akan sangat bergantung pada kemampuan bertahan di area support tersebut.
Rebound dari sekitar 6.000 membuka ruang menuju resistance 6.070-6.120, sedangkan tekanan jual yang membawa IHSG menembus 5.973 dapat memperbesar risiko koreksi menuju area 5.850-5.911.
Bagi saham individual, strategi yang tersedia menunjukkan pendekatan berbeda sesuai kondisi teknikal masing-masing emiten.
MEDC, DSSA, DEWA, BRIS, ISAT dan ADMR masuk strategi Spec Buy, sementara INKP, KLBF dan RAJA menggunakan pendekatan Buy on Weakness.
AADI justru masuk strategi Sell on Strength karena tekanan jual dan posisi teknikalnya masih menunjukkan risiko koreksi.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.