Namun, aksi akuisisi portofolio spektrum frekuensi rendah berskala nasional di AS yang dibuat SpaceX meruntuhkan saham-saham teknologi.
Penguatan Wall Street sendiri terjadi seiring perilaku investor mengalihkan perhatian ke musim laporan keuangan kuartal III 2026 dan data inflasi Amerika Serikatyang akan dirilis pekan depan.
Kedua agenda tersebut menjadi perhatian pasar untuk menilai kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve
Dow Jones Industrial Average naik 423,31 poin atau 0,83 persen menjadi 51.654,95. Indeks S&P 500 bertambah 46,15 poin atau 0,59 persen ke level 7.811,51, sedangkan Nasdaq Composite menguat 172,83 poin atau 0,64 persen menjadi 27.366,17.
Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan pasar saham AS menjelang dimulainya periode publikasi laporan keuangan perusahaan untuk kuartal III 2026.
Meski demikian, indeks Russell 2000 yang mewakili saham-saham berkapitalisasi kecil ditutup lebih rendah dibandingkan posisi penutupan Jumat sebelumnya.
Analis strategi investasi Baird Ross Mayfield, menilai pergerakan pasar masih dipengaruhi perubahan sentimen terhadap perkembangan konflik Iran.
Pernyataan yang berbeda dari Gedung Putih dan pihak-pihak di Timur Tengah membuat pelaku pasar kesulitan menentukan arah perdagangan secara konsisten.
Situasi tersebut tercermin dari penguatan indeks saham yang berlangsung bersamaan dengan perubahan harga komoditas dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Laporan Keuangan Bank Menjadi Perhatian
Pekan depan, perhatian investor akan tertuju pada publikasi laporan keuangan sejumlah bank besar AS.
Wells Fargo, Goldman Sachs, Citigroup, JPMorgan Chase, Bank of America, dan Morgan Stanley dijadwalkan menyampaikan kinerja keuangan kuartal III 2026.
Laporan keuangan sektor perbankan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan untuk menilai aktivitas ekonomi, permintaan kredit, pendapatan bunga, serta kondisi keuangan nasabah.
Kinerja perusahaan-perusahaan tersebut juga akan memberikan gambaran mengenai perkembangan bisnis di tengah perubahan ekspektasi suku bunga dan kondisi pasar keuangan.
Secara agregat, analis memperkirakan laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 tumbuh 30,6 persen secara tahunan pada periode Juli hingga September 2026.
Proyeksi tersebut menunjukkan ekspektasi pertumbuhan laba yang kuat menjelang dimulainya musim laporan keuangan.
Sektor energi diperkirakan mencatatkan pertumbuhan laba tahunan terbesar, mencapai 123 persen. Sementara itu, sektor teknologi diproyeksikan membukukan pertumbuhan laba sebesar 66,5 persen.
Estimasi tersebut mengacu pada data LSEG yang dikutip Reuters.
Pertumbuhan laba kedua sektor tersebut menjadi bagian penting dari ekspektasi pasar terhadap kinerja korporasi AS.
Sektor energi berkaitan dengan pergerakan harga komoditas, sedangkan sektor teknologi masih memperoleh perhatian dari investor seiring perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence
Manajer portofolio Founder ETFs Michael Monaghan, menyebut saham-saham semikonduktor menjadi salah satu tema utama pasar pada tahun ini. Menurutnya, perkembangan teknologi tersebut berkaitan dengan perubahan industri dalam jangka panjang.
Di pasar saham, saham-saham yang berkaitan dengan AI secara umum bergerak menguat pada Jumat.
Roundhill Magnificent Seven ETF naik 1 persen, mencerminkan penguatan kelompok saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar yang menjadi bagian penting dalam reli pasar saham AS.
Data Inflasi dan Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Selain laporan keuangan, investor menantikan data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan. Data tersebut berpotensi memengaruhi penilaian pasar terhadap langkah kebijakan moneter Federal Reserve.
Perkembangan inflasi menjadi perhatian karena menentukan seberapa besar ruang bagi bank sentral AS untuk menyesuaikan suku bunga.
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dapat memengaruhi imbal hasil obligasi pemerintah, valuasi saham, dan aliran investasi di pasar keuangan.
Pada perdagangan Jumat, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury bergerak naik tipis. Kendati demikian, tingkat imbal hasil tersebut masih berada di bawah level tertinggi dalam 24 tahun yang tercatat pada Rabu sebelumnya.
