BEI Agendakan RUPSLB pada 28 Oktober, Pembahasan Demutualisasi Masih Tunggu Keputusan OJKMengapa Reformasi Subsidi BBM dan Energi Selalu Jadi Simalakama bagi Pemerintah?
Namun, besarnya pendanaan tersebut perlu dilihat bersama posisi likuiditas DIM.
Investor materials yang dilihat Reuters menunjukkan DIM memiliki kas dan setara kas sekitar Rp123 triliun per 30 April 2026.
Dana tersebut antara lain ditopang oleh suntikan Rp70 triliun dari dividen BUMN, penerbitan Patriot Bond Rp68,4 triliun, serta obligasi global USD1,5 miliar.
DIM juga memiliki fasilitas kredit bergulir multivaluta hingga USD10 miliar, meski yang telah committed sebesar USD1 miliar.
Dengan demikian, persoalan DIM saat ini tidak bisa dibaca hanya dari besarnya utang. Perusahaan juga mempunyai bantalan likuiditas yang sangat besar.
Tantangannya adalah bagaimana dana tersebut dialokasikan menjadi investasi yang menghasilkan imbal hasil secara berkelanjutan.
Pada 2025, DIM mencatat pendapatan operasional sekitar Rp801,2 miliar dan laba bersih Rp116,3 miliar. Fitch menilai capaian tersebut masih berada pada tahap awal dan belum mencerminkan kemampuan operasional jangka panjang perusahaan.
Pada saat yang sama, beban bunga surat utang subordinasi mencapai sekitar Rp460,7 miliar.
Jika EBITDA 2025 sebesar Rp275,7 miliar dibandingkan dengan beban bunga tersebut, nilainya hanya sekitar 0,6 kali.
Perhitungan ini merupakan rasio sederhana dari angka yang tersedia, bukan interest coverage ratio resmi yang diterbitkan Fitch.
Kondisi tersebut perlu dibaca bersama usia DIM yang masih sangat muda. Karena itu, angka laba 2025 belum tepat dijadikan ukuran final mengenai kapasitas investasi perusahaan dalam jangka panjang.
Data likuiditas juga menunjukkan sebagian besar dana DIM ketika itu masih berada dalam bentuk kas dan setara kas.
Reuters mencatat posisi kas sekitar Rp123 triliun pada akhir April 2026, sementara strategi portofolio DIM ke depan masih diarahkan secara bertahap ke investasi strategis, aset privat dan aset publik.
Dengan kata lain, DIM memiliki modal dan akses pendanaan yang besar, tetapi mesin yang mengubah modal tersebut menjadi return investasi masih sedang dibangun.
Dukungan pemerintah kemudian menjadi bagian penting dari konstruksi keuangan tersebut.
Fitch mencatat DIM telah menerima suntikan modal Rp70 triliun pada 2025 dari BPI Danantara. Dana tersebut berasal dari dividen BUMN yang dihimpun melalui PT Danantara Asset Management.
Fitch juga memperkirakan dukungan modal tersebut dapat terus diberikan untuk menjaga likuiditas dan mendukung pertumbuhan portofolio DIM.
Moody’s sebelumnya memperkirakan DIM akan menerima tambahan suntikan modal sekitar Rp50 triliun pada 2026. Jika terealisasi sesuai proyeksi tersebut, total suntikan modal dalam dua tahun akan mencapai sekitar Rp120 triliun.
Angka Rp50 triliun tersebut merupakan proyeksi Moody’s, bukan angka yang seluruhnya telah diterima DIM.
Sumber dana dari ekosistem BUMN juga cukup besar. Namun, dividen BUMN yang masuk ke negara tidak dapat serta-merta disamakan dengan dana yang diterima DIM.
Yang lebih penting, Fitch melihat terdapat kepentingan pemerintah yang kuat untuk menjaga DIM.
Perusahaan merupakan lengan investasi BPI Danantara dan menjadi entitas dalam grup yang memiliki kewenangan menghimpun pendanaan melalui pasar modal.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.