Sejumlah saham berkapitalisasi besar maupun saham yang aktif diperdagangkan melemah, sementara beberapa saham justru bertahan di zona hijau dengan kenaikan dua digit.
IHSG ditutup pada level 5.936,15, turun 157,61 poin atau 2,59 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.093,76.
Indeks sempat dibuka pada 6.109,32 dan mencapai level tertinggi 6.128,72 sebelum tekanan jual membawanya turun hingga 5.917,39.
Nilai transaksi di pasar reguler tercatat sekitar Rp12,80 triliun dengan volume 570,17 juta lot.
Sementara itu, data seluruh pasar menunjukkan nilai transaksi sekitar Rp13,61 triliun, volume 620,36 juta lot, dan frekuensi sekitar 1,87 juta kali.
Saham Konglomerasi dan BUMI Jadi Sumber Tekanan
Salah satu saham yang mengalami koreksi tajam adalah PT Petrindo Jaya Kreasi TbkSaham CUAN ditutup pada Rp655, turun Rp115 atau 14,94 persen.
Harga saham dibuka pada Rp775, volume perdagangan mencapai 7,27 juta saham dengan nilai transaksi Rp504,03 miliar.
Penurunan CUAN menjadi salah satu sorotan karena pelemahan juga terjadi pada sejumlah saham lain yang terafiliasi dengan Grup Barito.
Pada perdagangan hari yang sama, saham BREN, TPIA, BRPT, dan PTRO turut mengalami koreksi. Tekanan serentak terhadap saham-saham tersebut ikut membebani pergerakan IHSG.
Saham PT Bumi Resources Tbkjuga berakhir di zona merah. BUMI ditutup pada Rp165, turun Rp15 atau 8,33 persen.
Saham ini dibuka pada Rp182, sempat mencapai level tertinggi Rp182, lalu menyentuh Rp164 sebagai level terendah. Nilai transaksinya mencapai Rp519,58 miliar dengan volume 30,23 juta saham.
Tekanan terhadap BUMI dan CUAN memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada satu kelompok saham.
Saham PT Bank Central Asia Tbkpun terkoreksi 1,65 persen ke Rp5.950, meskipun penurunannya lebih terbatas dibandingkan kedua saham tersebut.
BBCA dibuka pada Rp6.050 dan sempat menyentuh Rp6.100 sebelum ditutup di level terendah hariannya, yakni Rp5.950. Nilai transaksi saham ini tercatat Rp586,44 miliar.
Dari sisi aliran dana, di sesi pertama perdagangan hari ini, investor asing membukukan penjualan bersih Rp166,22 miliar di seluruh pasar. BUMI menjadi salah satu sasaran utama penjualan bersih asing, disusul BBCA.
DOOH, VIVA, dan STRK Bertahan di Zona Hijau
Di tengah koreksi pasar, saham PT Era Media Sejahtera Tbkjustru bergerak berlawanan arah. DOOH ditutup pada Rp304, naik Rp34 atau 12,59 persen.
Saham ini dibuka pada Rp272 dan sempat menyentuh Rp328. Nilai transaksi mencapai Rp169,38 miliar dengan volume 5,49 juta saham.
Pergerakan DOOH berlangsung di tengah kabar transaksi pengalihan 545 juta saham oleh PT Prambanan Investasi Sukses kepada PT Beruntung Berkat Sejahtera.
Transaksi tersebut dilakukan pada harga Rp330 per saham dengan nilai sekitar Rp179,85 miliar.
Saham PT Visi Media Asia Tbkjuga menguat 12,50 persen ke Rp45. Harga saham ini dibuka pada Rp45 dan sempat menyentuh Rp52, dengan nilai transaksi Rp32,98 miliar.
Sementara itu, saham STRK ditutup naik 10,84 persen ke Rp92, setelah dibuka pada Rp87 dan bergerak dalam rentang Rp86–Rp101. Nilai transaksinya mencapai Rp36,98 miliar.
Penguatan saham-saham tersebut menunjukkan bahwa koreksi IHSG tidak membuat seluruh saham bergerak seragam.
Secara keseluruhan, perdagangan 12 Oktober memperlihatkan dominasi tekanan jual, terutama pada CUAN dan BUMI, sementara BBCA mengalami koreksi yang lebih terbatas.
Penguatan DOOH, VIVA, dan STRK menjadi pengecualian di tengah pelemahan pasar.
Pergerakan berikutnya akan bergantung pada kemampuan IHSG bertahan setelah menembus level psikologis 6.000, perkembangan sentimen global, serta perubahan aliran dana investor.
Pelaku pasar juga perlu mencermati apakah tekanan jual berlanjut atau mulai mereda pada perdagangan berikutnya.
Saham Pantauan Sepekan ke Depan
Merespons dinamika pasar tersebut, PT Indo Premier Sekuritas mencatat sejumlah saham dan instrumen investasi yang menarik dipantau investor sepanjang pekan ini:
PT Merdeka Gold Resources Tbk
Secara teknikal, pergerakan saham EMAS menunjukkan potensi penguatan lanjutan setelah berhasil bergerak di atas MA5 hingga MA50.
Indikator Trade Flow juga mengindikasikan adanya akumulasi dari Smart Money dan investor asing yang memperkuat sinyal positif.
Investor dapat mencermati peluang masuk pada rentang harga 7.950–8.075. Harga diprediksi naik sampai level 8.700, sementara tingkat batasan koreksi atau turunnya diperkirakan sampai level 7.625.
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
Secara teknikal, ICBP mengonfirmasi sinyal rebound dengan membentuk pola Candle Bullish Marubozu. Tren jangka pendek diperkuat seiring posisi harga yang kembali bergerak di atas area MA5 hingga MA20.
Pembelian diperkirakan bisa masuk di harga 6.950. Harga diprediksi naik sampai level 7.400, dan risiko penurunan diproyeksikan sampai level 6.825.
PT Bank Tabungan NegaraTbk
Secara teknikal, pergerakan saham BBTN menunjukkan potensi pembalikan arahdari area batas bawahyang cukup kuat di level 1.050. Sinyal awal pembalikan arah ini didukung oleh indikator MACD yang mulai membentuk pola Golden Cross.
Selain itu, Trade Flow menunjukkan adanya akumulasi Smart Money sebesar +16,8 miliar secara kumulatif. Investor diperkirakan bisa masuk di harga 1.070, dengan proyeksi harga naik sampai 1.120 dan potensi turunnya sampai 1.050.
Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia
XGLD menawarkan alternatif investasi yang efisien bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di Bursa, tanpa perlu membeli dan menyimpan emas fisik secara langsung.
Dengan karakteristik yang sesuai prinsip syariah, XGLD dapat menjadi pilihan diversifikasi portofolio sekaligus sarana untuk memanfaatkan potensi emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian dan volatilitas pasar.
Investor dapat melakukan transaksi unit penyertaan XGLD melalui aplikasi IPOT layaknya ETF pada umumnya, sehingga memberikan fleksibilitas dan kemudahan dalam mengakses aset emas.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.