Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menginstruksikan jajarannya untuk memacu target lifting minyak bumi nasional ke level 612.500 barel per hari.
Bahlil mengutarakan bahwa penetapan patokan angka lifting minyak tersebut telah dikomunikasikan secara mendalam dengan berbagai instansi terkait demi memicu kinerja otoritas hulu migas.
“Sesuai dengan nota keuangan dan memperhatikan realisasi sampai dengan Juli tahun 2026, lifting minyak, gas, dan bumi pada RAPBN tahun 2027 diusulkan sebesar 1,564 juta barel setara minyak per hari.
Khusus lifting minyak bumi, saya beberapa hari lalu sudah melakukan komunikasi dengan beberapa kementerian dan pimpinan yang lain itu di sekitar 612.500 barel per hari, supaya kerja Kepala SKK Migas juga kelihatan,” tegas Bahlil saat Rapat Kerja Komisi Xll DPR RI, dikutip Selasa, 1 September 2026.
Bahlil merinci bahwa alokasi total lifting migas nasional sebesar 1,564 juta barel setara minyak per hari tersebut ditopang oleh dua komponen utama, yakni minyak bumi dan gas bumi.
Selain target lifting minyak bumi sebesar 612.500 bpd, pemerintah mematok target lifting gas bumi nasional berada pada angka 954.000 barel setara minyak per hari.
“Untuk lifting gas bumi diusulkan sebesar 954.000 barel setara minyak per hari, dengan pengembalian biaya operasi ditargetkan sebesar 10,1 miliar dolar AS,” jelas Bahlil.
Dalam penetapan asumsi makro sektor energi 2027 tersebut, pemerintah mengusulkan patokan harga minyak mentah InIndonesia atau Indonesia Crude Pricesebesar USD75 per barel.
Bahlil mengibaratkan gejolak harga minyak mentah dunia bagaikan pergerakan penyakit malaria yang sangat sulit diprediksi akibat tingginya eskalasi konflik geopolitik global.
“Dinamika global perang masih belum bisa kita prediksi kapan selesai dan harga minyak dunia ini saya menganalogikan seperti penyakit malaria. Pagi sembuh, sore bisa bangkit lagi penyakitnya. Jadi kita tidak pernah tahu,” kiasnya.
Kementerian ESDM turut mengantisipasi skenario pembengkakan anggaran subsidi energi apabila pergerakan ICP dan nilai tukar rupiah tertekan melebihi batas asumsi dasar.
Proyeksi asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2027 ditetapkan pada kisaran Rp17.500 per dolar AS dengan patokan laju inflasi domestik di angka 2,5 persen.
“Usulan subsidi listrik pada RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun dengan asumsi ICP 75 dolar per barel, nilai tukar Rp17.500, dan inflasi 2,5 persen.
Jika harganya naik menjadi USD80 per barel ICP, maka ada kemungkinan penambahan subsidi termasuk penyesuaian nilai tukar,” papar Bahlil.
Bahlil menekankan bahwa pencapaian target lifting minyak bumi sebesar 612.500 bopd merupakan pertaruhan penting bagi ketahanan energi nasional di tengah tingginya ketergantungan impor.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumidituntut mengeksekusi program pengeboran masif dan percepatan pengoperasian lapangan baru.
“Target ini menjadi ujian konkret ketegasan manajemen hulu migas kita. Seluruh pihak terkait wajib mengawal agar angka lifting ini benar-benar terealisasi di lapangan,” ujarnya.
Impor Minyak RI Masih 700 Ribu Barel per Hari
Sebelumnya diberitakan, Kementerian ESDM membeberkan fakta memprihatinkan terkait masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan bahan bakar minyakIndonesia tercatat harus mengimpor rata-rata 700 ribu barel minyak per hari guna menutupi defisit konsumsi energi domestik.
Bahlil mengungkapkan, ketimpangan antara jumlah produksi minyak bumi nasionaldan angka konsumsi harian masyarakat menjadi pemicu utama besarnya keran impor tersebut.
“Lifting minyak kita sampai dengan sekarang tidak lebih dari 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi kita itu mencapai 1,5 sampai 1,6 juta barel per hari,” ungkap Bahlil saat Opening the 12th Indonesia Internasional Geothermal Conversation and Exhibition, pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Bahlil merinci, program mandatori biodiesel B50 memang diproyeksikan mampu menekan angka impor bahan bakar fosil dalam jumlah yang cukup signifikan.
Namun, penggunaan campuran minyak sawit tersebut belum sepenuhnya membebaskan anggaran negara dari beban impor BBM jenis solar dan bensin.
“B50 itu mampu mengkonversi kurang lebih sekitar 300 ribu sampai 350 ribu barel. Artinya, rata-rata kita masih membutuhkan impor minyak di kisaran 700 ribu barel per hari,” terang mantan Kepala BKPM tersebut.
Kebutuhan impor tersebut kian membengkak karena sektor ketenagalistrikan domestik juga masih bergantung pada pasokan BBM cair saat terjadi gangguan atau keterbatasan pasokan gas alam.
PLN tercatat masih mengonsumsi minyak BBM cair dalam jumlah ratusan ribu barel per hari untuk mengoperasikan pembangkit listriknya.
“PLN itu membutuhkan kurang lebih sekitar 200 ribu sampai 220 ribu barel minyak per hari, tergantung kalau pasokan gasnya habis atau produksi energi potensial tidak masuk, mereka balik lagi menggunakan diesel,” beber Bahlil.
Tingginya angka impor ini menempatkan Indonesia pada posisi rentan terhadap gejolak harga minyak mentah dunia yang sangat tidak menentu akibat eskalasi konflik geopolitik global.
Bahlil menggambarkan pergerakan harga minyak dunia saat ini sangat liar dan sulit diprediksi oleh para pakar sekalipun.
“Harga daripada minyak dunia saya mengumpamakan seperti orang sakit malaria. Pagi bisa turun, malam bisa naik.
Tiga hari bisa turun, tujuh hari bisa naik, tergantung dari kesepakatan dan isu yang dibangun di Selat Hormuz,” sentilnya.
Atas dasar pertimbangan risiko geopolitik tersebut, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Kementerian ESDM untuk memacu percepatan konversi energi dari fosil ke energi baru terbarukansecara masif.
Pemerintah meluncurkan target ambisius pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Suryasebesar 100 Gigawatt, dengan tahap awal seluas 30 GW yang mulai ditenderkan pada tahun 2026.
“Ketergantungan ini harus segera kita minimalisir dalam rangka menuju kedaulatan energi.
Presiden Prabowo memerintahkan kepada kami untuk segera mencari terobosan alternatif, karena bayangkan kalau hampir semua dunia menggantungkan hidupnya gara-gara Selat Hormuz ditutup atau dibuka, di mana letak kedaulatan sebuah bangsa?” pungkas Bahlil.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.