Ekonomi Sultra Tumbuh 5,6 Persen, Wagub Hugua Ungkap Pertanian-Perdagangan Fondasi Utama

Pemerintah provinsi menegaskan bahwa penopang utama penggerak roda ekonomi daerah tersebut bukan berasal dari sektor pertambangan, melainkan disumbang oleh kinerja dominan sektor pertanian dan perdagangan umum.

Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, mengungkapkan rincian struktur Produk Domestik Regional BrutoSultra dalam pembukaan Forum Ekonomi Regional Sulawesi Seri VII di Kendari, Rabu, 26 Agustus 2026.

“Pertumbuhan ekonomi kita sekarang 5,6 persen. Dari mana?

Lebih besar dipengaruhi oleh dari sektor pertanian dan perdagangan umum,” kata Hugua.

Hugua merinci bahwa sektor pertanian menyumbang porsi terbesar terhadap PDRB Sulawesi Tenggara, yakni mencapai 23 persen.

Sementara itu, posisi kedua diduduki oleh sektor pertambangan dengan porsi 20 persen, disusul oleh sektor perdagangan umum yang berkontribusi di kisaran 15 hingga 18 persen.

“Sektor pertanian menyumbang 23 persen dari PDRB, sektor pertambangan 20 persen, dan sektor perdagangan 15 sampai 18 persen,” urainya di hadapan peserta seminar.

Berdasarkan struktur data ekonomi tersebut, Hugua menyimpulkan bahwa kunci utama menjaga keberlanjutan ekosistem ekonomi Sulawesi Tenggara terletak pada optimalisasi sektor pertanian dan perdagangan, bukan memperluas pengerukan tambang.

Sektor pertanian terbukti lebih menyerap banyak tenaga kerja lokal serta memutar rantai pasok ekonomi riil secara langsung di tingkat tapak.

“Artinya apa? Kalau mau menjaga ekosistem Sulawesi Tenggara, bukan tambang!

Kalau mau menjaga ekoteologi Sulawesi Tenggara adalah sektor pertanian dan perdagangan. Itu fakta hukum dan fakta ekonomi,” tegas Hugua.

Ia menambahkan, pengembangan sektor pertanian dan perdagangan juga sejalan dengan prinsip perlindungan lingkungan hidup serta menjaga daya dukung alam Sultra dari ancaman kerusakan ekologis.

Penguatan industri kelautan, perikanan, serta perkebunan rakyat dinilai jauh lebih efektif menciptakan ketahanan ekonomi jangka panjang ketimbang bergantung pada komoditas ekstraktif yang berumur terbatas.

“Ayo, kalau melihat Sulawesi Tenggara ke depan, lihatlah ekosistemnya. Ayo kita jaga bersama sektor pertanian dan perdagangan ini,” ajaknya.

Dalam kesempatan tersebut, Hugua turut mengapresiasi sinergi akademisi dari UIN Kendari, Universitas Hasanuddin, serta pakar ekonomi yang konsisten memberikan masukan bagi formulasi kebijakan pembangunan daerah.

Penguatan riset di bidang pertanian berkelanjutan diharapkan mampu memodernisasi komoditas unggulan lokal agar memiliki nilai jual tinggi di pasar domestik maupun ekspor.

“Pemerintah daerah mengapresiasi civitas akademika dan para ahli yang terus mendorong gagasan ekonomi berbasis lingkungan ini,” puji Hugua.

Hugua berpesan kepada jajaran bupati dan wali kota se-Sultra agar mengarahkan kebijakan anggaran daerah untuk memperkuat infrastruktur pertanian, pasar rakyat, dan konektivitas logistik perdagangan.

“Langkah nyata menjaga batin dan kesejahteraan masyarakat adalah memastikan sektor riil seperti pertanian dan perdagangan ini terus tumbuh sehat,” pungkas Hugua.

Dorong Ekoteologi Jadi Paradigma Baru Kelola SDA

Sebelumnya dalam sambutannya, Hugua mengajak para pemangku kepentingan dan pelaku industri pertambangan untuk mengadopsi paradigma “ekoteologi” dalam mengelola sumber daya alam.

Konsep ini menggabungkan antara nilai kesadaran spiritualdan fisika kuantum untuk mencegah eksploitasi alam secara berlebihan.

“Kenapa ini sangat istimewa? Karena kita bicara ekoteologi.

Kita tidak hanya bicara ekosistem, kita bicara Tuhan, kita bicara masyarakat, dan kita bicara lingkungan. Spiritual science dan science itu dua hal yang tidak pernah berpisah,” ujar Hugua.

Hugua menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan keyakinan dasar bahwa alam semesta beserta isinya, tumbuhan, air, mineral, hingga manusia, merupakan satu kesatuan energi ciptaan Tuhan yang saling terhubung

Dalam teori fisika kuantum maupun pendekatan spiritual, tindakan manusia yang merusak alam akan melepaskan gelombang energi negatif yang pada akhirnya akan memicu dampak buruk balik bagi kehidupan manusia itu sendiri.

“Ekoteologi adalah keyakinan bahwa bumi ini rumah kita bersama. Di mana tumbuhan jangan diganggu berlebihan, tanaman jangan diganggu berlebihan, airnya jangan diganggu berlebihan.

Justru kita gunakan segala sumber daya untuk kemakmuran masyarakat dalam konteks seimbang,” jelasnya.

Mantan penggiat lingkungan ini memperingatkan para pengusaha tambang agar tidak memandang pengelolaan mineral sekadar dari kacamata pengetahuan logis, melainkan harus sampai pada tahap kesadaran.

Ia mengutip hukum alam atau law of attraction, di mana pengerukan alam yang abai terhadap kelestarian lingkungan pasti memicu bencana ekologis yang merugikan daerah.

“Kalau anda merusak alam semesta, alam semesta akan kembali membalas. Law of attraction, hukum alam semesta.

Kalau saya melepas energi negatif, maka negatif yang datang. Kalau kita mengambil lebih dari alam semesta, kita tidak bisa bebas karena ada gelombang elektromagnetik yang dilepaskan,” paparnya.

Oleh karena itu, Hugua meminta agar izin-izin usaha pertambangan di Sulawesi Tenggara dievaluasi ketat dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan serta keselamatan batin masyarakat sekitarnya.

Pengelolaan tambang yang tidak beretika dinilai memicu kekacauan sosial serta merusak tatanan keharmonisan ekosistem di daerah.

“Kalau negara mau makmur, ayo kita bareng-bareng jaga sumber daya alamnya, jaga batin masyarakatnya. Karena kalau gelombang elektromagnetik dilepaskan dengan kedamaian, maka pasti damai,” tuturnya.

Selain itu, Hugua berpesan kepada kalangan mahasiswa dan akademisi untuk merawat kedamaian daerah dan tidak mudah terprovokasi oleh aksi-aksi yang berpotensi merusak kondusivitas wilayah.

Ia menegaskan bahwa stabilitas keamanan dan kedamaian pikiran masyarakat merupakan modal utama dalam membangun ekonomi Sulawesi Tenggara yang berkelanjutan.

“Ekoteologi adalah kesimpulan keyakinan spiritual dengan science untuk mengelola bagaimana kebesaran hukum-Nya, masyarakatnya hidup makmur, tetapi lingkungan juga terjaga sebagai rumah kita bersama,” Jelasnya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.