CEO KGI Buka FER Sulawesi Kendari 2026, Usung Konsep Ekoteologi

“Forum ekonomi regional ini adalah sebuah gagasan yang kita bentuk untuk memberi sumbangsih pemikiran buat seluruh stakeholder, yang kemudian kita maksimalkan agar menghasilkan rekomendasi-rekomendasi,” tegas Upi Asmaradhana saat menyampaikan pidato sambutanpada acara pembukaan Forum Ekonomi RegionalSulawesi Kendari 2026 di Amphitheatre Universitas Islam NegeriKendari, Sulawesi Tenggara, Rabu, 26 Agustus 2026.

Upi menjelaskan bahwa penyelenggaraan forum di Sulawesi Tenggara ini merupakan wujud nyata tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) yang dibiayai sendiri oleh KGI demi memberi kontribusi pemikiran bagi masa depan bangsa.

Melalui perjumpaan ini, KGI yang berdiri sejak 29 Agustus 2009 ingin menginisiasi ruang dialog yang konstruktif antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri tambang.

“Melalui kesempatan ini, kami juga ingin memberi kontribusi dengan mengadakan forum dan sesi-sesi diskusi yang kemudian kita harapkan bisa bermanfaat untuk generasi yang akan datang,” kata Upi.

Forum Ekonomi Regional di Kendari ini merupakan gelaran ke-7 dari rangkaian dialog yang dilaksanakan di enam kota di Indonesia.

Sebelumnya, rangkaian forum ini telah berlangsung di Jakarta, Pontianak, Palembang, Yogyakarta (Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY), serta SumedangPuncak rangkaian forum tersebut dijadwalkan bakal digelar di Jakarta pada 9 Desember mendatang untuk mengawal perbaikan pembangunan nasional.

Upi menguraikan bahwa pemilihan tema ekoteologi dalam forum di Sulawesi Tenggara ini merupakan arahan langsung dari Menteri Agama. Tema ini diangkat untuk merumuskan keseimbangan antara pengembangan industri ekstraktif dan kelestarian alam.

“Bagaimana pengembangan ekoteologi itu, bagaimana pembangunan industri itu tidak mengeksploitasi, tetapi mengeksplorasi,” tegas Upi.

Hasil pembahasan dari forum ini akan dirumuskan oleh tim pakar dan diserahkan secara resmi kepada dua instansi pusat, yakni Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineralserta Kementerian Agama.

Upi mengharapkan Sekretaris Jenderal Dewan Energi NasionalDr. Ir.

Dadan Kusdiana, M.Sc., yang hadir dalam acara tersebut, dapat turut mengawal hasil rekomendasi kebijakan tersebut.

Selain penyerahan rekomendasi ke pemerintah pusat, Upi mengungkapkan bahwa gagasan ekoteologi yang dibahas berpotensi ditindaklanjuti dengan pembentukan pusat studi di perguruan tinggi.

Saat ini terdapat dua kampus yang bersaing menjadi pusat kajian ekoteologi di Indonesia, yakni UIN Kendari dan IAIN Pontianak. Tim pakar FER menjatuhkan pilihannya di UIN Kendari.

“Sehingga kemudian gagasan lahirnya konsep ekoteologi itu kemungkinan besar akan ada pusat studinya, kalau bukan di UIN Kendari, di IAIN Pontianak, Kalimantan Barat.

Nanti tim perumus dari pakar Forum Ekonomi Regional itu menjatuhkan pilihannya ke Kendari,” tutur Upi.

Pemilihan Sulawesi Tenggara sebagai tuan rumah FER ke-7 juga dilatarbelakangi oleh rekam jejak historis.

Upi menyebutkan bahwa Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, sebelumnya pernah menjadi pembicara dalam FER di Universitas HasanuddinMakassar yang turut dihadiri Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara.

Meski panitia sempat mengusulkan Manado sebagai lokasi acara, Upi memutus untuk mengelar forum ini di Kendari.

Secara kawasan, Sulawesi Tenggara memiliki posisi vital dalam peta industri logam dasar nasional.

Wilayah ini mencatatkan cadangan bijih nikel mencapai 1,68 miliar ton dan total sumber daya sebesar 6,26 miliar ton di sentra pengolahan terintegrasi seperti Pomalaa, Morosi, dan Konawe.

Namun, ekspansi industri ekstraktif di atas lahan seluas 198.624,66 km² tersebut memicu ancaman ekologis seperti deforestasi seluas 3.565,8 hektare hingga dampak limpasan sedimen ke area pesisir.

Penyelenggaraan Forum Ekonomi Regional ini terbagi ke dalam dua sesi diskusi utama yang menghadirkan perspektif komprehensif dari jajaran pemangku kepentingan.

Sesi pertama berfokus pada penguatan fondasi kebijakan lokal, dinamika ekonomi regional, serta keterlibatan aktif dunia usaha dan insan media.

Sesi ini menghadirkan Wali Kota Kendari Siska Karina Imran, pakar ekonomi Abdul Rahman Farisi, Ketua BPD HIPMI Sultra Triawan Rizbar Taha, Direktur HRD PT Trio Kencana Syahrir, serta dosen dan praktisi media Mahdar.

Sementara itu, sesi diskusi kedua memperluas cakupan pembahasan pada dimensi sosiologis, regulasi nasional, hingga instrumen moneter dan literasi masyarakat.

Diskusi tersebut menghadirkan Bupati Buton Selatan Muhammad Adios, sosiolog Universitas Hasanuddin Sawedi Muhammad, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sultra Edwin Permadi, Anggota DPD RI La Ode Umar Bonte, serta akademisi Rivi Handayani.

“Mudah-mudahan dari pertemuan yang sederhana ini kita melahirkan konsep gagasan yang insyaallah kita akan follow up nanti,” ucap Upi mengakhiri sambutannya.

Agenda pembukaan yang diselenggarakan atas kolaborasi KGI, AMSI Sulawesi Tenggara, dan UIN Kendari ini turut dihadiri Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, MA.

secara daring sebagai keynote speaker, Sekjen DEN Dadan Kusdiana, Wakil Gubernur Sultra Hugua, Rektor UIN Kendari Prof. Dr.

H. Husain Insawan, M.Ag., perwakilan Kapolda Sultra, perwakilan Bank Indonesia, serta jajaran kepala daerah dan direksi perusahaan pertambangan.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.