FORU Top Gainers, IHSG Ambruk ke Level 6.277

Jelang Right Issue, FORU Anjlok 35 Persen Sepekan: Siapa yang Buang?FORU Bidik Rp27,1 Triliun Lewat Rights Issue, Cek Alokasi Penggunaan Dananya

Perbedaan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat dolar tetap memiliki daya tarik relatif terhadap yen.

Pasar dalam data tersebut memperkirakan peluang sekitar 30 persen bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga acuan jangka pendek menjadi 1,5 persen pada Oktober.

Di Amerika Serikat, peluang kenaikan 25 basis poin oleh Federal Reserve ke kisaran 4 persen-4,25 persen berada sekitar 53 persen.

Dolar Menguat, Minyak Kembali di Atas USD100

Pergerakan mata uang juga menunjukkan penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama. Indeks DXY naik 0,09 persen menjadi 100,52.

Euro melemah 0,1 persen ke USD1,1453, sedangkan poundsterling turun tipis 0,03 persen ke USD1,3365.

Pergerakan dolar dan ekspektasi kebijakan bank sentral menjadi bagian penting dari kondisi pasar global karena memengaruhi arus modal, imbal hasil aset, serta biaya lindung nilai valuta asing.

Di sisi lain, harga minyak Brent kembali naik 1,1 persen menjadi USD101,43 per barel.

Harga tersebut masih berada di bawah level tertinggi empat bulan yang dicapai pada awal September, tetapi posisinya kembali berada di atas USD100 per barel.

Kenaikan minyak menjadi perhatian terutama bagi negara dan kawasan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi.

Bagi pasar keuangan, perubahan harga minyak dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan pada akhirnya menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan bank sentral dalam menentukan kebijakan moneter.

Bagi IHSG, kombinasi tekanan domestik di pasar saham dengan perubahan ekspektasi terhadap BOJ, yen, dolar AS, dan harga minyak membuat perdagangan berlangsung dalam lingkungan global yang sensitif terhadap kebijakan moneter dan pergerakan valuta asing.

Dengan demikian, pelemahan IHSG pada Selasa bukan hanya tercermin dari penurunan indeks, tetapi juga dari luasnya saham yang terkoreksi.

Sementara itu, tingginya aktivitas pada BUMI, BBRI, BBCA, dan sejumlah saham lainnya menunjukkan likuiditas perdagangan tetap besar meski sentimen pasar sedang tertekan.

Pergerakan yen dan keputusan BOJ selanjutnya menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan arah suku bunga Jepang, daya tarik aset berbasis dolar, serta dinamika arus modal global.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.