Wagub Sultra Hugua Dorong Ekoteologi Jadi Paradigma Baru Kelola SDA

Dalam sambutannya, Hugua mengajak para pemangku kepentingan dan pelaku industri pertambangan untuk mengadopsi paradigma “ekoteologi” dalam mengelola sumber daya alam.

Konsep ini menggabungkan antara nilai kesadaran spiritualdan fisika kuantum untuk mencegah eksploitasi alam secara berlebihan.

“Kenapa ini sangat istimewa? Karena kita bicara ekoteologi.

Kita tidak hanya bicara ekosistem, kita bicara Tuhan, kita bicara masyarakat, dan kita bicara lingkungan. Spiritual science dan science itu dua hal yang tidak pernah berpisah,” ujar Hugua.

Hugua menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan keyakinan dasar bahwa alam semesta beserta isinya, tumbuhan, air, mineral, hingga manusia, merupakan satu kesatuan energi ciptaan Tuhan yang saling terhubung

Dalam teori fisika kuantum maupun pendekatan spiritual, tindakan manusia yang merusak alam akan melepaskan gelombang energi negatif yang pada akhirnya akan memicu dampak buruk balik bagi kehidupan manusia itu sendiri.

“Ekoteologi adalah keyakinan bahwa bumi ini rumah kita bersama. Di mana tumbuhan jangan diganggu berlebihan, tanaman jangan diganggu berlebihan, airnya jangan diganggu berlebihan.

Justru kita gunakan segala sumber daya untuk kemakmuran masyarakat dalam konteks seimbang,” jelasnya.

Mantan penggiat lingkungan ini memperingatkan para pengusaha tambang agar tidak memandang pengelolaan mineral sekadar dari kacamata pengetahuan logis, melainkan harus sampai pada tahap kesadaran.

Ia mengutip hukum alam atau law of attraction, di mana pengerukan alam yang abai terhadap kelestarian lingkungan pasti memicu bencana ekologis yang merugikan daerah.

“Kalau anda merusak alam semesta, alam semesta akan kembali membalas. Law of attraction, hukum alam semesta.

Kalau saya melepas energi negatif, maka negatif yang datang. Kalau kita mengambil lebih dari alam semesta, kita tidak bisa bebas karena ada gelombang elektromagnetik yang dilepaskan,” paparnya.

Oleh karena itu, Hugua meminta agar izin-izin usaha pertambangan di Sulawesi Tenggara dievaluasi ketat dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan serta keselamatan batin masyarakat sekitarnya.

Pengelolaan tambang yang tidak beretika dinilai memicu kekacauan sosial serta merusak tatanan keharmonisan ekosistem di daerah.

“Kalau negara mau makmur, ayo kita bareng-bareng jaga sumber daya alamnya, jaga batin masyarakatnya. Karena kalau gelombang elektromagnetik dilepaskan dengan kedamaian, maka pasti damai,” tuturnya.

Selain itu, Hugua berpesan kepada kalangan mahasiswa dan akademisi untuk merawat kedamaian daerah dan tidak mudah terprovokasi oleh aksi-aksi yang berpotensi merusak kondusivitas wilayah.

Ia menegaskan bahwa stabilitas keamanan dan kedamaian pikiran masyarakat merupakan modal utama dalam membangun ekonomi Sulawesi Tenggara yang berkelanjutan.

“Ekoteologi adalah kesimpulan keyakinan spiritual dengan science untuk mengelola bagaimana kebesaran hukum-Nya, masyarakatnya hidup makmur, tetapi lingkungan juga terjaga sebagai rumah kita bersama,” Jelasnya.

CEO KGI Buka FER Sulawesi Kendari 2026

CEO Kabar Grup Indonesia, Upi Asmaradhana, menegaskan pentingnya penerapan pengelolaan sumber daya alamberbasis ekoteologi guna mencegah eksplorasi industri pertambangan melampaui daya dukung lingkungan.

“Forum ekonomi regional ini adalah sebuah gagasan yang kita bentuk untuk memberi sumbangsih pemikiran buat seluruh stakeholder, yang kemudian kita maksimalkan agar menghasilkan rekomendasi-rekomendasi,” tegas Upi Asmaradhana saat menyampaikan pidato sambutanpada acara pembukaan Forum Ekonomi RegionalSulawesi Kendari 2026 di Amphitheatre Universitas Islam NegeriKendari, Sulawesi Tenggara, Rabu, 26 Agustus 2026.

Upi menjelaskan bahwa penyelenggaraan forum di Sulawesi Tenggara ini merupakan wujud nyata tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) yang dibiayai sendiri oleh KGI demi memberi kontribusi pemikiran bagi masa depan bangsa.

Melalui perjumpaan ini, KGI yang berdiri sejak 29 Agustus 2009 ingin menginisiasi ruang dialog yang konstruktif antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri tambang.

“Melalui kesempatan ini, kami juga ingin memberi kontribusi dengan mengadakan forum dan sesi-sesi diskusi yang kemudian kita harapkan bisa bermanfaat untuk generasi yang akan datang,” kata Upi.

Forum Ekonomi Regional di Kendari ini merupakan gelaran ke-7 dari rangkaian dialog yang dilaksanakan di enam kota di Indonesia.

Sebelumnya, rangkaian forum ini telah berlangsung di Jakarta, Pontianak, Palembang, Yogyakarta (Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY), serta SumedangPuncak rangkaian forum tersebut dijadwalkan bakal digelar di Jakarta pada 9 Desember mendatang untuk mengawal perbaikan pembangunan nasional.

Upi menguraikan bahwa pemilihan tema ekoteologi dalam forum di Sulawesi Tenggara ini merupakan arahan langsung dari Menteri Agama. Tema ini diangkat untuk merumuskan keseimbangan antara pengembangan industri ekstraktif dan kelestarian alam.

“Bagaimana pengembangan ekoteologi itu, bagaimana pembangunan industri itu tidak mengeksploitasi, tetapi mengeksplorasi,” tegas Upi.

Hasil pembahasan dari forum ini akan dirumuskan oleh tim pakar dan diserahkan secara resmi kepada dua instansi pusat, yakni Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineralserta Kementerian Agama.

Upi mengharapkan Sekretaris Jenderal Dewan Energi NasionalDr. Ir.

Dadan Kusdiana, M.Sc., yang hadir dalam acara tersebut, dapat turut mengawal hasil rekomendasi kebijakan tersebut.

Selain penyerahan rekomendasi ke pemerintah pusat, Upi mengungkapkan bahwa gagasan ekoteologi yang dibahas berpotensi ditindaklanjuti dengan pembentukan pusat studi di perguruan tinggi.

Saat ini terdapat dua kampus yang bersaing menjadi pusat kajian ekoteologi di Indonesia, yakni UIN Kendari dan IAIN Pontianak. Tim pakar FER menjatuhkan pilihannya di UIN Kendari.

“Sehingga kemudian gagasan lahirnya konsep ekoteologi itu kemungkinan besar akan ada pusat studinya, kalau bukan di UIN Kendari, di IAIN Pontianak, Kalimantan Barat.

Nanti tim perumus dari pakar Forum Ekonomi Regional itu menjatuhkan pilihannya ke Kendari,” tutur Upi.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.