PGEO Bor Lima Sumur Panas Bumi, Bidik Tambahan Kapasitas 55 MW

Kejar Target Satu GW, PGEO Mulai Bor Sumur Kedua PLTP Lumut Balai Unit TigaPGEO Percepat Dua Proyek PLTP, Terima Mandat Eksplorasi 77 MWe di Sumbar

Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat mengatakan, peningkatan pendapatan tersebut ditopang oleh pertumbuhan produksi dan meningkatnya keandalan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang dikelola perseroan.

“Naiknya pendapatan ditopang pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, serta keuntungan selisih kurs yang positif,” ujar Fransetya.

Perbaikan juga terlihat dari struktur neraca. Ekuitas PGEO tercatat sebesar USD2,006 miliar.

Sementara itu, total liabilitas turun 2,80 persen dibandingkan posisi akhir 2025 menjadi USD961,18 juta.

Dari sisi operasional, produksi listrik perseroan hingga Juli 2026 mencapai sekitar 3.222 gigawatt hourAngka tersebut meningkat 12,7 persen dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2.859 GWh dan menjadi produksi tertinggi yang dicatatkan perseroan.

Bagaimana dengan Pertumbuhan Produksi Perusahaan?

Pertumbuhan produksi terjadi di seluruh wilayah operasi PGEO. Lumut Balai, misalnya, mencatat kenaikan paling tinggi sebesar 85,5 persen menjadi 567 GWh setelah Unit 2 beroperasi penuh sejak Juni 2025.

Kamojang menghasilkan 1.113 GWh atau tumbuh 6,3 persen. Sementara produksi Karaha meningkat 22,7 persen menjadi 75 GWh, sedangkan Ulubelu naik 1,8 persen menjadi 953 GWh.

Lahendong juga mencatat pertumbuhan 1 persen menjadi 514 GWh.

Untuk keseluruhan 2026, PGEO menargetkan produksi listrik mencapai 5.255 GWh. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi produksi 5.095 GWh sepanjang 2025.

Perseroan juga melanjutkan ekspansi kapasitas pembangkit melalui pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4, masing-masing berkapasitas 55 megawatt

Kedua proyek tersebut telah masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas. Status tersebut membuka potensi akses pembiayaan pinjaman luar negeri sebesar USD158,86 juta untuk Lumut Balai Unit 3 dan USD148,97 juta untuk Unit 4.

Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan, penguatan operasional dan pengembangan proyek baru menjadi bagian dari strategi pertumbuhan perusahaan.

Menurut dia, pengembangan pembangkit panas bumi diarahkan untuk mendukung pasokan listrik yang bersih sekaligus stabil dan andal.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.