Di sisi lain, kondisi konsumen AS memperlihatkan tekanan. Berdasarkan survei University of Michigan, sentimen konsumen memburuk pada Oktober, dengan ekspektasi jangka pendek mencapai level terendah sepanjang sejarah survei tersebut.
Perkembangan ini menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 70 persen aktivitas ekonomi AS.
Pelemahan sentimen konsumen dapat menjadi indikator perubahan perilaku belanja, meskipun dampaknya terhadap konsumsi aktual tetap perlu dilihat melalui data ekonomi berikutnya.
Dengan laporan keuangan dan data inflasi yang segera dirilis, pelaku pasar memiliki sejumlah indikator baru untuk mengevaluasi prospek pertumbuhan ekonomi dan arah suku bunga.
Harga Minyak Berbalik Menguat
Pergerakan harga minyak turut memengaruhi dinamika pasar pada Jumat.
Harga minyak mentah sempat melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu atau midterm elections.
Trump juga menyebut pembicaraan antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang Iran berlangsung produktif.
Pernyataan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Namun, harga minyak berbalik menguat pada akhir perdagangan. Kontrak berjangka West Texas Intermediatedan Brent masing-masing ditutup naik 0,4 persen.
Perubahan harga tersebut memperlihatkan bahwa pasar minyak masih sensitif terhadap perkembangan diplomatik dan risiko geopolitik.
Ketidakpastian mengenai kelanjutan konflik membuat arah harga energi tetap bergantung pada perkembangan terbaru dari kawasan tersebut.
Bagi pasar saham, pergerakan minyak menjadi salah satu faktor yang diperhatikan karena dapat memengaruhi biaya energi perusahaan, tekanan inflasi, dan ekspektasi kebijakan moneter.
Saham Telekomunikasi Tertekan oleh Langkah SpaceX
Di tengah penguatan indeks utama, sektor jasa komunikasi menjadi satu-satunya dari 11 sektor utama S&P 500 yang mencatatkan penurunan secara persentase.
Tekanan terutama terlihat pada perusahaan telekomunikasi setelah SpaceX mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi portofolio spektrum frekuensi rendah berskala nasional di AS.
Langkah tersebut dinilai membuka tantangan persaingan langsung bagi operator jaringan nirkabel yang telah beroperasi di pasar tersebut.
Saham T-Mobile US, AT&T, dan Verizon masing-masing turun dalam kisaran 8,8 persen hingga 13,3 persen.
Penurunan tersebut menempatkan saham telekomunikasi sebagai salah satu kelompok yang mengalami tekanan terbesar pada perdagangan Jumat.
Sementara itu, saham Humana melonjak 11,6 persen setelah data pemerintah AS menunjukkan 95 persen anggota perusahaan asuransi kesehatan tersebut berada dalam program Medicare Advantage dengan peringkat empat bintang atau lebih tinggi untuk 2027.
Sebaliknya, saham Apple turun 1,1 persen. Penurunan terjadi setelah laporan media menyebut perusahaan meminta sejumlah pemasok mengurangi produksi komponen untuk iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max yang baru diluncurkan.
Laporan tersebut mengaitkan langkah itu dengan kenaikan biaya cip memori dan harga perangkat yang menekan permintaan konsumen.
Pergerakan Saham Belum Merata
Data perdagangan menunjukkan jumlah saham yang menguat di Bursa Efek New Yorkmelampaui saham yang melemah dengan rasio 1,65 banding 1. NYSE mencatat 141 saham mencapai level tertinggi baru dan 183 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 2.756 saham naik dan 1.997 saham turun, dengan rasio saham menguat terhadap saham melemah sebesar 1,38 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatat 14 saham mencapai level tertinggi dalam 52 minggu dan lima saham menyentuh level terendah. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 41 saham pada level tertinggi baru dan 209 saham pada level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 14,37 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 17,76 miliar saham selama 20 sesi perdagangan terakhir.
Perbedaan kinerja antarsaham tersebut menunjukkan bahwa penguatan indeks utama tidak diikuti kenaikan yang merata di seluruh pasar.
Investor menghadapi kombinasi katalis, mulai dari ekspektasi pertumbuhan laba, perkembangan teknologi, risiko geopolitik, hingga perubahan prospek ekonomi.
Memasuki pekan depan, arah Wall Street akan dipengaruhi oleh laporan keuangan bank-bank besar, perkembangan inflasi AS, serta respons pasar terhadap kebijakan The Fed.
Ketiga faktor tersebut akan menjadi bagian penting dalam penilaian investor terhadap keberlanjutan penguatan saham AS menjelang akhir tahun.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.