Selama satu pekan perdagangan, saham UDNG terperosok hingga 38,97 persen ke level Rp595,00 per lembar saham.
Tekanan pada saham UDNG diperberat oleh aksi lepas saham harian sebesar 9,85 persen pada perdagangan terakhir, membawa nilai kapitalisasi pasarnya tersisa Rp1,04 triliun.
Secara akumulatif sejak awal tahun, imbal hasil saham UDNG telah anjlok dalam hingga 88,56 persen.
Mengekor di posisi kedua, emiten pemilik dan pengelola jaringan rooftop bar serta restoran Lucy in the Sky, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk, mencatatkan penurunan harga saham sebesar 33,68 persen dalam sepekan ke level Rp388,00 per lembar saham.
Pada penutupan perdagangan harian terakhir, saham LUCY tergerus 9,77 persen dengan total nilai kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp587,73 miliar dan kinerja YTD minus 26,79 persen.
Koreksi Saham Karoseri, Properti, dan Ekosistem Digital
Sektor manufaktur otomotif turut tertekan melalui emiten produsen karoseri kendaraan niaga dan trailer, PT Harapan Duta Pertiwi TbkHarga saham HOPE terperosok 25,00 persen dalam sepekan hingga parkir di harga Rp204,00 per lembar saham.
Pergerakan harian terakhir menunjukkan saham HOPE melemah 4,67 persen, dengan nilai kapitalisasi pasar perseroan berada di posisi Rp434,59 miliar, meskipun secara YTD masih mengantongi kenaikan 45,71 persen.
Di peringkat keempat, emiten properti PT Olympus Strategic Indonesia Tbk, yang sebelumnya bernama PT Surya Permata Andalan Tbk, mencatatkan penurunan harga mingguan sebesar 18,58 persen ke level Rp1.030,00 per lembar saham.
Kendati saham NATO berhasil menguat tipis 0,98 persen pada perdagangan harian terakhir dan masih membukukan lonjakan YTD hingga 225,95 persen, kapitalisasi pasarnya tergerus menjadi Rp8,24 triliun.
Sementara itu, emiten holding investasi berbasis ekosistem aset keuangan digital dan kripto, PT Indokripto Koin Semesta Tbk, menempati posisi kelima. Saham COIN tertekan 15,38 persen dalam sepekan ke level Rp715,00 per lembar saham.
Penurunan harian sebesar 5,92 persen turut menahan nilai kapitalisasi pasar COIN di angka Rp10,51 triliun, dengan kinerja YTD anjlok 81,57 persen.
Tekanan di Sektor Teknologi dan E-Commerce
Gelombang pelemahan mingguan juga meluas ke sektor teknologi.
Emiten holding venture builder pembuat startup digital, PT Wira Global Solusi Tbk, membukukan koreksi harga saham sebesar 15,00 persen dalam sepekan ke level Rp136,00 per lembar saham.
Pada penutupan perdagangan harian terakhir, saham WGSH terkikis 3,55 persen dengan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp283,56 miliar dan imbal hasil YTD melorot tipis 0,73 persen.
Di posisi ketujuh, raksasa e-commerce pengelola platform Blibli dari Grup Djarum, PT Global Digital Niaga Tbk, mencatatkan penurunan harga saham mingguan sebesar 14,94 persen ke level Rp296,00 per lembar saham.
Saham BELI tergerus 2,63 persen pada perdagangan harian terakhir, dengan total kapitalisasi pasar mencapai Rp40,61 triliun, nilai kapitalisasi pasar terbesar di kelompok top losers ini, dan imbal hasil YTD terkoreksi 39,84 persen.
Sektor Perfilman, Alat Kesehatan, dan Konsumsi Turut Melorot
Emiten rumah produksi dan perfilman utama nasional, PT MD Entertainment Tbk, berada di peringkat kedelapan daftar saham terpuruk sepekan. Saham FILM terkoreksi 13,83 persen dalam satu minggu perdagangan ke posisi Rp810,00 per lembar saham.
Meski sempat menguat tipis 0,62 persen secara harian, performa saham FILM sepanjang tahun berjalan menjadi yang paling dalam penurunannya di kelompok ini, yakni ambrol 94,41 persen dengan nilai kapitalisasi pasar tersisa Rp8,81 triliun.
Selanjutnya, emiten manufaktur dan distribusi alat kesehatan pemilik merek OneMed, PT Jayamas Medica Industri Tbk, mencatatkan penurunan harga saham sebesar 13,71 persen dalam sepekan ke posisi Rp214,00 per lembar saham.
Saham OMED bergerak stagnanpada perdagangan harian terakhir, membawa nilai kapitalisasi pasarnya menjadi Rp5,79 triliun, dengan imbal hasil YTD yang masih bertahan positif di level 3,88 persen.
Menutup jajaran 10 emiten dengan penurunan harga terdalam sepekan, produsen makanan dan minuman pencuci mulutpemilik merek INACO yang melantai di BEI pada 7 Juli 2026, PT Niramas Utama Tbk, terkoreksi 13,45 persen dalam sepekan ke level Rp515,00 per lembar saham.
Saham JELI ditutup melemah 2,83 persen pada perdagangan harian terakhir, sehingga nilai kapitalisasi pasarnya berada pada posisi Rp651,99 miliar.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.